• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Anaknya

Naluri yang wajar

Sekali ditolak, Romo Sis tak mau mengulangi permintaannya. Sekali dikecewakan, Romo Sis akan lebih berhati-hati berhubungan dengan orang yang telah mengecewakannya. Sekali puas, Romo Sis tak berhenti minta tolong kepada orang yang tulus membantunya. Sekali percaya, Romo Sis sulit mencari gantinya.

Yauwana Dempo mendapatkan undangan dari Jogjakarta untuk menerima penghargaan dari panitia lomba majalah sekolah tingkat nasional. Saya diminta Romo Sis untuk menghadiri undangan itu. Tetapi saya menolak kalau harus berangkat sendiri karena Yauwana Dempo yang menang itu nyaris seluruhnya adalah garapan para murid. Saya hanya pembantu mereka di bidang teknis dan fasilitator – karena kadang-kadang semangat murid sering dilemahkan oleh birokratisme yang dibangun orang-orang tua dan atau mereka yang sekadar suka dituakan.

“Berilah kebanggaan kepada yang berhak!” kata saya.

“Siapa?”

“Pemimpin redaksinya, Romo!”

Akhirnya, saya berangkat bersama pemimpin redaksi Yauwana Dempo waktu itu, naik bis malam. Sampai di Jogja masih gelap. Saya mengajak sang pemenang yang hampir sepanjang malam tak bisa menyembunyikan kebanggaannya itu untuk transit di sebuah hotel kecil, kelas melati, sekadar untuk meluruskan punggung sejenak, mandi, sarapan dan menghadiri acara di Stadion Kridosono, Jogja. Sesudah acara selesai, kami punya masih waktu berjalan-jalan sebelum langsung kembali ke Malang dengan bis malam pula. Sampai di Malang masih gelap, dan saya mampir ke tempat kos teman muda seperjalanan saya di Bareng sebelum ngebut ke Batu agar tidak terlambat mendampinginya menyerahkan piala kemenangan Yauwana Dempo kepada Romo Sis.

Setelah berpengalaman pemberiannya saya tolak, Romo Sis menerima kembali sisa uang yang dibawakannya untuk sangu. Catatan pengeluaran yang saya buat cepat-cepat tidak dibacanya. Trofi yang kami bawa diterimanya dan ketika sang pemenang meminta upah, Romo Sis mencibir.

“Upah apa lagi? Kamu sudah dapat izin tidak masuk sekolah sehari, saya sangoni nglencer ke Jogja! Mas Her aja ndak minta upah!”

Di luar kantor Romo Sis, saya membujuk teman muda saya itu. “Menjadi aktivis itu harus siap berkorban. Aktivitas yang dilandasi harapan untuk mendapatkan upah akan kurang bermakna bagi usaha menempa ketangguhan diri kita.”

Kami pun berdebat tentang medhit-nya Romo Sis sebelum bunyi bel memanggilnya masuk ke kelasnya dan saya ke rutinitas pekerjaan saya. Pada waktu itu lomba dengan hadiah uang belum marak, apalagi kalau dibandingkan dengan kecenderungan sekarang. Dari segi keuangan, dana yang dikeluarkan sekolah untuk berproses mengikuti sebuah kejuaraan kadang-kadang tak sebanding dengan hadiah uang yang diterima pemenang dan yang kemudian diminta untuk dibagikan atau dihabiskan di restoran. Namun, asal mau merengek lebih keras, Romo Sis akan mengalah dan mau diajak menghadiri pesta yang harus dibayarnya.

Teman muda saya itu sampai sekarang masih tergolong aktivis. Kabar tentang Romo Sis tak pernah dilewatkannya. Rupanya pengalaman urunan untuk mengadakan penelitian sendiri, sulitnya menembus birokrasi di sekolah sendiri, dan mengikuti lomba dengan dana sendiri, telah menjadikannya seorang yang tidak ijir terhadap kehidupan yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan sesamanya. Beberapa kali kami masih membicarakan Romo Sis, termasuk: “Saya dengar, melihat, dan mengalami sendiri, Romo Sis senang pada anak laki-laki!”

“Hush. Jangan ngawur!” hardik saya.

“Iya. Terutama yang good-lookings. Pakai peluk-peluk dan cium pipi segala! Mas Her pasti juga pernah mengalaminya ‘kan?”

Saya tertawa. “Itu wajar saja. Beliau tidak sama sekali bebas dari naluri kebapakannya. Dengan saudara-saudara seserikatnya pun beliau lakukan hal yang sama. Kalau kau merasa risih diperlakukan begitu, ya bilang saja. Pasti beliau mengerti.”

“Mas Her berani?”

“Berani saja. Bagi saya Romo Sis bukan pribadi yang menakutkan. Beliau justru seorang yang haus kasih sayang ketika menumpahkan hampir seluruh hidupnya untuk menyayangi kita semua. Saya pernah menegurnya ketika akan menjewer saya. Dulu, ketika saya masih murid, tidak apa-apa. Sekarang saya sudah jadi orangtua. Apa jadinya kalau saya terlihat dijewernya oleh anak-anak Dempo?”

“Ah. Mas Her tidak menjawab pertanyaan saya!”

Saya hanya tertawa. Hehehe … Tentang Romo Sis, memang adaaa aja!

%d blogger menyukai ini: