• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Alumni

Relational database

Sudah banyak diceritakan bahwa Romo Sis punya daya ingat yang luar biasa tentang nama dan ikhwal murid-muridnya. Dalam hal ini saya punya tandingannya, yaitu P.J. Vollering, O.Carm. yang pernah mengajar beliau di Seminarium Marianum. Setiap kali ditanya tentang kemampuan itu, keduanya menjawab bahwa hal itu hanya soal kemauan, a la bisa karena biasa. Kalau mau pasti mampu. Kekuatan dari dalam hati itulah yang memampukan mereka.

Saya sudah mencobanya. Karena pengolahan data SPP dan nilai, saya ‘mengenal’ anak-anak yang jadi langganan nunggak maupun juara dan sebaliknya kendati tidak pernah bergaul akrab dengan orangnya. Nama lengkap mereka pun saya hafal. Ketika mengajar, saya pun berusaha menghafalkan nama para murid sekelas, termasuk nama panggilan akrab mereka. Dan karena essay test yang biasa saya lakukan, bahkan tulisan tangan mereka pun mudah saya kenali. Apalagi pada angkatan yang saya dampingi sejak kelas I (sekarang kelas X) hingga kelas III (sekarang kelas XII). Setiap orang punya nama dan senang apabila dipanggil dengan namanya.

Maka, kendati para murid sering duduk tak sesuai dengan denah kelas – saya membiarkan mereka melakukannya sesuai prinsip pembelajaran yang saya terapkan – saya tak menemukan kesulitan menyebut nama-nama murid. Saya juga sering nggarap beberapa di antara mereka dengan sengaja memelesetkan nama, misalnya Intan Sari Dewi saya sebut Intan Sari Deni karena oleh teman-teman sekelasnya Deni di-pacok-kan dengan Intan, atau Priska menjadi Priskele setelah rambut lurusnya dikriting, atau sekadar berkomentar “Aduh, Roy! Baru seminggu tak bertemu, sekarang kau sudah berubah jadi cantik!” ketika seorang murid perempuan duduk di kursi Roy (laki-laki) atau “Lho, Nino, dietmu berhasil ya?” ketika seorang teman Nino yang kurus duduk di kursi Nino (yang gendut), tak sesuai denah kelas.

Meskipun demikian, ada juga murid yang mengritik karena namanya tak pernah saya panggil. Ketika berjumpa kembali dalam Reuni Akbar Perayaan Lustrum XIV SMA Katolik St.Albertus yang lalu, saya sengaja mengejutkan adik kelas jauh saya itu dengan memanggil namanya secara lengkap. Namun beberapa kali saya harus menyerah ketika sesudah lama tak bertemu, saya tak segera berhasil menggali kembali nama beberapa alumni yang lebih dulu menyapa. Bisa saja saya beralasan macam-macam, tetapi harus saya akui, baru ratusan saja saya tak bisa mengingat semuanya secara meyakinkan.

Romo Sis tidak. Beliau mengingat semuanya, jauh lebih lengkap daripada yang diperkirakan orang. Bahkan peristiwa-peristiwa kecil atau kebiasaan yang berkaitan dengan muridnya pun diingatnya. Si A ini teman akrabnya si B, saudaranya si C, anaknya si D, cucunya si E. Rumahnya di Jalan F, kuliah di Universitas G, lulusan fakultas H, sekarang bekerja di perusahaan I yang bosnya juga lulusan Dempo tahun sekian, bernama J, dst.

Hati dan kata bentukan operasionalnya: perhatian, itulah yang dimiliki Romo Sis sehingga ingatan akan siapa pun yang dipertemukan dengannya, entah secara profesional maupun personal, terus melekat dan mudah digali lagi setiap saat dibutuhkannya. Kunjungan beliau yang tiba-tiba, sekadar untuk menyapa seluruh anggota keluarga saya, menolak minum atau – kalau sudah terlanjur – cukup sak sruputan kemudian pamit, sungguh mengesankan. Pertanyaan beliau tentang istri, anak, mertua, langsung dengan nama masing-masing sangat menyenangkan.

“Eh, saya belum ngasih hadiah untuk kelahiran anakmu ya?” tanya beliau beberapa hari sesudah kelahiran seorang anak saya.

“Wah. Kalau setiap kelahiran Romo kasih hadiah. Saya mau anak saya banyak!” jawab saya.

“Ya boleh saja. Asal kamu bisa jadi ayah yang bertanggung jawab, ngingoni kabeh!”

“Anaknya guru biasanya banyak. Contohnya Pak Poespo!”

Hehehe … Saya sering menggoda Romo Sis dengan hal-hal kecil semacam itu dan beliau tak kalah tangkas membungkam saya, misalnya dengan menjawab godaan itu lewat kalimat yang ‘membanggakan’: “Iya, tapi kabeh genah, banyak yang jadi imam dan suster! Lha kamu, bisa?”

Pastilah banyak sekali yang mengalami hal serupa karena Romo Sis bergaul dengan siapa saja dengan hati dan perhatian yang sama, terutama mereka yang sedang membutuhkan kehadirannya.

Sayang, dalam posisi sekarang, kita yang mengetahui keutamaan Romo Sis yang sedemikian sederhana cara dan modalnya justru tidak mau meniru sehingga tak mampu melakukan yang serupa dan dengan demikian juga tidak beroleh dukungan yang sama besarnya. Orang-orang zaman sekarang sering lebih disibukkan oleh berbagai kegiatan yang tak langsung berkaitan dengan tugas mereka. Mereka lebih suka memilih yang menyenangkan ketimbang yang diperlukan. Bergaul pun dengan orang-orang tertentu saja dan menunggu orang lain menyapa terlebih dulu. Lebih mudah bagi banyak orang untuk mengingat seseorang ketimbang seseorang yang harus mengingat banyak orang. Maka – selain karena tak berkaitan lagi dengan saya – pencantuman nama diri setiap murid di bagian dada kemejanya sekarang bisa saya maklumi sebagai upaya memudahkan ketimbang memberikan hati dan perhatian.

Romo Sis sangat rajin bekerja di kantornya. Pekerjaan-pekerjaan kecil pun mengasyikkannya. Skala prioritasnya jelas. Sebagai direktur, kepala sekolah, pendidik, guru wong atuwa karo bagi para murid dan alumni, beliau bukan saja memberikan arah, tetapi juga berhasil menjadikan dirinya sendiri sebagai panutan berkat kedisiplinan dan keteguhannya dalam melaksanakan tugas. Maka – kendati saya yakin beliau tak bermaksud egosentris – saya bisa memaklumi mengapa setiap orang lebih suka dilayani langsung olehnya: cespleng, tidak plin-plan dan panjang-lebar-tinggi-dalam cuma berwacana. Proses alamiah itulah yang menumbuhkembangkan cintanya kepada SMA Dempo dan cinta segenap warga SMA Dempo kepadanya. Dengan cinta, tidak ada yang tidak mungkin untuk bersama-sama berdaya dan berjaya!

%d blogger menyukai ini: