Posted on 31 Juli 2008 by Ruhcitra
Kutipan dari buku “Sukses Alumni Dempo” (1996)
“Ketika saya mendapat tugas belajar di Sekolah Tinggi Teknik di Aachen Jerman (sesekolah dan sezaman dengan B.J. Habibie yang belajar Ilmu Konstruksi Ringan alias Pesawat Terbang), dalam formulir resmi saya harus mengisi: saya tamatan SMA mana, persis namanya dan tahunnya. Langsung saya diterima tanpa ujian masuk. Ternyata intel Jerman [...]
DIarsipkan di bawah: Citra Dempo | Ditandai: Dempoer, kesan dan pesan alumni | Leave a Comment »
Posted on 31 Juli 2008 by Ruhcitra
St.Albertus dilahirkan pada tahun 1250 di Kerajaan Sicilia, tepatnya di kota Trapani dari pasangan suami-istri bernama Benedictus de’Abbati dan Joana de Salzi setelah mereka berdua menikah selama 26 tahun tanpa anak. Selama itu mereka memohon kemurahan Tuhan, khususnya dengan bantuan Bunda Maria, agar mereka dikaruniai anak. Mereka bahkan berjanji akan mempersembahkannya kembali kepada Tuhan jika [...]
DIarsipkan di bawah: Citra Dempo | Ditandai: riwayat hidup St.Albertus a Trapani, Sicilia | 1 Komentar »
Posted on 31 Juli 2008 by Ruhcitra
Kenyataan mengandung makna waktu. Manusia serba fana, berada dalam lingkup waktu, dan demikian pula segala yang ada. Segala sesuatu ada waktunya. Lebih kurang, beginilah waktu menjelma dalam seluruh aspek kenyataan:
DIarsipkan di bawah: Citra Serbaneka | Ditandai: makna waktu | Leave a Comment »
Posted on 31 Juli 2008 by Ruhcitra
Seandainya sekarang saya seorang guru di sekolah dan boleh memilih, saya lebih suka mengajar di Play Group atau TK. Tapi karena sudah tak leluasa lagi memanggil anak-anak balita dan baseta “Adik-adik …”, jika mengajar di SD/ SMP/ SMA, saya ingin mengampu Pendidikan Seni atau Bahasa. Mengapa? Saya suka membantu orang lain bahagia, sejahtera. Lebih [...]
DIarsipkan di bawah: Citra Serbaneka | Ditandai: George Berkeley, Giambatista Vico, guru, kurikulum, paket pembelajaran, Rene Descartes, ujian | Leave a Comment »
Posted on 31 Juli 2008 by Ruhcitra
Orang bilang, korupsi di Indonesia sudah membudaya. Mohammad Hatta, misalnya, pernah mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari kebudayaan kita. Mau korupsi, tidak malu. Malu korupsi, tidak mau. Upaya pemberantasan gencar dilakukan. Banyak koruptor sudah ditangkap, diadili, dipenjarakan. Mampukah berbagai contoh hasil upaya kreatif dan selektif itu memberikan efek jera? Tampaknya tidak. Sekurang-kurangnya, belum.
DIarsipkan di bawah: Citra Serbaneka | Ditandai: indeks persepsi korupsi, Inpres No.5 Tahun 2004, kebudayaan, korupsi, malu, tingkat kejujuran lembaga publik | Leave a Comment »