• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Instrukturnya

“Tak perlu jadi montir untuk bisa menyetir mobil!”

Tak banyak orang yang menyaksikan Romo Sis tertawa ngakak. Meskipun mulutnya terbuka lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi, Romo Sis jarang sekali memperdengarkan tawanya. Guncangan bahunya saja yang sering menunjukkan bahwa Romo Sis benar-benar sedang merasa geli.

Meskipun selalu tampak serius, Romo Sis kadang-kadang melontarkan joke yang bisa membuat orang lain terpingkal-pingkal, dan wajah orang yang dikerjainya merah padam dengan tingkah blingsatan karena tak berani membalas. Bagi saya ini adalah kesalahan orang pada umumnya. Romo Sis tidak keberatan ‘digarap’, bahkan ditertawakan, karena beliau sendiri juga sering mengajak pendengarnya untuk menertawakan dirinya. Masuk akallah Romo Sis yang sedemikian disegani itu kadang-kadang juga membutuhkan ‘sentuhan kekeluargaan’ berupa pemberontakan kekanak-kanakan supaya beliau juga bisa menyalurkan naluri kebapakannya.

“Kalau saya pensiun nanti, siapa yang mau saya marahi ya?” beberapa kali diucapkannya. Dari nadanya saya menangkap keinginan untuk pensiun sekaligus kekuatiran terjangkit post-power syndrome. Marah merupakan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat pada jabatannya selaku pendidik. Padahal, sebenarnya ‘marah’-nya Romo Sis jarang yang sungguh-sungguh. Sebagian besar justru sekadar akting untuk menggertak murid nakal yang harus dibantunya agar berperilaku baik dan bertanggung jawab. Kemarahannya dan ketakutan murid terhadap kesempurnaan aktingnya adalah cerita yang menyenangkannya.

Pada waktu beliau masih belajar (dan tak pernah berhenti) menggunakan komputer, saya adalah instruktur yang dibenci tetapi sekaligus dibutuhkannya. Beberapa kali saya ‘memarahi’ beliau karena sering melupakan prosedur dan teknik yang saya beritahukan. “Kamu pengajar yang tidak sistematis!” sering diucapkannya sebagai balasan kritik saya.

“Bagaimana bisa sistematis kalau Romo selalu minta serba instan, pokoknya langsung bisa begini, begitu, tapi tidak mau tertib belajar trik penggunaannya yang efektif?”

“Iya. Tapi saya ‘kan tidak perlu belajar yang tidak saya perlukan? Print saja prosedur dan triknya, nanti saya belajar sendiri!” Print-kan saja adalah instruksi andalan Romo Sis, bahkan ketika memberikan hard-copy yang jumlah halamannya sangat banyak, seolah-olah semua hal itu sudah tersedia di komputer, langsung printable di printer dengan keluaran yang rapi.

“Kalau Romo mau belajar sendiri, buat apa nyuruh saya ke sini?”

“Ya supaya kamu ngasih tahu bagaimana supaya saya bisa belajar sendiri!”

Belajar sendiri adalah pilihan Romo Sis setelah beliau memiliki komputer di kamarnya. Beliau adalah ‘siswa’ pertama yang mengundurkan diri dari kelas pelatihan penggunaan komputer yang menempatkan saya sebagai instruktur. Pelan-pelan, guru-guru yang lain mengikuti jejaknya karena berbagai alasan sehingga tinggal dua orang yang kemudian salah satunya beralih fungsi menjadi guru komputer bagi para siswa. Tujuan yang Romo Sis inginkan tercapai dan tugas saya selesai.

“Romo perlu tahu trik ini supaya tidak selalu kehilangan file dan menyulitkan orang lain yang akan membantu mengedit file Romo!” kata saya mengingatkan perlunya Romo Sis menempatkan catatan yang saya buat di tempat yang mudah diraihnya tatkala menghadapi kesulitan. Catatan itu harus benar-benar lengkap, mulai dari cara menghidupkan komputer, memilih menu, mengambil berkas, proses penyuntingan, penyimpanan, hingga mematikan komputer secara aman. Dan catatan-catatan semacam itu tak boleh saya hapus dari komputer yang saya gunakan karena Romo Sis sering memintanya lagi karena ‘hilang’ atau ada perbaikan prosedur. Penyimpanannya di dalam komputernya sendiri pun tak jarang dilupakannya. “Ndak ada!” adalah bantahan yang lazim untuk keyakinan saya bahwa saya sudah menempatkan catatan-catatan itu di dalam komputernya. Maka saya tak pernah, misalnya, menganjurkan pembuatan partisi pada hard-disk-nya. Diubah sedikit (untuk maksud lebih baik) pun akan membingungkannya.

Yang sangat jelas baginya adalah “tak perlu jadi montir untuk bisa menyetir mobil”. Debat kusir sekonyol itu juga sudah pasti menempatkan saya pada posisi kalah. Tetapi saya jadi tahu bahwa Romo Sis tak berkeberatan bertengkar dengan saya sekadar untuk menghibur dirinya sendiri. Dan suatu saat saya tidak dapat memenuhi undangannya, saya merekomendasikan orang lain yang pasti bisa lebih sabar karena takut kepada Romo Sis.

Meskipun demikian, beberapa kali Romo Sis masih meminta saya untuk datang dan membereskan kesalahan operasional yang dilakukannya.

“Komputer saya rusak, tidak bisa dihidupkan!” keluhnya suatu ketika. “Tolong dibetulkan, saya masih ada tamu,” perintahnya. Saya masuk ke kamarnya dan sekilas pandang saja sudah tahu penyebabnya. Komputer itu dalam keadaan baik-baik saja. Saya tinggalkan komputer itu dalam keadaan hidup dengan semacam screen-saver berbunyi “Kesalahan bukan pada komputer Romo” yang menari-nari di monitor. Saya membuatnya dengan BASIC, karena waktu itu semuanya masih under DOS.

“Lho kok bisa? Ndak apa-apa?” tanya Romo Sis ketika menemui saya.

“Bagaimana bisa hidup kalau kabelnya lepas?”

“Siapa yang melepas?”

“Ya ndak tahu, Romo!”

“Hapus tulisan itu dan pastikan supaya kabelnya ndak gampang terlepas lagi!”

Saya kembali ke kamar beliau untuk menghapus screen-saver itu dan mencari pegawai pembersih kamarnya, memberitahu dia agar tidak melepas kabel komputer di kamar Romo Sis.

“Dia itu doktor dan masih muda, jangan dibandingkan dengan saya, wis tuwek!” komentar Romo Sis ketika saya membandingkan kecepatan pemahaman beliau dengan seorang imam yang sempat ‘belajar’ dari saya.

“Setengah jam saja, semua beres!” kata saya.

“Ya. Kamu ajari (menyebut nama seseorang) sekarang. Setengah jam harus sudah beres!” sahutnya. Dari semuanya, Romo Sis adalah ‘siswa’ yang luar biasa lucunya.

%d blogger menyukai ini: