• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Aksi Corat-Coret

Pemegang rahasia yang setia

Setiap kali menemukan sendiri meja, kursi atau dinding kotor karena aksi corat-coret, Romo Sis segera memerintahkan pembersihannya dan berusaha mencari pelakunya untuk menerima hukuman. Dengan rutinitas itu dana pemeliharaan gedung dan barang-barang sekolah bisa dihemat dan lingkungan sekolah selalu bersih. Beliau tak segan mengambil kertas yang didapatinya di lantai lorong dan membuangnya ke tempat sampah.

Perintah untuk membersihkan lantai di lorong ini atau kelas itu tak jarang disampaikannya kepada para pegawai yang dilihatnya. Pada awalnya saya pernah mengira bahwa perintahnya itu langsung ditujukan kepada saya, sehingga saya pun mengambil mop dan membersihkan tempat yang tadi ditunjuknya. Saya punya pengalaman bekerja bakti di seminari dan biara. Menggerakkan mop untuk membersihkan lantai adalah biasa.

“Kok kamu bersihkan sendiri?” tanya Romo Sis ketika bertemu dengan saya lagi.

“Tidak apa-apa, Romo. Memangnya nggak boleh?”

“Sekalian bersihkan kapel, kalau begitu!” katanya diiringi senyum lebar. Bukan pujian yang diucapkannya untuk anak buahnya yang menunjukkan kerajinan agar dilihatnya, melainkan perintah tambahan. Senyum Romo Sis yang jarang selebar itu tampak sebagai ejekan, bukan kegembiraan karena mendapatkan rekan kerja yang luar biasa. “Akan kulihat seberapa tangguh dirimu!” saya baca dari kilat mata dan senyumnya. Peristiwa itu mengajar saya untuk bersikap hati-hati terhadap beliau. Dan sejak itu saya belajar menyelam, bukan mengambang di permukaan.

Suatu ketika terjadi aksi corat-coret di WC Putra. Dinding dipenuhi coretan yang memrihatinkan. Sasarannya adalah X. Semestinya saya harus segera meminta para pegawai untuk membersihkannya. Tetapi saya tidak langsung melakukannya. Saya mencari seorang saksi yang menurut saya sangat dipercaya oleh Romo Sis agar terlebih dulu melihat aksi para murid yang kecewa terhadap perilaku X selama Romo Sis bepergian ke luar negeri. Langsung menghapusnya barangkali justru tidak memberikan pembelajaran, sedangkan menunjukkannya kepada X tidak akan menyelesaikan masalah. Saya memerlukan saksi agar tidak usah menjawab sendiri pertanyaan Romo Sis apabila sekembalinya nanti menanyakan hal itu.

Lebih daripada yang saya harapkan, sang saksi justru mengambil beberapa foto untuk mengabadikan tulisan-tulisan pada dinding itu. Sesudahnya saya baru meminta kepada petugas untuk membersihkannya.

Kejadian itu mengilhami saya untuk menyediakan papan pengumuman di sepanjang tembok WC Putri bagi siapa pun yang ingin menempelkan kritik, saran, usul, maupun sekadar pengumuman. Papan pengumuman itu tidak seperti lainnya yang terkunci, sehingga siapa pun bisa memanfaatkannya. Ketimbang mengotori dinding, lebih baik aksi semacam – kalau ada – diberi saluran resmi saja. Tetapi, papan pengumuman itu ternyata nyaris tidak pernah digunakan.

Beberapa tahun kemudian, ketika Romo Michael selaku kepala sekolah mengizinkan siswa yang sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan untuk melakukan aksi corat-coret pada bedak penjual makanan dan minuman, saya mengatakan, “Romo, saya sulit memahami izin yang Romo berikan!”

“Iya, aku juga nggak mengira akan seperti itu jadinya. Sorry, aku ‘kan nggak selalu benar!” jawab Romo Michael, yang membuat saya menghormatinya.

Sebagai gantinya, saya mengusulkan agar pagar tembok belakang yang sudah saatnya dicat ulang, boleh dilukisi setiap kali OSIS mengadakan berbagai lomba dalam acara tujuhbelasan. Romo Michael setuju karena lomba mural itu sekaligus bisa menghemat cat dan tenaga kerja. Maka jadilah lukisan mural para wakil kelas peserta lomba itu menjadikan dinding pagar lapangan olahraga itu berwarna-warni cerah, bersih, memuat berbagai pesan tematik, dan lucu! Dua tahun terakhir saya senang melihat seputar dinding luar Stadion Gajayana juga dilombakan pelukisannya.

Saya tidak pernah memberitahu X tentang hal itu. Seandainya perlu, saya pikir lebih baik kalau dia mengetahuinya dari orang lain. Romo Sis juga tak pernah menanyakannya kepada saya, karena saya pikir sudah ada orang lain yang memberitahu beliau. Seolah-olah tak ada kejadian istimewa selama Romo Sis pergi. Seolah-olah tak pernah ada murid Dempo yang bisa mengotori dinding dengan kata-kata yang tak pantas. Seolah-olah, X tidak pernah mencederai kepercayaan Romo Sis. Semua berjalan seperti biasa.

Meskipun demikian, saya belajar bahwa keluaran dari aturan yang sama oleh orang yang berbeda tidaklah sama. Cara yang berbeda untuk melaksanakan aturan yang sama pun hasilnya bisa berbeda. Atau dengan perkataan lain, dua orang yang melaksanakan aturan yang sama pun hasilnya bisa berbeda, dan seterusnya.

Lebih dari semuanya, saya juga belajar bahwa Romo Sis adalah pemegang rahasia yang setia. Beliau tidak pernah terpancing untuk menyalahkan apalagi menjelekkan orang lain.

“Kalau memberikan perintah itu mbok ya jelas, Romo,” kata saya suatu ketika, mengulangi anjurannya sendiri, sesuatu yang sering saya lakukan untuk menyindirnya. “Penangkapan orang lain bisa saja berbeda dari yang Romo maksudkan.”

“Iya. Tapi kalau hanya satu yang salah di antara banyak yang benar, kemungkinan besar bukan perintahnya yang salah!” jawabnya, tak mau kalah.

Ya. Itu betul juga.

%d blogger menyukai ini: