• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Mutu SMA Dempo Turun?

Entah sudah berapa kali saya nyatakan bahwa saya tak pernah menolak kesan tentang menurunnya mutu SMA Dempo saat ini. Meskipun demikian, saya juga tak bisa begitu saja mengiyakan kesan itu. Pertama karena pengetahuan dan atau pengalaman pribadi kita bisa berbeda-beda tentang suatu hal yang sama. Kedua, seandainya kesan itu cukup beralasan sehingga bisa digunakan untuk semakin membengkokkan atau meluruskannya, bukanlah kewajiban saya mendukung kesan yang ini atau yang itu. Adalah SMA Dempo sendiri yang bisa melakukan klarifikasi kesan stakeholders-nya. Itu pun jika ia tergerak dan merasa perlu melakukannya.

Sebagai alumnus, kewajiban saya adalah menjunjung tinggi nama baik Alma Mater saya. Kewajiban itu tentu tak perlu saya lakukan secara membabibuta karena bagaimanapun kesan orang tentang SMA Dempo dulu, sekarang dan nanti – sekali lagi – pertama-tama bersifat personal dan satu-dua di antara sekian banyak yang sangat mungkin tak pernah persis sama. Kesan baik-lebih baik, buruk-lebih buruk barulah bersifat tak lagi personal-emosional namun rasional ketika SMA Dempo sendiri mau menumbuhkembangkan kesadaran dan tanggung jawab sosialnya untuk menunjukkan kinerja terbaiknya bagi pelayanan pendidikan tingkat menengah atas, entah lokal, regional, nasional atau malah internasional. (Saya sering mendengar Kepala Sekolahnya sekarang menginginkan SMA Dempo goes international. Hebat kan?).

Semula saya tak panik ketika mengetahui jumlah murid tahun demi tahun terus merosot; dari biasa menolak ratusan calon murid hingga harus mengerahkan para guru sebagai marketers untuk ‘menjemput calon murid’ ke luar kota bahkan luar pulau Jawa; dari sekelompok guru yang dikenal berdedikasi luar biasa hingga berganti guru-guru yang semakin ‘profesional’ dengan plus/ minus visi-misi sekolah yang kini menjadi “Leader in education. Education for leader” dan berpedoman pada sertifikat ISO 9001:2000; dari kedisiplinan ketat yang tetap manusiawi hingga siswa gampang ngilang dan pindah karena tak betah; dari orang-tua murid yang senang bekerjasama dengan sekolah hingga mereka yang kecelik karena ternyata … SMA Dempo bukan ‘seperti yang dulu’ lagi.

Mengapa saya tak panik? Pertama karena menyadari bahwa perubahan adalah niscaya. Kedua, sejatinya pendidikan tak bicara tentang kuantitas, melainkan kualitas (multum, non multa). Namun, ketika menyadari bahwa jumlah murid yang semakin sedikit itu justru bukan karena penyaringan yang semakin ketat, saya baru merasa was-was. Saya juga sedih karena SMA Dempo semakin rajin ‘tebar pesona’, bukan ‘tebar kinerja’ (sekadar pinjam istilah yang digunakan Megawati Sukarnoputri tanpa maksud menirunya untuk mengritik Kepala SMA Dempo dan stafnya).

Penafsiran ana rega ana rupa secara a contrario tampaknya tidak menjadi semangat para pelayan pendidikan di SMA Dempo. Tak sekali dua kali saya mendengar keluhan maupun komentar: “Dempo sudah mataduitan!”, “Dempo sekarang nggak disiplin!”, “Kok sekarang sering pulang pagi ya?”, “Guru Dempo sering rapat, kapan ngajarnya?”, “Tak perlu ikut ulangan susulan asal mau beli buku yang dijual guru!”, “Buat apa repot-repot belajar, wong nilai bisa dirundingkan?”, “Tengah malam saya ditelepon anak Dempo untuk mengerjakan soal-soal ulangan matapelajaran X yang akan diberikan guru keesokan harinya!”, kata seorang pengajar privat yang membantu beberapa murid Dempo ‘meraih prestasi’, “Saya pindahkan anak saya untuk menyelamatkannya dari pergaulan buruk!”, “Saya tak mau menyekolahkan anak bungsu saya ke Dempo!”, kata seorang ibu, yang suami dan dua anaknya lulusan Dempo. “Ngapain ke Dempo?” cetus beberapa alumni angkatan muda. Agaknya, alumni 2000-an akan bisa bercerita lebih banyak kenangan yang relatif segar tentang Alma Mater. Semoga mereka – kalau masih tinggal di Malang – tak dihinggapi nightmares ketika akan memilihkan sekolah buat anak-anak mereka kelak.

Entah mengapa pula, kendati tidak lagi berada di ‘dalam’-nya, saya masih merasa menjadi bagian dari manis-asam-asin-pahit SMA Dempo. Saya ikut kecewa kalau mendengar alumni tak menyekolahkan anaknya ke Alma Mater. Saya ikut sedih kalau mendengar kabar buruk tentang Alma Mater. Saya tetap menyemangati mantan kolega saya kalau ada yang mengalami surut semangat bekerja sebagai pendidik. Saya ikut mendorong kalau ada yang ingin kuliah lagi, berani malu memintakan bantuan dan menanggung akibatnya. Sebaliknya, saya juga ikut bangga kalau mendengar kabar baik tentang Alma Mater. Misalnya: Kepala Sekolah yang ‘laku’ bicara di sana-sini, masuk koran sebagai ini atau itu, berdiskusi di radio tentang ini atau itu, juga bikin saya bangga. Tapi, seiring dengan itu saya pun semakin yakin bahwa menjadi pemimpin di sekolah menengah agaknya bukan habitat yang sesuai bagi sang Kepala Sekolah!

Mengapa dengan mudah terbaca bahwa ‘sasaran tembak’ saya adalah Kepala Sekolah? Seorang adik kelas yang saya sayangi dan hormati antara lain karena cintanya yang sedemikian besar kepada Alma Mater mengingatkan bahwa “Kita hendaknya selalu berkata benar, namun tak semua kebenaran perlu dikatakan.” Seorang senior bahkan memberi saya warna ‘merah’ karena posting saya di milis bisa bikin beliau ikut marah. Padahal, saya sangat sadar bahwa tiada sepercik pun keinginan untuk sekadar mencela Kepala Sekolah. Saya justru mengetahui sejak lama bahwa ia seorang yang punya kemampuan untuk memimpin SMA Dempo sepeninggal Romo Sis (yang rela menerobos ‘kebiasaan’ guna menuruti keinginan suksesornya itu hingga meraih gelar MA di USA!). Namun, agar mampu, seseorang juga memerlukan mau, tahu, dan punya waktu. Barangkali ia (sudah) tahu, tapi mau dan punya waktukah ia untuk SMA Dempo? Posting saya selalu berusaha mendorong agar siapa pun (yang di ‘dalam’ maupun di ‘luar’) untuk membantunya lebih banyak dan lebih baik agar ia sungguh-sungguh mau dan punya waktu melaksanakan tugasnya itu. Benar bahwa hal itu juga bergantung pada pemahaman pemilik sah SMA Dempo tentang tugas seorang Kepala Sekolah, tetapi yang pertama dan terutama harus paham adalah Kepala Sekolah yang merupakan pertanda ‘kehadiran’ penanggung jawab pelayanan pendidikan yang diselenggarakan di SMA Dempo!

Berlebihankah?

Satu Tanggapan

  1. Boleh dong lain kali main ke dempo dan lihat perubahan positifnya. Saya yakin sudah tidak ada siswa pulang pagi dll. Atau saat lomba paduan suara kami, semoga tidak bising. VIVA DEMPO!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: