• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Dansos

“Bubarkan saja!”

Romo Sis menyetujui usul pembentukan Dana Sosial bagi guru/ pegawai. Beliau pun mendaftarkan diri sebagai anggota dengan membantu dana awal karena tahu iuran perbulan dari para anggotanya tak lebih dari Rp 100.000,oo Saya ditunjuk sebagai ‘bendahara bayangan’ dan pada periode kemudian sekaligus ‘sekretaris bayangan’. Maka saya pun membantu menyusun sebuah statuta agar perkumpulan itu punya aturan yang jelas.

Tahun demi tahun berlalu. Dansos itu beberapa kali mengalami defisit dan Romo Sis tanpa ribut-ribut mau nomboki. “Kalau tujuannya baik, tak perlu takut uangnya habis!” Dalam kepengurusan periode berikutnya, saya tak menjadi pengurus ‘bayangan’ lagi. Sebagai bendahara saya meminta agar tabungan Dansos diatasnamakan Romo Sis untuk mengatasi masalah yang terjadi sebelumnya.

H. Atim (Alm), penjual gado-gado di Jalan Gede atas amanat teman-temannya bersedia menjadi kolektor sumbangan para penjual makanan-minuman di Jalan Gede bagi Dansos. Padahal sumbangan itu semula diminta sebagai partisipasi mereka untuk pemeliharaan kebersihan tembok yang tampak kumuh. Romo Sis sangat menghargai kesediaan mereka dan karena mereka mau menyumbang setiap bulan, Romo Sis kemudian menyerahkan sumbangan itu bagi Dansos.

“Wah. Apa kita nggak malu, Romo?” tanya saya. Romo Sis hanya tersenyum tipis.

Setiap bulan saya menyambut Abah Atim (panggilan Pak saya ganti dengan Abah setelah beliau menunaikan ibadah haji) yang menemui saya untuk menyetorkan sumbangan itu. Saya tak pernah perlu menagih (karena tak punya nyali untuk melakukannya!). Abah Atim tak pernah absen mewakili teman-temannya yang telah berbuat baik.

Sejak saat itu saya berkomitmen untuk mengembalikan setiap hak yang saya terima dari Dansos. Yang terakhir, amplop yang saya terima dari Ketua Dansos dalam upacara pelepasan saya dari Dempo saya kembalikan kepada yang bersangkutan ketika ia mendapatkan giliran menyalami saya. Tak perlu penjelasan, karena saya pikir ia sudah memaklumi alasan saya.

Ada periode saya tak menjadi pengurus. Kas Dansos bertambah dengan cepat karena guru-guru menjual bekas-bekas soal ulangan umum kepada murid. Saya menentang, tapi ternyata sendirian. Bagi saya, itu tak etis. Para murid harus sudah membayar lunas setiap soal sebelum mengikuti ulangan umum. Semestinya, soal itu adalah hak mereka. Tapi saya bisa maklum mengapa soal-soal itu tidak boleh mereka bawa pulang. Selama beberapa tahun sebelumnya saya setuju menjualnya kepada seorang pembeli (kebetulan ayah seorang murid berprestasi) yang menjamin bahwa soal-soal itu dihancurkan. Dan hasil penjualannya saya serahkan kepada Bendahara.

Karena sendirian, akhirnya saya diam. Dan selama hal itu dilakukan, sebagai protes diam, saya tak pernah menyentuh hidangan yang disediakan pengurus Dansos tatkala rapat. Menurut saya, pengurus sudah melakukan kesalahan dua kali. Pertama, menjual yang bukan haknya (karena soal-soal itu sesungguhnya adalah milik para murid yang sudah naik kelas atau lulus). Kedua, menggunakan uang kas untuk membeli makanan bagi pengurus.

Saya bersyukur karena pengurus kemudian tidak menuruti permintaan sebagian anggota yang belum pernah menerima sumbangan/ santunan Dansos karena tak pernah sakit atau tertimpa musibah. Begitu pula dengan penggunaan kas Dansos untuk bingkisan Natal. Tak mudah bagi saya untuk memahami jalan pikiran itu. Bukankah statuta Dansos itu sudah dibagikan kepada setiap peserta? Tidakkah mereka pernah membaca dan memahami visi-misi yang indah bagi solidaritas itu?

Suatu ketika Romo Sis yang sudah tidak menjadi Kepala Sekolah mengejek saya: “Kalau begitu, bubarkan saja Dansos itu!”

“Romo ini lucu! Masak saya bisa membubarkan Dansos?”

“Suruh Romo Michael membubarkan!” (Pastilah maksudnya bukan menyuruh saya ‘menyuruh’ Romo Michael!).

“Romo saja yang menyuruh!”

“Licik!”

Hehehe … Romo Sis tak berhasil memanaskan saya (Malangan: licik = penakut).

%d blogger menyukai ini: