• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Pengantar

Empat tahun setelah Romo Sis wafat, dan setelah menceritakan banyak hal yang saya alami dengan dan tentangnya kepada para sahabat maupun yang dimuat tanpa izin dan dengan keterangan yang salah pula mengenai saya pada buku “Romo Sis: Kamu Ini!” (Dempo:2002), sampai sekarang saya masih menyimpan berbagai kenangan manis-asam-asin dengan dan tentang Romo Sis.

Tidak ada pretensi atau tendensi lain dalam penulisan kisah-kisah ini kecuali karena saya percaya bahwa pribadi Romo Sis telah menebar berbagai keutamaan yang layak diteladani oleh orang-orang yang pernah diserahkan ke dalam tanggung jawabnya sebagai pendidik. Kendati tak bermaksud menggambarkan pribadi Romo Sis sebagai sosok serba sempurna, perkenalan yang diikuti dengan pergaulan selama lebih dari seperempat abad bersamanya telah menjadi harta hidup yang mengantarkan saya kepada pengakuan bahwa beliau adalah seorang yang istimewa. Dalam kurun waktu itu, saya tidak pernah menjadi orang dekatnya. Artinya, Romo Sis – bukan saya – yang mendekat, yakni ketika beliau membutuhkan bantuan dari “seorang yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan tak ingin menjadi apa-apa, pun siapa-siapa” baginya (bdk. “Age quod agis!” dalam Sukses Alumni Dempo, 1996). Sedangkan saya tidak punya nyali mendekatinya – pertama-tama karena perbedaan usia yang sangat jauh: Romo Sis bapak, saya anak; Romo Sis direktur, saya batur (pembantu); Romo Sis imam, saya awam; Romo Sis mencintai dan dicintai banyak orang, saya hanya salah seorang murid yang mencintainya secara diam-diam. Perbedaan itu bisa diteruskan untuk meyakinkan bahwa saya tidak pernah merasa menjadi ‘orang dekat’ Romo Sis karena kelaziman banyak orang mendekati ‘tokoh’ bukanlah kebiasaan saya. Meskipun sering harus berpikir keras dan bekerja ekstra untuk dapat menyelesaikan dengan baik tugas-tugas yang diberikan Romo Sis, saya bukanlah think-tank beliau sebagaimana pernah menjadi kecurigaan beberapa guru senior Dempo. Saya hanya salah seorang yang dipercayainya untuk melaksanakan sebagian kecil dari sekian banyak tugas hidupnya. Itu pun seingat beliau saja, karena sangat banyak orang yang senang dimintai bantuan olehnya. Kesediaan beliau mendengarkan orang lain – tanpa pandang bulu – dan mengolahnya untuk menjadi keputusan terbaik bagi semua, menurut saya serupa super-tank. Jadi, tak perlu ada think-thank khusus, apalagi bayaran!

Sewajarnya saja. Ketika sebuah tugas saya terima, pada saat itu pula saya bertekad melaksanakannya sebaik mungkin. Dalam tekad itu tak pernah saya perhitungkan risikonya bagi diri sendiri. Dan ketika melaksanakannya, perbedaan dan ketidaksesuaian yang juga wajar terjadi antara Romo Sis dengan saya justru mengemuka sehingga menjadi arena pembelajaran yang tak ternilai harganya. Demikian pula kejadian-kejadian kecil dalam pergaulan kami atau yang sekadar saya saksikan tanpa keterlibatan yang mendalam, telah membekas dan sering muncul tiba-tiba seperti gambar hidup.

Demikianlah kejadian-kejadian serba sederhana, kecil, seolah-olah tak berarti, yang saya alami dalam pergaulan dengannya menunjukkan bahwa Romo Sis sesungguhnya telah mengajarkan keutamaan-keutamaan itu melalui perilaku hidupnya sendiri. Membagikannya kepada orang lain mungkin merupakan penghiburan bagi siapa pun yang mencintai Romo Sis dan merindukan sosok pribadi penggantinya sebagai bapak, guru, kepala sekolah, imam, biarawan, maupun sebagai manusia biasa yang menjalani hidupnya secara biasa-biasa pula, namun yang bisa menghasilkan hal-hal luar biasa bagi setiap orang yang bersyukur atas perjumpaannya dengan Romo Sis. Kisah-kisah ini barangkali bisa dijadikan bahan permenungan ringan maupun rujukan untuk menghargai pengalaman pribadi, betapapun kecil dan tak langsung terasa berarti. Saya harap, yang merasa dekat maupun yang tidak dekat dengan Romo Sis dapat belajar dari salah satu “Orang Benar” yang dianugerahkan Allah dalam hidup kita.

Akhirnya saya harus mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang melalui berbagai cara telah menjadikan penerbitan buku ini sebagai salah satu bentuk nyata kebersamaan kita yang indah di dalam IKESA (Ikatan Keluarga Eks SMAK St.Albertus) Dempo dan untuk Alma Mater tercinta. Namun, ucapan teramat manis tentu harus dipanjatkan kepada Tuhan yang telah menganugerahi kita Pater Emmanuel Siswanto Poespowardojo, O.Carm. Selain berterima kasih, saya juga memohon maaf apabila ada salah sebut, salah kata, maupun beda persepsi tentang suatu peristiwa yang sama.

Selamat membaca!

Malang, Agustus 2006

Penulis

%d blogger menyukai ini: