Raden Ngabehi (R.Ng.) Ranggawarsita (1802-1873) bernama asli Bagus Burham. Ia putra dari Mas Pajangswara dan cucu Yasadipura II, pujangga besar Kasunanan Surakarta. Ayahnya keturunan Kesultanan Pajang, sedangkan ibunya dari Kesultanan Demak. Sewaktu muda, Bagus Burham terkenal nakal dan gemar berjudi. Maka ia dikirim oleh kakeknya untuk belajar agama Islam kepada Kyai Imam Besari di Pesantren Gebang Tinatar, Desa Tegalsari, Ponorogo. Pemuda nakal ini sempat kabur ke Madiun dan akhirnya kembali ke Ponorogo. Konon ia mendapatkan pencerahan di Sungai Kedungwatu dan berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji. Ketika pulang ke Surakarta, ia diangkat cucu oleh Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV) dan pada tanggal 28 Oktober 1819 diangkat menjadi Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom.
Pada masa pemerintahan Pakubuwana V (1820-1823), karir Burham tersendat. Konon karena sang raja tidak menyukai Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burham dinaikkan. Pada tanggal 9 November 1821, Burham menikah dengan Raden Ayu Gombak dan mengikuti mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Namun ia merasa jenuh dan kemudian berkelana ke Bali bersama pengasuhnya yang setia, Ki Tanujoyo. Di pulau Bali ia sempat mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.
Bagus Burham diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar R.Ng. Ranggawarsita, menggantikan ayahnya – Mas Pajangswara – yang meninggal di penjara pada tahun 1830. Konon, Mas Pajangswara, Jurutulis Keraton Surakarta semasa Pakubuwana VI, mengalami penyiksaan Belanda hingga wafat karena tidak mau membocorkan hubungan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara. Meskipun demikian, pada tahun 1830 Pakubuwana VI tetap dibuang ke Ambon karena Belanda meyakininya sebagai pendukung Pangeran Dipanegara.
Kemudian setelah Yasadipura II wafat, Ranggawarsita diangkat sebagai Pujangga Keraton Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845. Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian. Naskah-naskah babad karangannya cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia juga dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Ranggawarsita bersahabat dengan seorang Indo bernama C.F. Winter, Sr. yang sekaligus adalah muridnya. Meskipun demikian ia terus diawasi oleh Belanda: dianggap jurnalis yang berbahaya karena tulisan-tulisannya. Suasana kerja yang tegang menyebabkan Ranggawarsita meletakkan jabatannya sebagai redaksi surat kabar “Bramartani” pada tahun 1870. Raja pada saat itu, Pakubuwana IX, juga tidak menyukai Ranggawarsita karena ia adalah anak Mas Pajangswara yang dianggapnya sebagai penyebar fitnah hingga Belanda membuang Pakubuwana VI ke Ambon. Mengenai hal ini, seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito berpendapat bahwa isi Serat Kalatidha antara lain adalah ungkapan kekesalan hati Ranggawarsita pada masa pemerintahan Pakubuwana IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi.
Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius pada tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabda Jati. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya. Penulis yang berpendapat demikian antara lain Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979). Pendapat tersebut dibantah pihak Keraton Surakarta yang berpendapat bahwa Ranggawarsita adalah peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri. Ia dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ranggawarsita
Beberapa karya R.Ng. Ranggawarsita yang meramalkan masa depan dengan keindahan bahasa dan lagunya terasa masih relevan sebagai cermin masa kini, juga sering dikutip banyak orang di sana-sini. Jika berminat, silakan klik judul yang diminati untuk mengunduh teks lengkap serat Sabda Tama dan tiga serat yang dipetik dari Jangka Ranggawarsita karangan R.Rg. Sastrasadarga:
- Sabda Pranawa (Syair yang mencerahkan jiwa), dilengkapi keterangan oleh pengarang, format PDF, lima halaman A4;
- Jakalodhang, kendati berdasarkan sangkalanya isi ramalan telah terpenuhi sebagaimana diterangkan pula oleh R.Rg. Sastrasadarga – wedharan pengarang tidak saya kutip/ sertakan di sini – isinya masih relevan hingga kini, dilengkapi dengan suplemen (bagian serat yang ditemukan kemudian), format PDF, tiga halaman A4; dan
- Kalatidha (Zaman Edan), dilengkapi Kalatidha Wali – Rasa petikan R. Tanoyo, format PDF, empat halaman A4.
DIarsipkan di bawah: Citra Ngelmu | Ditandai: Jakalodhang, jangka, Kalatidha, pujangga, ramalan, Ranggawarsita, Sabda Jati, Sabda Pranawa, Sabda Tama, zaman edan



Di Karanganom – Klaten, terdapat makam KRT Yosodipuro, sayangnya tidak tertulis Yosodipuro I atau Yosodipuro II atau Yosodipuro yang mana. Bisakah Bapak Penyunting blog ini memberi penjelasan tentang makam tersebut? Trimakasih.