• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Beasiswa

Godfather

Belasan tahun lalu saya pernah mengritik Romo Sis begini: “Jangan hanya para imam muda potensial saja yang didanai untuk studi lanjut, para guru juga, dong!”

“Siapa?”

“Ya siapa sajalah yang mau meningkatkan kompetensinya!”

“Terus, kalau sudah kuliah, S2, S3, pamit ya?”

“Itu ‘kan bergantung bagaimana Romo mengaturnya. Di SD A, para gurunya juga disekolahkan yayasan, tapi mereka tetap setia. Padahal, itu SD!”

“Baik. Kalau ada yang mau kuliah lagi, suruh datang ke saya. Nanti saya pertimbangkan!”

Dan beliau menjawab: “Kamu mau kuliah lagi? Kuliahlah!”

“Saya sudah kuliah, Romo, dan hampir selesai!”

“Ya sudah,” jawabnya sambil tersenyum tipis. Dari perbincangan kami dan pengamatan berikutnya, saya tahu bahwa beliau sangat senang membantu orang yang mau terus belajar.

Agak lama sebelum itu saya juga mengusulkan kepada beliau: “Saya lebih suka memanggil frater daripada bruder karena panggilan bruder berkesan negatif, seolah-olah frater bukan calon imam hanyalah biarawan kelas dua, yang cuma bisa ditugasi mengurus rumah tangga dan tugas-tugas setingkat itu saja. Biarawan muda bukan calon imam yang mantap dan pandai hendaknya juga dikuliahkan untuk membuat Ordo Karmel lebih bermutu!”

Dan saya senang sekali ketika beberapa frater bukan calon imam kuliah. Dua di antara mereka sekarang menjadi kepala sekolah. Pastilah itu terjadi bukan karena usul saya, karena Romo Sis tidak mengomentari usul itu dan bukan beliau satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Namun, bahwa hal itu terjadi sudah cukup menghibur saya.

Seorang alumna yang baru beberapa hari lulus dan sedang mengurus berkas-berkas kelulusannya saya tanya: “Melanjutkan ke mana?”

“Tidak tahu, Pak,” jawabnya. Kemudian dia menceritakan keadaan keluarganya yang tidak meyakinkannya untuk bisa kuliah. Padahal, dia ingin menjadi arsitek. Saya anjurkan kepadanya untuk menemui Romo Sis dan menceritakan masalahnya itu kepada beliau.

Beberapa waktu kemudian dia datang lagi menemui saya dan mengatakan dia diterima di fakultas dan universitas yang diidamkan tanpa perlu kuatir tentang dana. Dia mengucapkan terima kasih sambil meneteskan air mata. Tetapi setelah itu tak ada kabar berita tentangnya. Begitu pula beberapa orang lain yang saya tahu mendapatkan bantuan lewat Romo Sis untuk menyelesaikan kuliah.

Terus terang, saya ketularan kebiasaan Romo Sis dalam hal itu, meskipun kemampuan saya jelas jauh berbeda. Bersama seorang imam yang peduli, saya rajin mendatangi rumah-rumah murid yang menunggak SPP dan meminta mereka agar tetap bersemangat belajar. Kepada seorang teman yang kedua anaknya dapat belajar di sekolah-sekolah terbaik dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi yang terkenal di luar negeri dan dengan beasiswa pula, saya anjurkan untuk ‘mengalihkan’ dana pendidikan yang sudah disiapkannya untuk mereka kepada anak-anak orang lain yang tak mampu. “Jadilah orangtua asuh, Pak!” Seorang teman muda yang pintar dan orangtuanya kaya saya beri usul agar beasiswa yang diterimanya dilimpahkannya kepada ‘saudara asuh’ tanpa perlu berpikir panjang apakah yang dibantunya kelak akan ingat jasanya.

Pastikan bahwa saya takkan berani menyombongkan diri karena yang saya lakukan semestinya suatu hal lazim yang bisa dilakukan banyak orang. Tidak ada pretensi atau tendensi lain. Saya hanya ingin mengajak lebih banyak lagi orang yang mau memberikan sedikit dari kelebihannya untuk membantu orang lain, terutama bila menyangkut pendidikan. Karena statusnya, Romo Sis pasti bukan orang kaya. Namun beliau bisa membantu orang lain dan tampaknya tak pernah merepotkan dirinya dengan pertanyaan apakah yang sudah dibantunya itu kelak akan membalas budi baiknya atau tidak. Sejarah telah membuktikan, banyak alumni senang membantu Romo Sis bila beliau meminta bantuan mereka. Apakah di antara mereka itu pernah dibantu Romo Sis? Sekurang-kurangnya, perhatian beliau yang tak pandang bulu sudah menebarkan cinta yang tak kunjung padam terhadap pendidikan dan pendampingan kaum muda di hati murid-muridnya.

%d blogger menyukai ini: