• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

‘Ramalan’ Bambang Yuwono

Saya masih ingat, Romo Sis tersenyum lebar ketika menyerahkan naskah tulisan Bambang Yuwono (Dempoer 1973) untuk dimuat dalam buku “Sukses Alumni Dempo” yang akan diterbitkan tepat pada Perayaan 60 Tahun SMA Katolik St.Albertus (1996). Secara khusus beliau menunjukkan ‘ramalan’ Bambang Yuwono dalam bentuk tabel perbandingan Dempo 25 tahun yang lalu dan yang akan datang. “Romo percaya tidak?” tanya saya setelah membacanya sekilas. “Gaaakkk,” jawab beliau sambil melangkah pergi.

Sah-sah saja. Ramalan adalah ramalan dan kenyataan adalah kenyataan. Mama Lauren boleh meramalkan Malang akan menangis dan berdarah-darah akibat mal terbesar di kota ini akan diledakkan. Menyaksikan minat belanja masyarakat Malang yang berbondong-bondong mengunjungi ikon baru Kota Malang itu, saya meragukan ramalan tentangnya akan menjadi kenyataan. Namun, kewaspadaan tak boleh luntur, seperti sebagian pengurus gereja masih merasa perlu meminta pengawalan aparat keamanan agar umat bisa beribadah dengan tenang, nyaman dan aman.

Kini, ‘ramalan’ Bambang Yuwono sudah berjalan separuh waktu. Bagaimana kondisi SMA Dempo sekarang? Apakah kenyataan saat ini berada di jalan pembenaran ‘ramalan’ Bambang Yuwono? Tentang Kepala Sekolah, sudah sangat jelas, kini perannya tak sedominan Romo Sis dan para Kepala Sekolah sebelum beliau. Pola pengumpulan dana yang digagas Kepala Sekolah kini tidak terang-terangan, serba sungkan namun memendam harapan. Dan, di sebalik itu bisa ada api dalam sekam. Juga, saya tak akan bicara tentang idealisme karena itu menjadi tugas utama pengurus Yayasan Sancta Maria yang sedang berbenah entah sampai kapan. Seperti pernah saya informasikan di forum ini pula, visi SMA Dempo sekarang berbunyi: “Leader in Education, Education for Leader”. Saya tidak tahu apakah frasa hebat itu sungguh-sungguh dapat diamalkan dalam misi sekolah melalui KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) maupun dalam keseharian penyelenggaraan sekolah yang khas Dempo atau tidak.

Tentang guru, tampaknya ‘ramalan’ Bambang Yuwono agak mendekati kenyataan. Diakui dengan rendah hati untuk tak henti direformasi atau dianggap sebagai nasib belaka adalah pilihan yang melaksanakannya. Motivasi mengajar (apalagi mendidik) tak sehebat yang menjadi kekuatan seniores mereka meskipun barangkali tidaklah adil menuntutnya dari mereka. Karenanya saya tak heran bila alumni tahun 2000-an jarang yang punya kesan kuat tentang Alma Mater sebagaimana alumni dekade-dekade sebelumnya. Tapi jelas, sebagian besar guru muda pun kini sudah punya rumah sendiri. Bahkan beberapa di antara mereka sudah bisa punya mobil, kendati tidak baru. Dalam keadaan marah, seorang guru perempuan pernah membanggakan mobil barunya: “Ini bukan dari Dempo!” Cetusan yang biasa saja, sewajar Jaksa UTG yang mengaku punya bisnis permata ketika ia ditemukan memiliki uang dollar dalam jumlah yang spektakuler untuk jabatannya.

Bagaimana dengan siswa? Agaknya Bambang Yuwono masih diliputi perasaan sungkan ketika ‘meramal’ tentang kedisiplinan dan semangat belajar siswa. Barangkali juga, ‘ramalan’-nya itu pun pesanan sponsor seperti diakuinya di paragraf terakhir tulisannya. Tentang hal-hal lain, agak sulit ditebak sekarang, karena murid datang dan pergi. Setiap angkatan membawa kecenderungan positif dan atau negatifnya sendiri, seiring dengan pengaruh sekaligus solusi sezaman. Apalagi bila sekolah tak mampu mengembangsuburkan ruh kasih sayang di antara warga sekolah sendiri agar pendidikan tunas bangsa menjadi ‘paksaan yang tetap menyenangkan’ dan tak berhenti bikin kangen sesudah lama tak lagi merasakannya di luar.

Tentang fasilitas sekolah? Uang pangkal sekarang sudah sulit dijangkau golongan masyarakat kelas menengah ke bawah sekali bayar. Tentu saja. SMA Dempo kini resmi menjadi SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), entah komponen mana yang memantaskannya. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran? Agaknya masih jauh dari harapan. Di Malaysia, hanya Matematika dan IPA (dan Bahasa Inggris, tentu saja) yang wajib diajarkan dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, guna tetap menomorsatukan Bahasa Melayu sebagai identitas bangsa yang juga wajib dilestarikan pengembangannya. Di SMA Dempo bahkan lebih prestisius. Semua wajib belajar Bahasa Inggris. Sangat baik dan ideal, tetapi menimbulkan resistensi dan frustrasi berkepanjangan bila lebih bersifat instruktif ketimbang kolaboratif-selektif yang berkesinambungan, juga mawas diri dan lingkungan selain mawas ke depan. Atau, dana hibah yang diperolehnyakah? Semoga tidak, karena sejak awal berdirinya SMA Dempo menurut hemat saya adalah sekolah yang diakui mutunya secara internasional. Alumni Dempo tak menemui kesulitan berarti ketika melanjutkan studi ke berbagai kolese ‘internasional’, pun di luar negeri. Saya percaya, Yayasan Sancta Maria dan Ordo Karmel kini akan semakin sulit menerjemahkan option for (apalagi of) the poor dalam karya persekolahannya. Kekhasannya pun dalam bahaya memudar, dan itu akan membuatnya setali tiga uang dengan sekolah-sekolah lain yang berongkos tinggi tapi justru ngos-ngosan dalam berlari di lintasan persaingan jika tak menerima dope lagi. Harap tidak dilupakan keniscayaan idiom: “No free-lunch!”

Jumlah ruang kelas kini berlebih karena sekarang tak mudah ‘mencari’ 300 siswa baru setiap tahun. Padahal, sekolah ini punya tradisi puluhan tahun menolak lebih dari separuh calon siswa karena keterbatasan tempat. Keberhasilan program KB – antara lain – pernah disebut sebagai alasan. Terdengar menggelikan melihat kenyataan tingginya angka putus sekolah di tingkat regional dan masih membanjirnya calon-calon siswa ke sekolah-sekolah lain di kota Malang. Laboratoria? Sangat mahal investasinya, tapi jarang dikunjungi siswa. Perpustakaan? Jantung pendidikan ini pun merana kendati megah gedungnya. Kalau guru jarang sekali menyelenggarakan pembelajaran di laboratorium, tak cukup rajin membaca, bagaimana pula murid-muridnya? “Ah, boro-boro ke lab atau perpus, administrasi pembelajaran pun hampir selalu telat diurus…” Kapel sangat bagus karena cinta seorang sahabat Romo Sis. Urinoir dan WC siswa sulit dicari tandingannya. Komputer cukup. Intranet dan internet ada. Hot spot pun tersedia. Setiap kelas sudah siap digunakan untuk pembelajaran berbasis multimedia. Layar tinggal ditarik ke bawah. Tapi proyektor dan laptop hanya digunakan sangat terbatas. Takut rusak? Entahlah.

Asrama pun sekarang ada (lagi). Tapi harap jangan dibayangkan seperti asrama tempo doeloe. Tak salah menjadikannya sebagai bisnis sampingan asal memberikan nilai tambah yang bermanfaat untuk mendampingi anak bangsa yang dipercayakan kepadanya. Kalau serupa saja dengan rumah kos lain, tak ada lebihnya.

Begitulah. Pada umumnya semua fasilitas sekolah tergolong sangat baik. Sarana dan prasarana relatif serba lengkap. Namun amat sayang bila segala yang bagus itu justru mengaburkan ruh dan nilai-nilai kependidikan yang selama ini telah menjadikan SMA Dempo dikenang dengan hormat oleh alumni, jadi kiblat sekolah-sekolah lain, dambaan para calon siswa dari berbagai daerah dan wahana berkiprah anak-anak bangsa yang belajar dan membelajarkan bukan (hanya) karena sekolah, melainkan demi kehidupan yang bermutu bersama sesama. Sekarang dan di masa mendatang.

Tahun 2011 nanti adalah Perayaan 75 Tahun SMA Dempo. Ada apa lagi? Semoga tak ada lagi kabar membangun ini dan atau itu sebelum segenap SDM sekolah diberi kesempatan seluas-luasnya untuk membangun dirinya sendiri dan bersama-sama guna memberikan yang terbaik bagi anak-anak bangsa. Jangan bermimpi lagi jika tak mau bangun pagi dan berjuang mewujudkannya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: