• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Rahasia Siswa

“Sssttt, jangan bilang-bilang!”

Suatu sore yang cerah, seorang murid Dempo datang dengan sepeda motor, masuk ke halaman sekolah dan meminta perlindungan Satpam yang bertugas saat itu. Menyusul di belakangnya seorang mahasiswa sebuah PT di Malang. Kepada Satpam yang sedang bertugas, ia mengaku mengejar murid Dempo itu untuk memberikan pelajaran kepadanya karena telah melecehkan teman perempuannya di Jalan Jakarta. Suasana menjadi sangat tegang. Merasa bahwa masalah yang dihadapkan padanya terlalu berat untuk diselesaikannya sendiri, Satpam itu meminta Romo Sis datang agar mengambil alih upaya perdamaiannya.

Murid Dempo itu mengakui kesalahannya. Dia iseng menarik kerudung penutup kepala mahasiswi yang sedang bersepeda motor di depannya. Tindakannya itu jelas sangat kurang ajar. Ia tidak sadar bahwa teman mahasiswi itu bersepeda motor pula di belakangnya. Teriakan marah mahasiswa itu lebih menakutkan ketimbang jeritan kaget korban pelecehannya. Maka ia pun mengebut dan yang diingatnya pertama kali adalah menyelamatkan diri ke sekolah.

Untunglah Romo Sis segera datang dan kemarahan si mahasiswa segera reda melihat penampilan Kepala SMA Dempo yang terkenal. Murid Dempo itu menangis meraung-raung meminta ampun sambil memeluk kaki kepala sekolahnya. Untunglah pula karena mahasiswa itu tidak bersikeras dengan tuntutan dan ancamannya setelah Romo Sis menjanjikan penyelesaian yang baik dan sepantasnya. Untunglah juga karena mahasiswa itu datang sendiri karena teman-temannya sedang sibuk menemani dan menghibur teman mereka yang menjadi korban pelecehan. Setelah pelaku yang naif itu meminta maaf dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar ketakutan, mahasiswa itu berpamitan, kemudian pergi, seolah-olah tak pernah ada masalah. Dan yang beruntung itu adalah si pelaku karena dalam kebingungan ketika dikejar, ia berbalik ke arah sekolah dan mendapatkan perlindungan yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

Tentu saja Romo Sis sangat marah. Muridnya itu telah membahayakan dirinya sendiri, sekolahnya dan bahkan – mungkin – banyak orang lain lagi. Mending kalau tindakannya itu ‘hanya’ dianggap sebagai kenakalan remaja yang biasa, keisengan yang mudah hinggap pada diri remaja laki-laki terhadap lawan jenisnya. Kalau masalahnya diperpanjanglebarluaskan, akibatnya bisa sangat merugikan. Maka, keputusan pun diambil. Orangtua murid itu harus dipanggil. Mengeluarkan murid itu dari sekolah sudah terbayang di wajah Romo Sis yang tampak geram!

Tetapi ketegaran Romo Sis luluh ketika remaja laki-laki itu berteriak-teriak memohon dengan tetap memeluk kaki Romo Sis dan tak mau melepaskannya sampai beliau mau memaafkan. Dalam sedu sedan diakuinya bahwa ia mengidap kelainan seksual karena kebiasaan aneh sejak masa kecil yang tidak pernah dikoreksi orangtuanya. Tingkah yang saat kecil dulu dianggap lucu, kini bukan hanya bikin malu, tapi juga berbahaya. “Sssttt, jangan bilang-bilang,” kata Romo Sis tanpa saya tanya. “Anak itu selalu bergairah kalau melihat …”

Romo Sis merekomendasikan seorang psikiater untuk membantu murid itu dan orangtuanya. Tetapi pasti bukan rekomendasi itu yang paling bernilai bagi mereka. Barangkali murid itu – kelas III dan beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian akhir – adalah salah satu di antara sangat sedikit yang beruntung ketika Romo Sis sudah memutuskan sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebarangan. Dia tidak jadi dikeluarkan. Saya berharap sekarang dia sudah ‘sembuh’. Selain itu, saya sangat menghargai pengertian mahasiswa itu. Seandainya bukan dia yang menyaksikan pelecehan yang dialami rekannya dan kemudian mengejar pelakunya untuk menuntut pertanggung-jawaban, akibatnya bisa lain!

Tak pernah diragukan, Romo Sis adalah pemegang rahasia nomor wahid dan apabila perlu, beliau tak lupa menularkan semangat yang sama kepada siapa pun yang setempat dan sesaat dengannya.

Suatu rembang petang, saya mencurigai dua murid berlainan jenis masuk ke WC khusus putri. Pada saat yang bersamaan, saya melihat Romo Sis akan masuk ke kantornya. Maka, saya berputar untuk memberitahu beliau tentang dua anak itu. Tanpa komentar, Romo Sis bergegas untuk memergoki mereka.

“Ndak usah lari, Romo, nanti malah jatuh!” gurau saya.

“Selak ono opo-opo, blaen!” sahutnya, tidak mengurangi lebar langkahnya. Saya lalu masuk ke kantor tata usaha dan berpura-pura tidak menghiraukan kelanjutannya. Tetapi, sesungguhnya saya memang tak mengetahui kelanjutannya karena Romo Sis tidak merasa orang lain yang tak berkepentingan perlu tahu.

Singkat cerita, malam itu juga orangtua anak-anak itu diberitahu dan dipanggil datang ke sekolah.

Saya tidak bertanya apa-apa tentang hal semacam itu karena surat pemanggilan orangtua yang diperintahkan Romo Sis biasanya adalah untuk menyelesaikan masalah yang tak perlu dirahasiakan dan dapat dijadwalkan, artinya, tak terlalu mendesak. Dalam hal yang bersifat konfidensial – kriminal dan atau kesusilaan semacam itu, Romo Sis memilih menggunakan telepon dan menyelesaikan semuanya sendiri saja, secepat-cepatnya. Antisipasi, apalagi reaksi yang terlambat dan tidak tepat tidak ada gunanya. Dan seandainya perlu, beliau hanya mengingatkan dengan caranya: “Sssttt, jangan bilang siapa-siapa!”

Saya kira, tak seorang pun berani melanggar larangan yang sesungguhnya sangat biasa terdengar di antara kumpulan orang yang gemar membicarakan urusan, apalagi keburukan orang lain. Padahal, ketika setiap orang di dalamnya sudah saling berbagi cerita yang sama, larangan semacam itu tak lagi bermakna. Sedangkan Romo Sis melakukannya bagi orang yang dikiranya tahu sedikit saja. Bagi yang merasa lebih tahu daripadanya, beliau diam seribu bahasa.

%d blogger menyukai ini: