• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Reorientasi SMA Dempo: Perlukah?

Suara Pembaruan 4 Juli 2006: “Sekolah Katolik Perlu Reorientasi” mengingatkan saya pada beberapa pengalaman pribadi. Sengaja saya tulis singkat dan meminimalisasi argumentasi untuk memancing diskusi tentang hal-hal berikut ini:

Pertama. Saya bukan tidak setuju pada tes masuk untuk diterima sebagai murid Dempo. Tetapi meniadakan wawancara dengan calon murid dan orangtuanya sekadar karena alasan efisiensi waktu adalah keliru. Sekolah-sekolah lain justru mulai belajar menggunakan wawancara sebagai salah satu modus PMB, tetapi Dempo justru menanggalkannya. Perjumpaan awal calon murid dan orangtuanya dengan pimpinan sekolah merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin hubungan kerja sama pendidikan anak-anak bangsa yang diserahkan sebagai tanggung jawab bersama antara orangtua dan sekolah.

Kedua. Sekarang, tanpa wawancara, tanpa tes masuk berstandar, melainkan cukup dengan nilai-nilai rapor, menurut saya lebih parah lagi. Nilai rapor yang diperoleh seorang calon murid tanpa bandingan rerata kelasnya sering mengecoh. Saya kagum sekali kepada guru kelas (SD) dan guru-guru matapelajaran SMP yang mencantumkan rerata nilai kelas spektakuler. Nilai rendah calon murid pada matapelajaran tertentu mewajibkannya mengikuti program yang disebut ‘matrikulasi’ (umum dilakukan pada program pascasarjana dengan beragam input untuk menyelaraskan semua demi kelancaran program pembelajaran). Nah, ini bisa menimbulkan pernyataan maupun pertanyaan.

Ketiga. Pada awal masa jabatan kepala sekolah sekarang, saya diundang mengikuti rapat PMB. Dalam rapat itu saya menganjurkan agar Dempo terlebih dulu berbuat baik sebelum mengharapkan perbuatan baik orangtua calon murid dengan menaikkan sumbangan masuk rata-rata. Dalam rapat berikut, saya tak diundang lagi. Saya berpikir positif, pencantuman nama saya sebagai anggota panitia PMB tahun itu adalah suatu kekeliruan. Perbaikannya membuat saya merasa geli dan ketika mengajar di kelas I, saya dihadapkan pada kenyataan: “Bagaimanapun juga, inilah hasil PMB itu!”

Keempat. Pada masa sebelumnya, saya mengusulkan agar SPP tidak usah diuraikan untuk ini dan itu dengan jumlah item lebih dari lima. Dan terjadilah begitu, karena pada praksisnya rincian itu tak pernah bermakna dalam alokasi pendanaan operasional sekolah. Sayang hal itu tak berlanjut. Kartu SPP memang tak ‘terinci’ lagi, tetapi justru muncul item-item lain di luarnya. Sungguh cara berpikir simplistik dan tak cerdik!

Kelima. Visi-misi sekolah yang diintroduksi kepala sekolah sebelumnya diganti dengan kalimat-kalimat baru sekaligus baur. Religiositas, Solidaritas, Kecendekiaan diganti dengan slogan bombastik bahwa Dempo adalah ‘leader in education and education for leader’ yang berpedoman pada ISO 9001:2000. Jreng!

Keenam. Saya mulai gregetan ketika Dempo terlalu sering memulangkan muridnya lebih awal karena guru-guru harus mengikuti rapat (mendengarkan ceramah kepala sekolah), mengikuti pelatihan kepribadian (lumayan, dapat makan siang enak gratis!) yang tak mengubah apa pun, mengikuti pelatihan keterampilan keguruan yang tidak aplikatif karena tak pernah ada tindak lanjutnya.

Ketujuh. Yayasan Sancta Maria sepeninggal Romo Sis kembali menjadi ‘yayasan asal ada’. Kendati tidak menganggap Romo Sis sebagai dewa tanpa cela, saya menolak upaya desiswantoisasi secara sadar maupun tidak. Sejarah panjang sekolah ini tidak boleh mengabaikan jasa siapa pun di masa lalu, mengubah yang sudah teruji baik hanya karena alasan efisiensi (alias kemalasan), bermimpi bahwa masa depan gemilang ada di awang-awang sehingga kaki pun ikut melayang tanpa pijakan kenyataan.

Kedelapan. Saya jadi muak (maaf) ketika pendekatan kekeluargaan diganti dengan surat teguran yang mengakumulasi anggapan orang lain salah dan diri sendiri benar. Semakin banyak peraturan tertulis adalah pertanda melemahnya semangat kerja sama membina solidaritas dan saling percaya dalam suatu organisasi.

Kesembilan. Alumni adalah ibarat pagar bagi sekolah. Jika pagar itu kokoh, maka kokoh pula sekolah. Dan demikian berlaku sebaliknya. Ketika bahkan alumni pun enggan memasukkan anaknya ke sekolah ini, Dempo sudah berlaku seperti ibu tiri bagi anak-anak kandungnya sendiri.

Kesepuluh. Sedih hati saya setiap kali mendengar keluhan teman-teman di lingkungan Dempo tentang kepala sekolahnya. Maka, reorientasi memang perlu. Tapi, itu kewajiban Dempo sendiri bersama Yayasan Sancta Maria dan atau Ordo Karmel, pemilik sahnya. Kita hanya bisa berdoa dan mendorong terjadinya perubahan yang baik bagi semua.

Sekian dululah. Viva Dempo? Masih, kok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: