Namaku Yayuk. Setidaknya begitulah aku biasa dipanggil. Benar-benar hanya Yayuk. Bukan kependekan dari Rahayu, seperti nama orang lain yang kutahu juga sering dipanggil Ayu atau Yayuk. Aku anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahku seorang sopir mikrolet. Beliau jarang ada di rumah. Konon istrinya bukan hanya ibuku, yang memberinya lima anak lelaki dan dua perempuan.
Ibuku seorang buruh cuci keliling di kampungku. Kelima adik lelakiku kelak berturut-turut juga jadi sopir, dan satu-satunya adik perempuanku bersuami seorang sopir. Aku tak tamat SD. Satu-satunya yang tamat SMP hanya adik perempuanku. Yang lain berhenti sekolah karena orangtua kami tak mampu membiayai. Saat berhentinya selalu sama. Menunggak sekian bulan. Kemudian pihak sekolah memanggil orangtua kami dan mereka tak pernah datang. Akhirnya, kalau bukan ayah pastilah ibu yang mengatakan: “Nak, kami tak bisa membiayai sekolahmu lagi.”
Umurku masih 16 tahun ketika hamil anak pertamaku. Perempuan. Ayahnya adalah seorang peserta lomba karaoke perayaan tujuhbelasan yang hampir setiap tahun sekali diadakan di lapangan dekat rumah orangtuaku. Namanya Budi. Asalnya dari kampung lain. Tapi sejak berkenalan denganku, dia sering datang. Katanya, hobinya menyanyi dan sering ikut lomba karaoke di kampungnya sendiri maupun kampung-kampung lain. Meskipun tak pernah menang, Budi selalu bersemangat setiap kali ada lomba karaoke.
Begitulah saat itu, untuk pertama kalinya Budi menjadi peserta lomba di kampungku. Dia meminta izin untuk berganti pakaian di rumahku. Aku mempersilakan dia masuk ke bilikku. Ibu dan adik-adikku sudah lebih dulu ke lapangan.
“Namamu siapa, Dik?” tanyanya dari dalam kamar. Aku menunggunya di balik korden di depan ambang kamarku.
“Yayuk,” sahutku.
“Kamu cantik lho, Yuk!” katanya.
Aku tersenyum girang. Wajahku terasa panas. Pujian seperti itu bukan yang pertama kali kudengar langsung setelah aku akil balik. Tapi, pujian Budi terasa istimewa.
“Nama Sampeyan siapa?” aku balas menanyakan namanya.
“Budi,” sahutnya. “Kamu punya peniti, Yuk?”
“Apa?”
“Peniti.”
“Ada. Tapi kupakai sendiri,” sahutku sambil meraba peniti yang membuat celana panjang yang kukenakan saat itu tidak merosot dari pinggangku.
“Tak boleh kupinjam?”
“Boleh. Tapi nanti aku pakai apa?”
“Mana? Coba kulihat!”
Aku masuk. Dan mukaku terasa sangat panas melihat Budi hanya bercelana dalam, duduk di atas kasur lusuhku sambil memegang celana panjang hitam.
“Celana ini kupinjam dari seorang teman. Agak kebesaran. Padahal aku tidak membawa ikat pinggang. Tidak lucu kalau nanti melorot di panggung,” katanya. “Mana penitinya?”
Aku menunjukkan peniti di pinggangku. Dan dia melepaskan peniti itu dari celanaku, lalu mengenakan celana di tangannya.
“Tolong pasangkan di belakang, Yuk,” perintahnya. Aku menurut. Peniti itu kukaitkan di antara dua sisi yang dijepit jarinya. Pada saat itulah celanaku sendiri merosot, dan dia tertawa melihat bagian bawah tubuhku yang tak tertutup hingga pergelangan kakiku.
“Pakailah celana lain. Atau rok. Doakan aku supaya kali ini bisa menang ya!” katanya. Disambarnya kemeja batik lengan panjang di atas kasurku dan dikenakannya. Aku malu hingga tanganku gemetar memegang bagian pinggang celanaku agar tak melorot lagi.
“Nanti kalau sudah selesai, penitimu akan kukembalikan. Titip tasku di sini ya?” katanya lagi dan meninggalkanku sendiri. Dia langsung ke lapangan.
Aku menonton penampilannya dari dekat tangga naik ke panggung. Setelah turun diajaknya aku kembali ke rumah karena katanya dia harus berganti pakaiannya sendiri supaya tak perlu mencuci pakaian yang dipinjamnya. Budi yakin takkan disebut sebagai pemenang. Katanya, saingannya terlalu banyak dan selalu mengalahkannya dalam lomba-lomba sebelumnya. Tapi bagiku, dia lumayan.
Setelah mengganti pakaiannya lagi di bilikku, penitiku dikembalikannya dengan ucapan terima kasih. Aku hanya mengangguk. Tak berani menatapnya. Dan aku gemetar ketakutan tanpa perlawanan ketika dia memeluk dan menciumi wajahku, kemudian menangkap mulutku.
Aku tak tahu persis apa yang terjadi. Yang jelas, Budi melepaskan pakaiannya lagi setelah pakaianku juga ditanggalkannya. Perih yang kurasakan setelah dia menindihku dihiburnya dengan pujian dan selembar uang sepuluh ribuan.
Begitulah awalnya. Semua berlangsung dalam hitungan menit. Sekejap saja. Tapi hari-hari berikutnya, seperti dikatakan Budi, aku adalah pacarnya. Aku sering diajaknya naik sepedamotornya berkeliling kota. Kalau kami pulang dan ibuku belum tidur, kadang-kadang dia minta izin menginap, tidur di kursi panjang di ruang tamu. Ibuku selalu mengizinkan. Kalau beliau sudah tidur di biliknya sendiri di dekat dapur, Budi akan mengendap-endap menyingkap korden bilikku, menyingkap sarungku, dan menindih tubuh telanjangku. Selalu begitu.
Aku hamil. Orangtuaku meminta Budi menikahiku. Untuk biayanya, Budi menjual sepedamotor yang menjadi sumber nafkahnya sebagai tukang ojek. Berturut-turut lahirlah anak-anak kami. Tiga perempuan dan satu lelaki. Kami tinggal di rumah orangtuaku. Budi bekerja serabutan. Apa pun. Katanya, yang penting dapat uang. Aku menggantikan ibuku bekerja sebagai buruh cuci keliling, setelah beliau sering sakit-sakitan. Semakin besar, adik-adik lelakiku jarang di rumah. Satu-satunya adik perempuanku juga segera kawin dan ikut ke rumah orangtua suaminya.
Seorang tetanggaku, yang sering kubantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan imbalan uang, makanan, dan kadang-kadang juga pakaian bekasnya, suatu hari mengajakku ke Puskesmas. Katanya, aku harus pasang spiral supaya tidak hamil terus. Aku menurut dan berjanji akan membayar ongkosnya dengan gajiku. Tapi tetanggaku itu, seorang guru, menolak. Katanya, spiral itu gratis. Begitu juga pakaian untukku dan anak-anakku. Kadang-kadang dibelikannya baru. Anakku yang pertama disekolahkannya. Begitu pula adik-adiknya.
Tapi, keluargaku tetap berkekurangan. Ibuku makin sering sakit. Dan akhirnya meninggal. Sementara itu, keinginan Budi untuk memiliki sepedamotor lagi untuk mengojek belum juga terpenuhi. Sisa uang yang kutabung selalu habis di meja judi. Kalau bukan ayah atau adik-adik lelakiku, Budilah yang memintanya. Bergantian. Aku tak kuasa menolak. Ayah agak sering datang setelah ibu meninggal. Rumah sering didatangi teman-temannya yang merasa aman berjudi di rumah kami. Di gang sempit, dan sebagian besar penghuninya pun gemar berjudi. Juga adik-adik lelakiku dan suamiku.
Akhirnya aku pun tidak tahan. Aku mendaftarkan diri untuk bisa bekerja di luar negeri. Konon, gajinya besar. Kalau diterima, mungkin aku akan bisa menyekolahkan anak-anakku supaya nasib mereka lebih baik daripada aku.
Tak banyak yang kumengerti tentang keberangkatanku sebagai pembantu rumah tangga ke Hongkong. Yang kutahu adalah bekerja. Mengurus rumah tangga. Dan dibayar. Untunglah majikanku baik. Sebulan sekali aku diizinkan menggunakan telepon untuk menghubungi Bu Guru, bekas majikanku di kampung. Beliaulah yang menjadi perantaraku untuk bisa mengetahui kabar keluargaku.
Beberapa kali aku mengirimkan uang untuk Budi. Buat beli sepedamotor. Buat biaya sekolah anak-anak kami. Aku bangga ketika Budi mengatakan sudah punya sepedamotor bagus dan baru yang dibelinya dengan uang kirimanku. Anak-anak juga tetap bersekolah. Berita seperti itu membuatku semakin rajin bekerja dan menyenangkan majikanku. Hingga suatu hari, tuan menyuruhku masuk kamarnya ketika istrinya sedang pergi. Aku harus melayani keinginannya. Dan itu lalu menjadi kebiasaan yang menurutku tidak apa-apa. Darinya aku dapat uang tambahan yang cukup banyak, dan tiap kali makin banyak jika pelayananku memuaskannya.
Apalagi aku masih tergolong muda. Aku juga rajin berdandan. Bacaan tuan juga jadi bacaanku. Banyak hal baru kupelajari. Selain Mandarin, aku juga bisa sedikit berbahasa Inggris. Majikanku senang karena akhirnya aku bisa diserahi mengurus salah satu depot mie mereka.
Tampaknya nyonya tahu hubungan suaminya denganku, tapi membiarkan. Mungkin dia pikir lebih baik suaminya memakai aku ketimbang pergi ke tempat pelacuran yang mahal dan berisiko tertular penyakit kelamin. Dia tahu aku tidak menuntut lebih daripada yang sudah mereka berikan kepadaku. Dalam hati kecilku pun, setiap kali bersama tuan, aku merasa tubuhku dan keperempuananku terhibur. Aku toh takkan hamil. Tak seorang pun akan tahu jika kontrak kerjaku habis dan harus pulang kampung.
Setelah tiga tahun di Hongkong, aku pulang. Tak seperti saat berangkat, kepulanganku ini sebagai Yayuk yang berpakaian bagus. Ada beberapa gelang di lengan kiri, arloji hadiah dari nyonya di lengan kanan dan cincin emas di jariku. Juga kalung di leherku dan sejumlah uang di tasku. Kurelakan beberapa dollar untuk para petugas di bandara agar urusan lekas beres. Saat itu dollar sangat tinggi nilai tukarnya. Maka aku bisa lekas naik taksi pulang ke rumah. Rasanya tak tertahankan lagi kerinduanku pada anak-anakku.
Rumah menjadi sedikit lebih bagus daripada sebelumnya. Budi sudah jadi tukang ojek dengan sepedamotor milik sendiri lagi. Anak-anak senang menerima banyak oleh-oleh dariku. Para tetangga datang dan aku menjamu mereka dengan aneka makanan yang kupelajari cara memasaknya di Hongkong. Tak lupa kuberikan cinderamata yang bagus untuk Bu Guru yang sudah pindah ke rumahnya yang baru, agak jauh dari rumahku. Beliau tertawa ketika menggelar oleh-olehku. Gaun tidur sutra dan sebuah buku berbahasa Inggris yang isinya memusingkan kepalaku. Buku tentang emansipasi perempuan, yang judulnya sering didiskusikan di depot mie tempat kerjaku oleh beberapa tamu sebelum aku pulang.
Tapi kegembiraanku tak berlangsung lama. Ternyata Budi sudah punya simpanan. Konon bahkan sudah menikah siri dan punya anak pula. Dua anakku terbesar berhenti sekolah. Dan uang yang kubawa pulang tak cukup untuk melunasi semuanya setelah ayah dan adik-adikku mengambil bagian mereka dengan membuka sendiri dompet, tas bahkan koperku. Anak-anakku pun tak ada yang menghiraukan kehadiranku. Mereka sibuk sendiri, masing-masing memamerkan oleh-olehku kepada teman-teman sebaya mereka. Kerinduanku yang meluap-luap tak berbalas. Aku merasa terasing di rumahku sendiri.
Maka aku ingin segera kembali ke Hongkong atau entah ke mana saja. Aku pun mendaftar lagi ke agen yang dulu memberangkatkan aku ke Hongkong. Tapi pengurusnya sudah ganti. Aku disuruh menunggu di asrama, agar tidak sulit menghubungiku jika sudah ada calon majikan yang membutuhkan pembantu berkualifikasi sepertiku.
Seminggu. Sebulan. Tiga bulan. Tak pernah ada yang ingin tahu kabarku. Dua kali pulang, kudapati rumahku terkunci dari luar. Belum ada tanda-tanda aku akan diberangkatkan. Dari agen aku mengetahui kabar tentang mantan majikanku di Hongkong. Nyonya sudah mendapatkan pembantu baru. Sekaligus dua orang. Suaminya menghilang seminggu setelah aku pulang.
Aku sedang membersihkan halaman asrama ketika sebuah mobil bagus melintasi pintu gerbang. Dari pintu belakang kirinya keluarlah seorang lelaki tua yang sangat kukenal. Tuan. Aku bergegas menghampirinya, hendak menyalami dan menanyakan kabarnya. Tetapi, dia yang melihatku berlari mendekatinya, berlari pula menyongsongku, memelukku, menciumiku.
“Yayuk, aku tidak bisa hidup tanpamu!” katanya.
Aku diajaknya pergi ke Surabaya. Di sana, dia punya rumah yang sangat besar di daerah elit. Katanya, dia juga sudah membeli dua ruko dengan uang tabungannya dan memiliki mayoritas saham di sebuah pabrik cat. Aku diminta menemaninya.
“Maukah kamu jadi istriku, Yayuk?”
Aku tak sanggup menjawab. Tetapi di ranjangnya yang besar di dalam rumah mewah yang katanya dia beli untukku itu aku menangis dalam pelukannya. Salahkah aku?



Tokoh Yayuk adalah perempuan pejuang yang realistik. Apa yang diperjuangkannya …pada akhirnya tidak dihargai sebagai mana mestinya oleh orang2 yang seharusnya mencintai dan dicintainya.
Saya rasa Yayuk bukan perempuan matre…. kebetulan saja yang kemudian mencintainya adalah orang kaya ….. Jadi apakah salah ? Saya rasa tidak ……