• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Rekayasa

Pangkat tak penting!

 

Setiap awal tahun, saya wajib mengisi kuesioner dari Depdikbud (dulu) yang menurut Romo Sis harus direkayasa asal masuk akal dan aman. “Ndak apa-apa, toh sekolah lain juga merekayasa laporannya!” katanya tentang laporan rekayasa itu. “Buat apa mereka mau tahu keuangan sekolah? Kamu karang aja, yang penting pantas!”

Dengan komputer, rekayasa sangat mudah dilakukan. Romo Sis pun saya ajari caranya. Maksud saya adalah agar beliau sendirilah yang mengerjakannya. Tetapi, setelah meyakini kemudahan dan keberesannya, pekerjaan itu dikembalikan kepada saya dengan janji lisan yang menghibur: “Yang bertanggung jawab adalah penandatangannya!”

Meskipun demikian, saya berusaha agar rekayasa laporan ke Depdikbud itu tak pernah jauh dari kenyataan sesungguhnya, kecuali dalam hal keuangan. Beberapa item pemasukan dan pengeluaran yang ditanyakan biasanya saya jawab dengan menambahkan 10% kenaikan pertahunnya, mengikuti rata-rata kenaikan beaya pendidikan nasional, sedangkan item yang lain ditambah atau dikurangi menurut angka inflasi tahun berjalan. Saya mau melakukannya setelah menanyakan kejelasannya ke kantor Depdikbud. Hal keuangan itu sesungguhnya bersifat wajib bagi sekolah negeri karena berkaitan dengan penyusunan Rancangan Anggaran dan Belanja Sekolah (RABS) setiap sekolah. Data dari sekolah swasta terkenal seperti SMA Dempo bermanfaat sebagai pembanding. Maka, kalau saldonya terlalu besar, saya harus menguranginya dengan pengeluaran pembangunan atau pemeliharaan gedung (yang memang besar, tetapi kadang-kadang dananya tak tercatat dalam pembukuan). Demikianlah, dalam sekejap saja saya sudah jadi ahli rekayasa laporan keuangan.

Daftar nama seminaris dan anak guru selalu saya lampirkan sebagai penerima beasiswa dari sekolah. Jadi, dengan prinsip subsidiaritasnya, SMA Dempo sudah sejak lama memberikan beasiswa bagi anak-anak dari “keluarga tak mampu”.

Lain halnya dengan laporan keuangan yang berkaitan dengan PPh.Pasal 25. Kendati tak bebas rekayasa, detil pelaporannya harus mengikuti peraturan dan ‘kebiasaan’ yang berlaku: “The devil is in the details”. Nasihat seorang akuntan, bahwa sekali diperiksa petugas pajak, sekolah/ yayasan akan jadi langganan pemeriksaan saya pegang teguh.

Para pegawai (kependidikan/ nonkependidikan) Yayasan Sancta Maria sesungguhnya beruntung karena Romo Sis memerintahkan agar yang diperhitungkan dalam SPT PPh. Pasal 21 hanyalah gaji pokok. Dengan demikian, banyak di antara mereka terbebas dari kewajiban membayar pajak penghasilan karena gaji mereka di bawah angka PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Maka, kendati sudah bukan bagiannya, saya ikut bersyukur ketika PTKP dinaikkan. Demikian pula ketika tersiar kabar bahwa DPR sudah mendesak agar Pemerintah menaikkan tunjangan fungsional guru menjadi Rp 500.000,oo Ini adalah berita yang patut disyukuri (kalau jadi kenyataan) oleh para guru sekaligus peringatan dini bagi yayasan yang menjadikan PGPNS sebagai pedoman.

Yang benar-benar harus sesuai kenyataan sebenarnya adalah laporan kepada Romo Sis sendiri dan Yayasan Sancta Maria dan atau Keuskupan Malang (yang sangat jarang diminta). Proyeksi ketenagaan yang saya sampaikan sering menjadi bahan diskusi kami. Dari matrik yang saya buat, dapat diketahui apakah SMA Dempo kelebihan atau kekurangan tenaga guru/ pegawai berdasarkan patokan jam mengajar minimal atau beban pekerjaan. Selain dari usul para guru sendiri, pembagian tugas mengajar bagi guru didasarkan pada data dan kinerja tahun sebelumnya. Tetapi pada umumnya Romo Sis tidak memberikan keputusan yang berbeda jauh dari usul para guru. Sedangkan tugas para pegawai nonkependidikan – yang jumlahnya lebih banyak daripada kebutuhan sewajarnya – ternyata sering lebih merepotkan karena Romo Sis sudah terlanjur mengangkat mereka sebagai pegawai tetap. Padahal, rekrutmen tenaga kebersihan cukup dilakukan dengan kontrak kerja yang dapat diperbarui setiap tahun.

Karena kebaikan Romo Sis itu, saya juga merekayasa agar dalam laporan ketenagaan (dan kemudian benar-benar diwujudkan), semua pegawai kebersihan di SMA Dempo diberi SKP dengan pangkat terendah dan kenaik-annya diperhitungkan berdasarkan KPO juga. Padahal ijazah SD pun tak dimiliki sebagian dari mereka. Maka, beberapa orang di antara mereka yang relatif masih muda saya anjurkan untuk mengikuti ujian persamaan agar mendapatkan ijazah setara SD. Dua orang bahkan mendapatkan ijazah setara SMA. Saya setuju bahwa ijazah tak serta merta menjamin kualitas atau kualifikasi tertentu (sebelum maupun sesudah pencapaiannya), tetapi karena peraturannya begitu, maka rekayasa pun harus dilakukan. Sejauh ada upaya lain yang layak dilakukan, rekayasa justru harus dihindari supaya kelak tidak menjadi bumerang.

Setelah diputuskan bahwa Romo Albert akan menjadi Kepala SMA Katolik St.Paulus, Jember, saya pun diminta untuk merekayasa surat pengangkatannya. Dengan menganggap bahwa Romo Albert sudah menjadi guru tetap sejak awal masuknya ke SMA Dempo (ini mudah karena Romo Allbert adalah seorang Karmelit, yang serikatnya – melalui Yayasan Sancta Maria – adalah pemilik dan pengelola SMA Dempo) dan bahwa pangkatnya memenuhi syarat (ini pun mudah, karena sebagai imam saja, jenjang pendidikan S2 secara ‘lokal’ sudah dilampauinya), juga bahwa dalam masa kerja aktifnya itu Romo Albert melaksanakan tugas belajar (kenyataannya, Romo Albert memang ‘disekolahkan’ oleh Romo Sis). Demikian pula rekayasa yang saya lakukan ketika Romo Michael M. Hartomo, O.Carm. akan diangkat sebagai Kepala SMA Katolik St.Albertus dan Fr. Vianney S., O.Carm. pindah tugas dan menjabat Kepala SMP Katolik Alvares, Flores.

Sesungguhnya, tanpa rekayasa pun, pangkat Romo Albert seharusnya tidak terkunci seperti sekarang. Demikian juga berlaku pada diri Romo Michael dan Fr. Vianney (jika mereka masih dianggap sebagai ‘pegawai tetap’ Yayasan Sancta Maria). Tetapi pangkat tidaklah penting bagi mereka, serupa dengan Romo Sis yang tak pernah repot dengan pangkatnya sebagai pegawai negeri sipil. Ketika rekan-rekan seangkatannya sudah di golongan IV/a, Romo Sis pensiun di golongan III/b. Artinya, beliau (dan demikian pula penerusnya), tampaknya tidak pernah mau repot mengurus kenaikan pangkatnya karena ‘pangkat otomatis’-nya sudah sangat tinggi!

%d blogger menyukai ini: