• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Dana Reuni

Lebih bijaksana

Dua reuni akbar berjarak sepuluh tahunan (1986 dan 1996) menghasilkan sejumlah dana sumbangan para alumni. Romo Sis berpikir akan menjadikannya sebagai dana abadi, sehingga hanya menggunakan bunganya untuk berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan guru/ pegawai Dempo. Kendati tidak ikut mengurusnya, saya diminta untuk membuat formula yang tepat untuk membagi sejumlah uang yang sudah ditetapkannya bersama beberapa orang. Katakunci permintaannya adalah: yang bekerja lebih lama, menerima lebih banyak.

Begitulah Romo Sis. Setiap kali mengadakan rapat, misalnya, beliau sudah terlebih dulu menyiapkan konsep yang dimintakan penyempurnaannya oleh para peserta rapat. Formula yang saya usulkan diterima, dan demikian dilakukan setiap dua tahun. Para guru dan pegawai menerima sejumlah dana yang lazim disebut ‘Dana Reuni’. Romo Sis sangat kecewa ketika ada yang mengusulkan agar dana itu dibagi habis. “Sa’enake dhewe ae!”

Saya mendukung penolakannya karena ingat persis bahwa formulir permintaan sumbangan yang saya siapkan untuk disebarkan dalam kedua reuni itu mencantumkan beberapa item dan peningkatan kesejahteraan guru/ pegawai bukan item pada urutan pertama.

Beberapa tahun kemudian Romo Sis mengeluh bahwa bunga dana itu tak lagi cukup, sehingga pembagiannya harus memakan sebagian pokoknya. Saya tidak bisa memberikan usul apa-apa kecuali agar beliau mengusahakan tambahan dana itu atau mengoreksi formula pembagiannya. Dengan berat hati, Romo Sis meminta saya membuat surat kepada para pensiunan bahwa dana yang mereka terima tahun itu adalah yang terakhir. Selanjutnya mereka tidak akan menerimanya lagi seperti ketika masih aktif.

Saya mengingatkan, “Bukankah sumbangan itu diberikan oleh alumni justru karena – antara lain – mereka berniat membantu para guru yang pernah mengajar mereka?”

“Benar. Tapi jumlah pensiunan jauh lebih sedikit daripada yang masih aktif. Mereka pasti bisa memakluminya.”

Saya pun akhirnya maklum. Para guru senior yang sudah pensiun tentu lebih mudah menerima keputusan itu karena selama bekerja sama dalam waktu yang sedemikian panjang dengannya, Romo Sis dan mereka sudah saling mengenal baik. Demikian pula dengan guru-guru yang masih aktif. Romo Sis pun mengenal mereka dengan sangat baik.

Saya tidak tahu berapa jumlah dana itu sepeninggal Romo Sis. Bagi saya itu tidak penting. Tak layak menjadikannya masalah ketika Romo Sis masih hidup dan lebih tak layak lagi setelah beliau wafat. Jauh lebih penting daripada mencari kesalahan adalah melakukan hal-hal yang baik secara lebih baik pula di masa mendatang. Transparansi dan komitmen pada niat awali yang serba baik hendaknya tidak direduksi dengan alasan-alasan pribadi. Saya percaya bahwa alumni Dempo tidak akan terganggu oleh kenangan masa lampau ketika mereka diajak menatap masa depan.

Sas-sus yang pernah saya dengar tentang dana itu barangkali diakibatkan oleh ketidakpahaman dan ego yang tak terkendali akan sesuatu yang sesungguhnya bukan hak. Namun, menjadi jelas bagi saya bahwa transparansi sewajarnya dan komitmen yang kuat akan menghindarkan kita dari berbagai hal yang merepotkan. Romo Sis bukan tidak menyadarinya, tetapi cinta personal yang selalu mengarah kepadanya ternyata tidak mendorong orang lain untuk memintanya dengan baik dan benar. Sebagaimana saya tulis dalam “Sukses Alumni Dempo” (1996), keraguan akan kebaikan hatinya justru membuat beliau jatuh sakit menjelang Perayaan Lustrum XII SMA Katolik St.Albertus hingga perlu dirawat beberapa hari di RKZ Malang. Menurut beliau sendiri, sakit itu justru layak disyukurinya karena telah membuatnya lebih bijaksana.

Terbukti memang begitu. Suatu malam, saat masuk ke ruang perawatannya untuk menerima beberapa instruksi tentang reuni, saya melihat seorang guru mengintip dari jendela yang mengarah ke taman, tak berani masuk lewat pintu yang dijaga perawat karena pengumuman di pintu masuk ruang VIP Romo Sis: “Dilarang menerima kunjungan”. Saya memberitahukannya kepada Romo Sis. Beliau menyuruh saya mengajak masuk si guru – nanti, setelah beliau selesai dengan saya. “Tolong suruh Romo Anu bawakan saya sarung dan alat cukur!” perintah beliau karena sudah beberapa hari tak berganti sarung dan saya mengritik cambang dan kumis yang tumbuh liar di wajahnya.

“Meskipun sakit, tampilan ya harus tetap dijaga, Romo! Kasihan tante-tante cantik dan wangi yang berkunjung dengan aneka oleh-oleh!” goda saya.

“Saya tidak boleh dikunjungi,” kilah beliau. Saya tahu, itu bohong. Tak ada tamu yang ditolak kalau mau nekat. Tetapi, supaya istirahat beliau tidak terganggu, beliau justru tidur dalam jam berkunjung. Trik itu memang tak selalu berhasil, tetapi bisa mengurangi kerumunan pengunjung yang ingin menjenguk bapak, sahabat, imam, dan pendidiknya. Yang tak berani nekat ya seperti guru itu, berusaha memuaskan dirinya dengan hanya mengintip si sakit dari kejauhan. Maka, dia sangat berterimakasih ketika saya ajak masuk dan bertemu dengan patron Dempo itu sebentar saja.

Panitia Reuni Akbar dalam rangka Perayaan Lustrum XIV (70 tahun) SMA Katolik St.Albertus 2006 belum pernah bicara tentang ‘Dana Reuni’. Saya juga tak berniat mengusulkannya karena beberapa alasan. Kesan saya, karena pengelolaan dana itu di masa lampau tidak transparan, maka sulit dijamin kesinambungannya. Beberapa orang bahkan ‘menderita’ trauma ketika diajak memikirkannya. Kalau komitmen tentang ‘Dana Reuni’ itu pun sulit dipertahankan pada masa Romo Sis masih ada, siapakah yang mau dan akan mampu bertanggung jawab tentang kehendak baik alumni bagi Alma Maternya? Panitia Reuni Akbar 2006 memang sempat menggagas penyebaran formulir permintaan dana, tetapi tidak secara khusus dimaksudkan untuk menghidupkan kembali ‘Dana Reuni’ yang dibentuk 20 tahun lalu. Semoga para peserta reuni nanti tidak pernah menanyakan sumbangannya sudah digunakan untuk apa saja dan (kelak) mantan panitia tidak pernah diminta untuk ‘menguruskan’ pembagiannya bagi para guru saja.

Terakhir saya mendengar bahwa pokok dana itu sekarang sudah tinggal 30% karena 70%-nya diminta oleh para pensiunan. Wah.

%d blogger menyukai ini: