• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,964,747 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Kebersihan

Diskon 70%

Sebagai tukang ketik surat resminya, saya pernah mengingatkan Romo Sis: “Romo, bolak-balik minta sumbangan, apa yang dimintai nggak bosan?”

“Yang nyumbang mau, kok kamu yang protes. Buat saja!”, jawabnya singkat dengan senyum kemenangan yang membuat saya diam dan tersenyum pahit. Setelah itu saya tak pernah berkomentar lagi tentang hal yang sama. Toh bukan saya yang bertanggung jawab!

Ubin teraso di lantai bawah tidak memuaskan Romo Sis. Maka beliau berencana menggantinya dengan keramik. Dari mana dananya? Tidak sulit. Romo melimpahi saya dengan tugas berat: membuat surat pembelian keramik dengan permohonan diskon 70% dari perusahaan pabrikan. Permohonan itu dikabulkan. Maka saya pun menugasi diri sendiri untuk menunggu pesanan datang. Beberapa kali saya terpaksa ikut pula mengangkut kotak-kotak berat berisi keramik satu truk tronton, nyaris setiap hari selama beberapa waktu karena datangnya truk biasanya siang atau sore hari, saat semua pegawai sudah pulang. Heran, setiap kali Romo Sis baru keluar dari kamarnya setelah semuanya rapi teratur di tempat-tempat yang disediakan.

Keramik berkualitas dengan harga sangat murah itu juga terpasang di beberapa gedung gereja dan biara. Semuanya menggunakan jasa tanda tangan Romo Sis. Tetapi setahu saya beliau selalu menolak titipan untuk rumah tangga biasa. “Ora pantes,” kilahnya saat saya tanyakan mengapa permintaan si A atau si B ditolaknya.

Lantai yang putih bersih itu segera mengintensifkan pemeliharaan kebersihan sekolah. Setiap kali ada yang kotor, beliau segera memerintahkan pembersihannya. Kalau ada sampah di lorong atau di dalam kelas yang didatanginya, beliau tak segan memungutnya sendiri dan memasukkannya ke tempat sampah. Cara ini sangat efektif untuk membelajarkan cinta kebersihan kepada segenap warga sekolah.

Siswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya, yang tahu ada sampah di kelasnya tanpa tergerak membuangnya ke tempat sampah yang tersedia pastilah akan menerima hukuman bahkan denda. Seorang pegawai diberi tugas khusus memelihara kebersihan KM/WC siswa sehingga tempat keramat itu selalu bersih dan bebas bau menyengat. Ada pula guru yang diminta untuk mengawasi para siswa yang masuk ke WC putra yang ditengarai sebagai tempat escape untuk sekadar merokok.

Begitulah. Kotor sedikit, langsung bersihkan. Ada dinding bercap bola atau tangan atau kaki, cat lagi. Segera. Jangan biarkan dan tunggu hingga makin banyak. Dengan demikian, ongkos pembersihan dan pemeliharaan gedung justru dapat dihemat. Bukankah para pegawai kebersihan itu sebagian besar bekas tukang dan pembantu tukang bangunan?

Ada kaca nako pecah, siangnya harus sudah diganti. Ada talang bocor, esok harus sudah ditambal. Kalau perlu, angkat semua, ganti! Ada meja yang kotor, penghuninya harus tinggal untuk membersihkannya. Ada kursi patah, ‘penduduk’-nya harus mengganti. Tidak ada kompromi. Kalau tidak ada yang mengaku, maka siswa sekelas yang harus bertanggung jawab.

Beberapa kali beliau menerima petugas pemasaran dari perusahaan cleaning-service yang menawarkan jasa pemeliharaan kebersihan. Sebagai test-case, beliau meminta mereka membersihkan KM/WC di kantor TU. Saya yang tidak tahu, suatu saat mengritik, “Daripada memanggil pihak lain untuk membersihkan KM/WC itu, lebih baik mengajari pegawai sendiri yang sedemikian banyak agar mereka punya keterampilan membersihkan KM/WC dengan baik dan hemat. Uangnya bisa menambah kesejahteraan mereka.”

“Hus. Jangan bilang-bilang. Itu gratis. Mereka membersihkan KM/WC itu karena saya minta sebagai percobaan saja sementara penawarannya saya pelajari. Perkara nanti mau menggunakan jasa mereka atau tidak, itu soal lain!” katanya dengan mata jenaka. Wah. “Buaya dikadali”, Romo Sis juga pinter ngakali!

Ketegasan Romo Sis dalam hal kebersihan tidak bisa ditawar. Namun sarananya harus disediakan terlebih dulu. Jangan suruh murid membuang sampah ke tempat sampah kalau tempat sampahnya sudah penuh atau tidak ada. Jangan suruh murid membersihkan kelas, karena tugas mereka adalah belajar dan kebersihan kelas adalah tanggung jawab petugas yang sudah dibayar. Taman, halaman, lapangan harus bersih dan nyaman untuk beristirahat dan bermain. Biarkan mereka sejahtera, kecuali terbukti mereka bikin kotor dengan sengaja!

Sayang, kebiasaan itu tak berlanjut. Pengganti Romo Sis bisa berlenggang kangkung di antara sampah yang berserakan tanpa tergerak untuk memungut dan memasukkannya ke tempat sampah. Teladan ini tentu melemahkan pula semangat kebersihan para pegawai dan warga sekolah lainnya. Peraturan dan imbauan tak pernah efektif kalau tidak ada komitmen bersama yang dipelopori pemimpinnya. Mengajak segenap warga sekolah untuk melaksanakan kerja bakti seminggu sekali sungguh tidak berarti karena kebersihan adalah persoalan setiap hari. Lebih dari itu, kebersihan adalah soal budaya. Jadi, belajarkan dulu orangnya, maka kebersihan akan menjadi bagian kehidupannya.

Bagian bawah dinding sekolah dibuat kasar dan dicat kemerahan agar tidak mudah kotor karena kaki murid biasa mendarat di atasnya saat berdiri bersandar santai di depan kelas. Saya baca dalam rencana kerja lima tahun ke depan, kepala sekolah sekarang merencanakan pemasangan keramik pada dinding itu dengan alasan agar mudah dibersihkan. Ah, mengapa dinding yang sudah bagus sejak lama itu harus diganti keramik hingga seperti kamar mandi? Kalau dulu bukan masalah dan sekarang jadi masalah, tidakkah terlebih dulu perlu bertanya mengapa dan mengatasi penyebabnya melalui pembelajaran terhadap warga sekolah?

Kamar mandi dan wc murid pun akan dibenahi karena banyak keluhan tentang baunya. Kecuali bila konstruksinya yang salah, kiranya yang perlu ditanyakan adalah komitmen bersama tentang kebersihannya. Membenahinya hingga menjadi seperti kamar mandi dan wc sebagus hotel berbintang lima tidak akan mengubah budaya warga sekolah tentang kebersihan lingkungannya. Jangankan KM/WC murid, lihat pula keseharian KM/WC di ruang guru dan kantor TU!

Sungguh, jurus mabuk yang diperagakan di pentas pendidikan lebih berbahaya dalam jangka panjang ketimbang bau menyengat yang dibawa angin dari KM/WC Dempo!

Iklan

Romo Sis dan Siasat Dagang

“Bukan iklan, melainkan tetenger!”

“Lu jual mahal, gue tawar; lu jual murah, gue beli; lu kasih gratis, gue terima kasih!” tampaknya menjadi salah satu pedoman Romo Sis ketika harus membeli keperluan sekolah. Kalau ada yang gratis, buat apa beli? Kalau ada yang murah, mengapa beli yang mahal? Barang berkualitas tinggi tak harus mahal. Kalau memang benar-benar mahal, ya jangan ragu-ragu menawar, siapa tahu justru diberikan! Romo Sis juga punya teknik menawar yang luar biasa. Kalau tidak, tak mungkin harga mobil cukup dibayar kurang dari separuh dan keramik berdiskon 70% diperolehnya!

Sebuah pabrik rokok nasional mau menyumbang sejumlah uang dengan satu syarat, yaitu diizinkan memasang logonya pada papan pengumuman yang akan dipasangnya di dalam kompleks sekolah. Romo Sis menegosiasikan syarat itu dan kemudian menentukan tempatnya dan meminta agar setelah dua tahun, logo itu boleh dihapus. Deal. Papan pengumuman yang cantik segera terpasang, dan Romo Sis juga dapat uang. Ada yang berkeberatan? Tak ada yang berani terang-terangan.

Berlagak mewakili ‘suara rakyat’, saya mengatakan kepada Romo Sis bahwa beliau serupa Ali Sadikin yang sukses membangun Jakarta dengan uang pajak dari perjudian yang dihalalkannya. Supaya beliau tidak marah, kisah perbandingan itu harus happy ended. Para pengritik Bang Ali toh akhirnya mengakui kehebatannya. Ketimbang sembunyi-sembunyi hanya karena takut kepada polisi (entah kalau hal itu dilakukan sekarang, ketika semakin banyak bermunculan organisasi polisi preman yang bahkan bisa bikin keder polisi beneran!), lebih gentle terang-terangan dengan komitmen dan konsistensi terhadap tujuan yang baik di sebaliknya.

Dan Romo Sis memang tidak peduli akan komentar miring asal tujuannya pun baik, tulus, tidak asbun dan tanpa alternatif. Pada kenyataannya, logo dan nama perusahaan rokok itu hanya memberitahukan bahwa papan pengumuman itu adalah sumbangan dan tidak serta merta mengesankan sebuah ajakan bagi para warga sekolah untuk merokok. Toh tidak ada gambar rokok atau perokoknya. Dan sebagai perokok pun saya tidak berganti merk karena gambar itu. Pendek kata, saya menganjurkan agar Romo Sis menjawab kritik itu begini: “Itu bukan iklan, melainkan tanda bahwa papan pengumuman itu adalah sumbangan dari sebuah perusahaan rokok. Mana yang lebih baik, perusahaan itu menyumbang papan pengumuman sebagus itu atau satu truk rokok atau sejumlah uang dengan keharusan ini-itu?”

Saya tidak tahu apakah anjuran itu pernah beliau gunakan atau tidak. Bayangkan kalau setiap komentar orang lain dimasukkan dalam hati, maka setiap langkah maju akan sering terhenti. Padahal, yang berkomentar belum tentu masih ingat isi komentarnya lagi setelah beberapa saat mengetahui atau mengalami sendiri kebaikan yang semula dianggapnya buruk.

Belum dua tahun berlalu, saya sudah diminta Romo Sis untuk menghapus logo pabrik rokok di papan pengumuman itu dan menggantinya dengan dua kalimat semboyan yang tepat. Tentu saja saya memilih kalimat yang sering diucapkan Romo Sis untuk menyemangati para warga sekolah.

Perusahaan rokok yang lain bahkan meninggalkan dua arcanya di sekolah setelah mengikuti kegiatan Dempo Fair. Daripada rusak percuma, saya minta agar kedua arca dwarapala itu diletakkan mengapit teras pintu masuk. Romo Sis tidak berkeberatan. Sayang, kedua arca itu dibiarkan merana, tak pernah dicat ulang. Sementara itu, patung dada St.Albertus yang dibangun PPSK di masa lalu pun dibiarkan rusak dan kemudian ditumbangkan, apalagi setelah ada patungnya yang lebih besar dan bagus di tengah taman dalam.

Selalu begitu. Kalau sudah ada yang baru, yang lama tak lagi laku.

Romo Sis dan Rekayasa

Pangkat tak penting!

 

Setiap awal tahun, saya wajib mengisi kuesioner dari Depdikbud (dulu) yang menurut Romo Sis harus direkayasa asal masuk akal dan aman. “Ndak apa-apa, toh sekolah lain juga merekayasa laporannya!” katanya tentang laporan rekayasa itu. “Buat apa mereka mau tahu keuangan sekolah? Kamu karang aja, yang penting pantas!”

Dengan komputer, rekayasa sangat mudah dilakukan. Romo Sis pun saya ajari caranya. Maksud saya adalah agar beliau sendirilah yang mengerjakannya. Tetapi, setelah meyakini kemudahan dan keberesannya, pekerjaan itu dikembalikan kepada saya dengan janji lisan yang menghibur: “Yang bertanggung jawab adalah penandatangannya!”

Meskipun demikian, saya berusaha agar rekayasa laporan ke Depdikbud itu tak pernah jauh dari kenyataan sesungguhnya, kecuali dalam hal keuangan. Beberapa item pemasukan dan pengeluaran yang ditanyakan biasanya saya jawab dengan menambahkan 10% kenaikan pertahunnya, mengikuti rata-rata kenaikan beaya pendidikan nasional, sedangkan item yang lain ditambah atau dikurangi menurut angka inflasi tahun berjalan. Saya mau melakukannya setelah menanyakan kejelasannya ke kantor Depdikbud. Hal keuangan itu sesungguhnya bersifat wajib bagi sekolah negeri karena berkaitan dengan penyusunan Rancangan Anggaran dan Belanja Sekolah (RABS) setiap sekolah. Data dari sekolah swasta terkenal seperti SMA Dempo bermanfaat sebagai pembanding. Maka, kalau saldonya terlalu besar, saya harus menguranginya dengan pengeluaran pembangunan atau pemeliharaan gedung (yang memang besar, tetapi kadang-kadang dananya tak tercatat dalam pembukuan). Demikianlah, dalam sekejap saja saya sudah jadi ahli rekayasa laporan keuangan.

Daftar nama seminaris dan anak guru selalu saya lampirkan sebagai penerima beasiswa dari sekolah. Jadi, dengan prinsip subsidiaritasnya, SMA Dempo sudah sejak lama memberikan beasiswa bagi anak-anak dari “keluarga tak mampu”.

Lain halnya dengan laporan keuangan yang berkaitan dengan PPh.Pasal 25. Kendati tak bebas rekayasa, detil pelaporannya harus mengikuti peraturan dan ‘kebiasaan’ yang berlaku: “The devil is in the details”. Nasihat seorang akuntan, bahwa sekali diperiksa petugas pajak, sekolah/ yayasan akan jadi langganan pemeriksaan saya pegang teguh.

Para pegawai (kependidikan/ nonkependidikan) Yayasan Sancta Maria sesungguhnya beruntung karena Romo Sis memerintahkan agar yang diperhitungkan dalam SPT PPh. Pasal 21 hanyalah gaji pokok. Dengan demikian, banyak di antara mereka terbebas dari kewajiban membayar pajak penghasilan karena gaji mereka di bawah angka PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Maka, kendati sudah bukan bagiannya, saya ikut bersyukur ketika PTKP dinaikkan. Demikian pula ketika tersiar kabar bahwa DPR sudah mendesak agar Pemerintah menaikkan tunjangan fungsional guru menjadi Rp 500.000,oo Ini adalah berita yang patut disyukuri (kalau jadi kenyataan) oleh para guru sekaligus peringatan dini bagi yayasan yang menjadikan PGPNS sebagai pedoman.

Yang benar-benar harus sesuai kenyataan sebenarnya adalah laporan kepada Romo Sis sendiri dan Yayasan Sancta Maria dan atau Keuskupan Malang (yang sangat jarang diminta). Proyeksi ketenagaan yang saya sampaikan sering menjadi bahan diskusi kami. Dari matrik yang saya buat, dapat diketahui apakah SMA Dempo kelebihan atau kekurangan tenaga guru/ pegawai berdasarkan patokan jam mengajar minimal atau beban pekerjaan. Selain dari usul para guru sendiri, pembagian tugas mengajar bagi guru didasarkan pada data dan kinerja tahun sebelumnya. Tetapi pada umumnya Romo Sis tidak memberikan keputusan yang berbeda jauh dari usul para guru. Sedangkan tugas para pegawai nonkependidikan – yang jumlahnya lebih banyak daripada kebutuhan sewajarnya – ternyata sering lebih merepotkan karena Romo Sis sudah terlanjur mengangkat mereka sebagai pegawai tetap. Padahal, rekrutmen tenaga kebersihan cukup dilakukan dengan kontrak kerja yang dapat diperbarui setiap tahun.

Karena kebaikan Romo Sis itu, saya juga merekayasa agar dalam laporan ketenagaan (dan kemudian benar-benar diwujudkan), semua pegawai kebersihan di SMA Dempo diberi SKP dengan pangkat terendah dan kenaik-annya diperhitungkan berdasarkan KPO juga. Padahal ijazah SD pun tak dimiliki sebagian dari mereka. Maka, beberapa orang di antara mereka yang relatif masih muda saya anjurkan untuk mengikuti ujian persamaan agar mendapatkan ijazah setara SD. Dua orang bahkan mendapatkan ijazah setara SMA. Saya setuju bahwa ijazah tak serta merta menjamin kualitas atau kualifikasi tertentu (sebelum maupun sesudah pencapaiannya), tetapi karena peraturannya begitu, maka rekayasa pun harus dilakukan. Sejauh ada upaya lain yang layak dilakukan, rekayasa justru harus dihindari supaya kelak tidak menjadi bumerang.

Setelah diputuskan bahwa Romo Albert akan menjadi Kepala SMA Katolik St.Paulus, Jember, saya pun diminta untuk merekayasa surat pengangkatannya. Dengan menganggap bahwa Romo Albert sudah menjadi guru tetap sejak awal masuknya ke SMA Dempo (ini mudah karena Romo Allbert adalah seorang Karmelit, yang serikatnya – melalui Yayasan Sancta Maria – adalah pemilik dan pengelola SMA Dempo) dan bahwa pangkatnya memenuhi syarat (ini pun mudah, karena sebagai imam saja, jenjang pendidikan S2 secara ‘lokal’ sudah dilampauinya), juga bahwa dalam masa kerja aktifnya itu Romo Albert melaksanakan tugas belajar (kenyataannya, Romo Albert memang ‘disekolahkan’ oleh Romo Sis). Demikian pula rekayasa yang saya lakukan ketika Romo Michael M. Hartomo, O.Carm. akan diangkat sebagai Kepala SMA Katolik St.Albertus dan Fr. Vianney S., O.Carm. pindah tugas dan menjabat Kepala SMP Katolik Alvares, Flores.

Sesungguhnya, tanpa rekayasa pun, pangkat Romo Albert seharusnya tidak terkunci seperti sekarang. Demikian juga berlaku pada diri Romo Michael dan Fr. Vianney (jika mereka masih dianggap sebagai ‘pegawai tetap’ Yayasan Sancta Maria). Tetapi pangkat tidaklah penting bagi mereka, serupa dengan Romo Sis yang tak pernah repot dengan pangkatnya sebagai pegawai negeri sipil. Ketika rekan-rekan seangkatannya sudah di golongan IV/a, Romo Sis pensiun di golongan III/b. Artinya, beliau (dan demikian pula penerusnya), tampaknya tidak pernah mau repot mengurus kenaikan pangkatnya karena ‘pangkat otomatis’-nya sudah sangat tinggi!

Romo Sis dan Rahasia Siswa

“Sssttt, jangan bilang-bilang!”

Suatu sore yang cerah, seorang murid Dempo datang dengan sepeda motor, masuk ke halaman sekolah dan meminta perlindungan Satpam yang bertugas saat itu. Menyusul di belakangnya seorang mahasiswa sebuah PT di Malang. Kepada Satpam yang sedang bertugas, ia mengaku mengejar murid Dempo itu untuk memberikan pelajaran kepadanya karena telah melecehkan teman perempuannya di Jalan Jakarta. Suasana menjadi sangat tegang. Merasa bahwa masalah yang dihadapkan padanya terlalu berat untuk diselesaikannya sendiri, Satpam itu meminta Romo Sis datang agar mengambil alih upaya perdamaiannya.

Murid Dempo itu mengakui kesalahannya. Dia iseng menarik kerudung penutup kepala mahasiswi yang sedang bersepeda motor di depannya. Tindakannya itu jelas sangat kurang ajar. Ia tidak sadar bahwa teman mahasiswi itu bersepeda motor pula di belakangnya. Teriakan marah mahasiswa itu lebih menakutkan ketimbang jeritan kaget korban pelecehannya. Maka ia pun mengebut dan yang diingatnya pertama kali adalah menyelamatkan diri ke sekolah.

Untunglah Romo Sis segera datang dan kemarahan si mahasiswa segera reda melihat penampilan Kepala SMA Dempo yang terkenal. Murid Dempo itu menangis meraung-raung meminta ampun sambil memeluk kaki kepala sekolahnya. Untunglah pula karena mahasiswa itu tidak bersikeras dengan tuntutan dan ancamannya setelah Romo Sis menjanjikan penyelesaian yang baik dan sepantasnya. Untunglah juga karena mahasiswa itu datang sendiri karena teman-temannya sedang sibuk menemani dan menghibur teman mereka yang menjadi korban pelecehan. Setelah pelaku yang naif itu meminta maaf dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar ketakutan, mahasiswa itu berpamitan, kemudian pergi, seolah-olah tak pernah ada masalah. Dan yang beruntung itu adalah si pelaku karena dalam kebingungan ketika dikejar, ia berbalik ke arah sekolah dan mendapatkan perlindungan yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

Tentu saja Romo Sis sangat marah. Muridnya itu telah membahayakan dirinya sendiri, sekolahnya dan bahkan – mungkin – banyak orang lain lagi. Mending kalau tindakannya itu ‘hanya’ dianggap sebagai kenakalan remaja yang biasa, keisengan yang mudah hinggap pada diri remaja laki-laki terhadap lawan jenisnya. Kalau masalahnya diperpanjanglebarluaskan, akibatnya bisa sangat merugikan. Maka, keputusan pun diambil. Orangtua murid itu harus dipanggil. Mengeluarkan murid itu dari sekolah sudah terbayang di wajah Romo Sis yang tampak geram!

Tetapi ketegaran Romo Sis luluh ketika remaja laki-laki itu berteriak-teriak memohon dengan tetap memeluk kaki Romo Sis dan tak mau melepaskannya sampai beliau mau memaafkan. Dalam sedu sedan diakuinya bahwa ia mengidap kelainan seksual karena kebiasaan aneh sejak masa kecil yang tidak pernah dikoreksi orangtuanya. Tingkah yang saat kecil dulu dianggap lucu, kini bukan hanya bikin malu, tapi juga berbahaya. “Sssttt, jangan bilang-bilang,” kata Romo Sis tanpa saya tanya. “Anak itu selalu bergairah kalau melihat …”

Romo Sis merekomendasikan seorang psikiater untuk membantu murid itu dan orangtuanya. Tetapi pasti bukan rekomendasi itu yang paling bernilai bagi mereka. Barangkali murid itu – kelas III dan beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian akhir – adalah salah satu di antara sangat sedikit yang beruntung ketika Romo Sis sudah memutuskan sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebarangan. Dia tidak jadi dikeluarkan. Saya berharap sekarang dia sudah ‘sembuh’. Selain itu, saya sangat menghargai pengertian mahasiswa itu. Seandainya bukan dia yang menyaksikan pelecehan yang dialami rekannya dan kemudian mengejar pelakunya untuk menuntut pertanggung-jawaban, akibatnya bisa lain!

Tak pernah diragukan, Romo Sis adalah pemegang rahasia nomor wahid dan apabila perlu, beliau tak lupa menularkan semangat yang sama kepada siapa pun yang setempat dan sesaat dengannya.

Suatu rembang petang, saya mencurigai dua murid berlainan jenis masuk ke WC khusus putri. Pada saat yang bersamaan, saya melihat Romo Sis akan masuk ke kantornya. Maka, saya berputar untuk memberitahu beliau tentang dua anak itu. Tanpa komentar, Romo Sis bergegas untuk memergoki mereka.

“Ndak usah lari, Romo, nanti malah jatuh!” gurau saya.

“Selak ono opo-opo, blaen!” sahutnya, tidak mengurangi lebar langkahnya. Saya lalu masuk ke kantor tata usaha dan berpura-pura tidak menghiraukan kelanjutannya. Tetapi, sesungguhnya saya memang tak mengetahui kelanjutannya karena Romo Sis tidak merasa orang lain yang tak berkepentingan perlu tahu.

Singkat cerita, malam itu juga orangtua anak-anak itu diberitahu dan dipanggil datang ke sekolah.

Saya tidak bertanya apa-apa tentang hal semacam itu karena surat pemanggilan orangtua yang diperintahkan Romo Sis biasanya adalah untuk menyelesaikan masalah yang tak perlu dirahasiakan dan dapat dijadwalkan, artinya, tak terlalu mendesak. Dalam hal yang bersifat konfidensial – kriminal dan atau kesusilaan semacam itu, Romo Sis memilih menggunakan telepon dan menyelesaikan semuanya sendiri saja, secepat-cepatnya. Antisipasi, apalagi reaksi yang terlambat dan tidak tepat tidak ada gunanya. Dan seandainya perlu, beliau hanya mengingatkan dengan caranya: “Sssttt, jangan bilang siapa-siapa!”

Saya kira, tak seorang pun berani melanggar larangan yang sesungguhnya sangat biasa terdengar di antara kumpulan orang yang gemar membicarakan urusan, apalagi keburukan orang lain. Padahal, ketika setiap orang di dalamnya sudah saling berbagi cerita yang sama, larangan semacam itu tak lagi bermakna. Sedangkan Romo Sis melakukannya bagi orang yang dikiranya tahu sedikit saja. Bagi yang merasa lebih tahu daripadanya, beliau diam seribu bahasa.

Romo Sis dan Instrukturnya

“Tak perlu jadi montir untuk bisa menyetir mobil!”

Tak banyak orang yang menyaksikan Romo Sis tertawa ngakak. Meskipun mulutnya terbuka lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi, Romo Sis jarang sekali memperdengarkan tawanya. Guncangan bahunya saja yang sering menunjukkan bahwa Romo Sis benar-benar sedang merasa geli.

Meskipun selalu tampak serius, Romo Sis kadang-kadang melontarkan joke yang bisa membuat orang lain terpingkal-pingkal, dan wajah orang yang dikerjainya merah padam dengan tingkah blingsatan karena tak berani membalas. Bagi saya ini adalah kesalahan orang pada umumnya. Romo Sis tidak keberatan ‘digarap’, bahkan ditertawakan, karena beliau sendiri juga sering mengajak pendengarnya untuk menertawakan dirinya. Masuk akallah Romo Sis yang sedemikian disegani itu kadang-kadang juga membutuhkan ‘sentuhan kekeluargaan’ berupa pemberontakan kekanak-kanakan supaya beliau juga bisa menyalurkan naluri kebapakannya.

“Kalau saya pensiun nanti, siapa yang mau saya marahi ya?” beberapa kali diucapkannya. Dari nadanya saya menangkap keinginan untuk pensiun sekaligus kekuatiran terjangkit post-power syndrome. Marah merupakan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat pada jabatannya selaku pendidik. Padahal, sebenarnya ‘marah’-nya Romo Sis jarang yang sungguh-sungguh. Sebagian besar justru sekadar akting untuk menggertak murid nakal yang harus dibantunya agar berperilaku baik dan bertanggung jawab. Kemarahannya dan ketakutan murid terhadap kesempurnaan aktingnya adalah cerita yang menyenangkannya.

Pada waktu beliau masih belajar (dan tak pernah berhenti) menggunakan komputer, saya adalah instruktur yang dibenci tetapi sekaligus dibutuhkannya. Beberapa kali saya ‘memarahi’ beliau karena sering melupakan prosedur dan teknik yang saya beritahukan. “Kamu pengajar yang tidak sistematis!” sering diucapkannya sebagai balasan kritik saya.

“Bagaimana bisa sistematis kalau Romo selalu minta serba instan, pokoknya langsung bisa begini, begitu, tapi tidak mau tertib belajar trik penggunaannya yang efektif?”

“Iya. Tapi saya ‘kan tidak perlu belajar yang tidak saya perlukan? Print saja prosedur dan triknya, nanti saya belajar sendiri!” Print-kan saja adalah instruksi andalan Romo Sis, bahkan ketika memberikan hard-copy yang jumlah halamannya sangat banyak, seolah-olah semua hal itu sudah tersedia di komputer, langsung printable di printer dengan keluaran yang rapi.

“Kalau Romo mau belajar sendiri, buat apa nyuruh saya ke sini?”

“Ya supaya kamu ngasih tahu bagaimana supaya saya bisa belajar sendiri!”

Belajar sendiri adalah pilihan Romo Sis setelah beliau memiliki komputer di kamarnya. Beliau adalah ‘siswa’ pertama yang mengundurkan diri dari kelas pelatihan penggunaan komputer yang menempatkan saya sebagai instruktur. Pelan-pelan, guru-guru yang lain mengikuti jejaknya karena berbagai alasan sehingga tinggal dua orang yang kemudian salah satunya beralih fungsi menjadi guru komputer bagi para siswa. Tujuan yang Romo Sis inginkan tercapai dan tugas saya selesai.

“Romo perlu tahu trik ini supaya tidak selalu kehilangan file dan menyulitkan orang lain yang akan membantu mengedit file Romo!” kata saya mengingatkan perlunya Romo Sis menempatkan catatan yang saya buat di tempat yang mudah diraihnya tatkala menghadapi kesulitan. Catatan itu harus benar-benar lengkap, mulai dari cara menghidupkan komputer, memilih menu, mengambil berkas, proses penyuntingan, penyimpanan, hingga mematikan komputer secara aman. Dan catatan-catatan semacam itu tak boleh saya hapus dari komputer yang saya gunakan karena Romo Sis sering memintanya lagi karena ‘hilang’ atau ada perbaikan prosedur. Penyimpanannya di dalam komputernya sendiri pun tak jarang dilupakannya. “Ndak ada!” adalah bantahan yang lazim untuk keyakinan saya bahwa saya sudah menempatkan catatan-catatan itu di dalam komputernya. Maka saya tak pernah, misalnya, menganjurkan pembuatan partisi pada hard-disk-nya. Diubah sedikit (untuk maksud lebih baik) pun akan membingungkannya.

Yang sangat jelas baginya adalah “tak perlu jadi montir untuk bisa menyetir mobil”. Debat kusir sekonyol itu juga sudah pasti menempatkan saya pada posisi kalah. Tetapi saya jadi tahu bahwa Romo Sis tak berkeberatan bertengkar dengan saya sekadar untuk menghibur dirinya sendiri. Dan suatu saat saya tidak dapat memenuhi undangannya, saya merekomendasikan orang lain yang pasti bisa lebih sabar karena takut kepada Romo Sis.

Meskipun demikian, beberapa kali Romo Sis masih meminta saya untuk datang dan membereskan kesalahan operasional yang dilakukannya.

“Komputer saya rusak, tidak bisa dihidupkan!” keluhnya suatu ketika. “Tolong dibetulkan, saya masih ada tamu,” perintahnya. Saya masuk ke kamarnya dan sekilas pandang saja sudah tahu penyebabnya. Komputer itu dalam keadaan baik-baik saja. Saya tinggalkan komputer itu dalam keadaan hidup dengan semacam screen-saver berbunyi “Kesalahan bukan pada komputer Romo” yang menari-nari di monitor. Saya membuatnya dengan BASIC, karena waktu itu semuanya masih under DOS.

“Lho kok bisa? Ndak apa-apa?” tanya Romo Sis ketika menemui saya.

“Bagaimana bisa hidup kalau kabelnya lepas?”

“Siapa yang melepas?”

“Ya ndak tahu, Romo!”

“Hapus tulisan itu dan pastikan supaya kabelnya ndak gampang terlepas lagi!”

Saya kembali ke kamar beliau untuk menghapus screen-saver itu dan mencari pegawai pembersih kamarnya, memberitahu dia agar tidak melepas kabel komputer di kamar Romo Sis.

“Dia itu doktor dan masih muda, jangan dibandingkan dengan saya, wis tuwek!” komentar Romo Sis ketika saya membandingkan kecepatan pemahaman beliau dengan seorang imam yang sempat ‘belajar’ dari saya.

“Setengah jam saja, semua beres!” kata saya.

“Ya. Kamu ajari (menyebut nama seseorang) sekarang. Setengah jam harus sudah beres!” sahutnya. Dari semuanya, Romo Sis adalah ‘siswa’ yang luar biasa lucunya.