• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Kebersihan

Diskon 70%

Sebagai tukang ketik surat resminya, saya pernah mengingatkan Romo Sis: “Romo, bolak-balik minta sumbangan, apa yang dimintai nggak bosan?”

“Yang nyumbang mau, kok kamu yang protes. Buat saja!”, jawabnya singkat dengan senyum kemenangan yang membuat saya diam dan tersenyum pahit. Setelah itu saya tak pernah berkomentar lagi tentang hal yang sama. Toh bukan saya yang bertanggung jawab!

Ubin teraso di lantai bawah tidak memuaskan Romo Sis. Maka beliau berencana menggantinya dengan keramik. Dari mana dananya? Tidak sulit. Romo melimpahi saya dengan tugas berat: membuat surat pembelian keramik dengan permohonan diskon 70% dari perusahaan pabrikan. Permohonan itu dikabulkan. Maka saya pun menugasi diri sendiri untuk menunggu pesanan datang. Beberapa kali saya terpaksa ikut pula mengangkut kotak-kotak berat berisi keramik satu truk tronton, nyaris setiap hari selama beberapa waktu karena datangnya truk biasanya siang atau sore hari, saat semua pegawai sudah pulang. Heran, setiap kali Romo Sis baru keluar dari kamarnya setelah semuanya rapi teratur di tempat-tempat yang disediakan.

Keramik berkualitas dengan harga sangat murah itu juga terpasang di beberapa gedung gereja dan biara. Semuanya menggunakan jasa tanda tangan Romo Sis. Tetapi setahu saya beliau selalu menolak titipan untuk rumah tangga biasa. “Ora pantes,” kilahnya saat saya tanyakan mengapa permintaan si A atau si B ditolaknya.

Lantai yang putih bersih itu segera mengintensifkan pemeliharaan kebersihan sekolah. Setiap kali ada yang kotor, beliau segera memerintahkan pembersihannya. Kalau ada sampah di lorong atau di dalam kelas yang didatanginya, beliau tak segan memungutnya sendiri dan memasukkannya ke tempat sampah. Cara ini sangat efektif untuk membelajarkan cinta kebersihan kepada segenap warga sekolah.

Siswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya, yang tahu ada sampah di kelasnya tanpa tergerak membuangnya ke tempat sampah yang tersedia pastilah akan menerima hukuman bahkan denda. Seorang pegawai diberi tugas khusus memelihara kebersihan KM/WC siswa sehingga tempat keramat itu selalu bersih dan bebas bau menyengat. Ada pula guru yang diminta untuk mengawasi para siswa yang masuk ke WC putra yang ditengarai sebagai tempat escape untuk sekadar merokok.

Begitulah. Kotor sedikit, langsung bersihkan. Ada dinding bercap bola atau tangan atau kaki, cat lagi. Segera. Jangan biarkan dan tunggu hingga makin banyak. Dengan demikian, ongkos pembersihan dan pemeliharaan gedung justru dapat dihemat. Bukankah para pegawai kebersihan itu sebagian besar bekas tukang dan pembantu tukang bangunan?

Ada kaca nako pecah, siangnya harus sudah diganti. Ada talang bocor, esok harus sudah ditambal. Kalau perlu, angkat semua, ganti! Ada meja yang kotor, penghuninya harus tinggal untuk membersihkannya. Ada kursi patah, ‘penduduk’-nya harus mengganti. Tidak ada kompromi. Kalau tidak ada yang mengaku, maka siswa sekelas yang harus bertanggung jawab.

Beberapa kali beliau menerima petugas pemasaran dari perusahaan cleaning-service yang menawarkan jasa pemeliharaan kebersihan. Sebagai test-case, beliau meminta mereka membersihkan KM/WC di kantor TU. Saya yang tidak tahu, suatu saat mengritik, “Daripada memanggil pihak lain untuk membersihkan KM/WC itu, lebih baik mengajari pegawai sendiri yang sedemikian banyak agar mereka punya keterampilan membersihkan KM/WC dengan baik dan hemat. Uangnya bisa menambah kesejahteraan mereka.”

“Hus. Jangan bilang-bilang. Itu gratis. Mereka membersihkan KM/WC itu karena saya minta sebagai percobaan saja sementara penawarannya saya pelajari. Perkara nanti mau menggunakan jasa mereka atau tidak, itu soal lain!” katanya dengan mata jenaka. Wah. “Buaya dikadali”, Romo Sis juga pinter ngakali!

Ketegasan Romo Sis dalam hal kebersihan tidak bisa ditawar. Namun sarananya harus disediakan terlebih dulu. Jangan suruh murid membuang sampah ke tempat sampah kalau tempat sampahnya sudah penuh atau tidak ada. Jangan suruh murid membersihkan kelas, karena tugas mereka adalah belajar dan kebersihan kelas adalah tanggung jawab petugas yang sudah dibayar. Taman, halaman, lapangan harus bersih dan nyaman untuk beristirahat dan bermain. Biarkan mereka sejahtera, kecuali terbukti mereka bikin kotor dengan sengaja!

Sayang, kebiasaan itu tak berlanjut. Pengganti Romo Sis bisa berlenggang kangkung di antara sampah yang berserakan tanpa tergerak untuk memungut dan memasukkannya ke tempat sampah. Teladan ini tentu melemahkan pula semangat kebersihan para pegawai dan warga sekolah lainnya. Peraturan dan imbauan tak pernah efektif kalau tidak ada komitmen bersama yang dipelopori pemimpinnya. Mengajak segenap warga sekolah untuk melaksanakan kerja bakti seminggu sekali sungguh tidak berarti karena kebersihan adalah persoalan setiap hari. Lebih dari itu, kebersihan adalah soal budaya. Jadi, belajarkan dulu orangnya, maka kebersihan akan menjadi bagian kehidupannya.

Bagian bawah dinding sekolah dibuat kasar dan dicat kemerahan agar tidak mudah kotor karena kaki murid biasa mendarat di atasnya saat berdiri bersandar santai di depan kelas. Saya baca dalam rencana kerja lima tahun ke depan, kepala sekolah sekarang merencanakan pemasangan keramik pada dinding itu dengan alasan agar mudah dibersihkan. Ah, mengapa dinding yang sudah bagus sejak lama itu harus diganti keramik hingga seperti kamar mandi? Kalau dulu bukan masalah dan sekarang jadi masalah, tidakkah terlebih dulu perlu bertanya mengapa dan mengatasi penyebabnya melalui pembelajaran terhadap warga sekolah?

Kamar mandi dan wc murid pun akan dibenahi karena banyak keluhan tentang baunya. Kecuali bila konstruksinya yang salah, kiranya yang perlu ditanyakan adalah komitmen bersama tentang kebersihannya. Membenahinya hingga menjadi seperti kamar mandi dan wc sebagus hotel berbintang lima tidak akan mengubah budaya warga sekolah tentang kebersihan lingkungannya. Jangankan KM/WC murid, lihat pula keseharian KM/WC di ruang guru dan kantor TU!

Sungguh, jurus mabuk yang diperagakan di pentas pendidikan lebih berbahaya dalam jangka panjang ketimbang bau menyengat yang dibawa angin dari KM/WC Dempo!

%d blogger menyukai ini: