• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Arisan Dempo

Romo Sis: Penggali dana yang tekun

‘Kekhawatiran’ saya terjadi. Tak lama sesudah pensiun, Romo Sis sering muncul di Dempo dengan kegiatan baru: Arisan Dempo. Kembali saya diminta tolong untuk menyiapkan administrasinya. Beberapa pegawai diminta untuk membantu penagihan uang arisan dari para peserta. Romo Michael tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengiyakan saja karena Romo Sis mendirikan arisan itu untuk menggali dana bagi pendidikan para calon imam dan imam muda Karmelit.

Arisan gotong royong itu sesungguhnya merupakan peniruan dari arisan serupa yang sudah terlebih dulu diadakan umat di Paroki Gembala Baik, Batu dan kemudian ditiru pula oleh Keuskupan Malang. Romo Sis yang sangat menyadari potensi alumni, donator dan teman-temannya tentu tak mau mengabaikannya. Data pribadi siswa pun ditelitinya. Orangtua/ wali murid yang beliau kenal baik dan suka membantu dimintanya untuk menjadi peserta arisan. Sebuah rencana permintaan sumbangan oleh SMA Dempo sendiri terpaksa harus dibatalkan karena tak mungkin melawan ‘kesaktian’ Romo Sis yang juga sudah merambah ke bisnis sejenis MLM yang kemudian tak tentu rimbanya. Jaminan akan ‘untung’ mudah menggerakkan Romo Sis untuk segera bertindak.

Begitulah. Formulir segera beredar. Kenalan baik Romo Sis digerakkan untuk ikut dan sekaligus ‘memasarkan’ arisan itu. Dalam waktu singkat terkumpullah lebih kurang 800 nomor peserta sehingga harus dibagi menjadi dua kelompok. Terbukti sekali lagi, nama dan tanda tangan beliau memang laku keras di antara alumni, donator dan teman-temannya. Krisis ekonomi nasional sejak 1997-1998 justru menjadi blessing in disguise di tangan Romo Sis.

Saya tidak pernah mau terlibat langsung dalam arisan itu setelah menyiapkan berbagai surat dan formulirnya. Meskipun demikian, saya harus merelakan seorang pegawai ikut disibukkan untuk menerima uang arisan, menelepon dan dua orang lain lagi menjadi jurutagih. Karena sungkan kepada Romo Michael yang beberapa kali harus dikalahkan karena pegawai yang dibutuhkannya sedang melaksanakan tugas dari Romo Sis berkaitan dengan Arisan Dempo dan kekhawatiran saya akan kelancaran setoran maupun alasan lain, saya mendukung usul agar Romo Sis merekrut ‘jurutagih profesional’.

Beberapa peserta yang dikenal sangat baik oleh Romo Sis akan diteleponnya sendiri sekadar untuk memberitahukan nomor-nomor yang mendapatkan hadiah utama atau hadiah hiburan. Saya tidak heran ketika mendengar Romo Sis mengatakan pertelepon: “Nomormu keluar. Uangnya saya transfer ke rekeningmu atau ke rekening saya?” dan kelakar serupa yang lebih sering menjadi kenyataan yang dituju Romo Sis daripada tidak. Saya juga tidak perlu tertawa ngakak seperti teman-teman lain ketika seorang rekan menceritakan gaya Romo Sis meminta sumbangan darinya.

“Map diletakkannya di meja, didorongnya ke arah saya, kemudian beliau melipat tangannya di atas perut. Tidak omong apa-apa. Dengan begitu saya terdorong untuk tahu diri, mengambil map itu, membukanya, membaca sepintas proposalnya dan menandatangani kuitansi yang sudah disiapkan di dalam map itu. Sesudah itu beliau bilang terima kasih dan kami ngobrol soal lain. Perhatiannya kepada orangtua, saudara-saudara dan keluarga saya sendiri sangat besar. Maka, sulit menolak permintaannya!”

Meskipun demikian, Arisan Dempo tampaknya menjadi alternatif permintaan sumbangan tanpa kontraprestasi. Peserta menitipkan uangnya setiap bulan dan menerima kembali akumulasinya pada bulan ke-41. Romo Sis hanya mengambil bunga bank dari total setoran para peserta arisan. Dengan demikian, setiap nomor peserta menghasilkan Rp 10.000.000,oo (40 bulan x Rp 250.000,oo) ditambah hadiah hiburan. Jumlah itu tampaknya tak mengganggu para peserta kendati nilainya pasti sudah merosot karena laju inflasi yang tak berhasil direm pemerintah.

Setelah Romo Sis wafat, sesungguhnya pihak Ordo Karmel dan SMA Katolik St.Albertus tidak terlalu bersemangat melanjutkan arisan itu. Saya meminta agar teman-teman di IKeSA mau menindaklanjutinya dengan pertimbangan: tak layak Ordo Karmel maupun SMA Katolik St.Albertus menyelenggarakan arisan untuk menggali dana bagi kepentingan mereka sendiri, namun tak layak pula mengabaikan kehendak baik para peserta (dan calon peserta) yang mau mengikutinya untuk membantu tanpa merasa melulu dimintai sumbangan. Selain itu, arisan adalah salah satu bentuk komunikasi dan jalinan keakraban antaralumni dan donator yang efektif.

Desakan Pengurus IKeSA Malang ternyata berhasil membangkitkan lagi semangat berarisan guna menindaklanjuti usaha Romo Sis. Pengurus IKeSA bahkan sempat membulatkan tekad untuk menyelenggarakannya sendiri apabila Ordo Karmel dan SMA Katolik St.Albertus tidak berminat. Akhirnya diputuskan untuk meneruskan periode arisan itu. Kali ini, Alm. Romo Sis hanya menjadi maskot. Teman-teman di IKeSA punya joke begini: “Romo Sis bikin arisan sendiri bersama Hendro Toemali (Bendahara Arisan Dempo yang juga sudah wafat) di sana. Kita yang diwarisi pekerjaannya di dunia!”

Penanggung jawab Arisan Dempo II adalah Ordo Karmel melalui Ketua Komisi Keuangannya (dijabat oleh Romo Michael, mantan Kepala SMA Katolik St.Albertus) dan IKeSA Malang. Seperti biasa terjadi dalam ‘kerja sama antarkeluarga’, tidak ada perjanjian hitam di atas putih tentang hal itu. Pengikatnya hanya satu: Romo Sis. Kendati subyektif, saya pun berani menyatakan bahwa keikutsertaan para partisipan sebagian besar adalah karena mereka mencintai Romo Sis dan juga karena ‘gerilya’ teman-teman IKeSA. Hasil bersih arisan direncanakan dibagi dua: untuk Ordo Karmel melalui SMA Katolik St.Albertus dan untuk IKeSA Malang agar semakin berdaya dalam berbuat baik bagi Alma Mater. Maka jelaslah, meskipun dibagi dua, muaranya satu seperti sumbernya pun satu. IKeSA Malang menerima bagian separuh tidak untuk para pengurusnya, melainkan untuk dapat melancarkan program kerjanya, antara lain melayani sebagian kebutuhan para pensiunan guru/ karyawan Dempo. Pertimbangannya: yang masih aktif adalah tanggung jawab institusinya, sedangkan yang sudah purnakarya masih dihormati dan dikenang jasanya oleh para mantan murid. Selebihnya adalah: dana yang bisa dikumpulkan IKeSA Malang, baik dari urunan maupun sumbangan, belum cukup untuk memberikan lebih daripada yang sekarang sudah dilakukan. Apakah penghormatan dan kenangan oleh para alumnus/ alumna Dempo (yang lulus kemudian) itu masih akan ‘dinikmati’ oleh para guru/ karyawan yang sekarang masih aktif? Semoga!

Arisan Dempo II sudah ditutup pada bulan Mei 2006. Seluruh peserta sudah menerima kembali uangnya. Meskipun ada yang tidak setuju karena besarnya risiko dan berbagai kesibukan, teman-teman IKeSA sempat merencanakan penyelenggaraan Arisan Dempo III. Penyelenggaranya bukan lagi dua melainkan tiga: Ordo Karmel, IKeSA Malang dan SMA Katolik St.Albertus dengan pembagian Sisa Hasil Arisan yang juga sudah ditentukan perbandingannya. Sebagai pelaksana – karena tujuannya adalah membantu – IKeSA justru mendapatkan bagian terkecil. Apalagi Kepala SMA Dempo sudah menjanjikan akan memberikan tempat untuk IKeSA di dalam kompleks sekolah untuk dijadikan Sekretariat IKeSA sekaligus Dempo Alumni Center. Sayang janji itu kemudian tidak terpenuhi sebagaimana dibicarakan. IKeSA Malang pun akhirnya menutup buku rencananya tentang Arisan Dempo III. Terakhir saya dengar, sebagai gantinya Ordo Karmel dan SMA Katolik St.Albertus akan menyelenggarakan sendiri Arisan Dempo – Karmel. Semoga sukses!

%d blogger menyukai ini: