• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Doa Orangtuanya

“Weruh sa’durunge winarah”

Suatu hari Romo Sis memanggil saya ke kantornya. Karena merasa tak punya salah, saya bingung juga mengapa saya dipanggil. Eh, mungkin saja beliau mau memberitahu saya ada kiriman uang, entah dari orangtua atau honorarium tulisan saya. Tapi ternyata tidak.

“Kowe bisa basa Jawa krama?”

“Saged, namung mboten patosa sae, Romo,” jawab saya. Rupanya beliau mau ngetes saya sebelum memberikan sebuah tugas. Dan tugas itu adalah menerjemahkan doa Ibu Poespowardojo sesaat sebelum bersama suaminya tercinta menjadi korban pembunuhan. Doa itu ditulis dalam bahasa Jawa krama di sebalik lembaran kalender. Saya nekad menerima tugas itu meskipun tak terlalu yakin. Harap maklum, saya ‘hanya’ keturunan ayah yang wong Solo, tapi lahir di Surabaya, mengenyam SD di Solo hanya tiga tahun plus satu setengah tahun SMA, sedangkan sisanya saya jalani di berbagai kota, mengikuti tempat tugas ayah saya.

Saya ‘menggubah’ doa yang sangat indah itu menjadi sebuah puisi. Terus terang, terjemahannya pastilah tak sebagus dalam bahasa aslinya. ‘Kisah’ dalam doa itu adalah kepasrahan pasutri Poespowardojo untuk menerima kematian yang ditentukan Allah terhadap mereka berdua kapan, di mana dan bagaimana pun setelah kebahagiaan seumur hidup dan anugerah anak-anak yang mereka terima dari Sang Mahacinta. Seolah-olah weruh sa’durunge winarah, Ibu Poespowardojo meminta agar Tuhan menganugerahi mereka kematian yang indah sebagai pamungkas kebahagiaan hidup mereka dan bukti kecintaan mereka kepada-Nya. Dari tanggal yang dicantumkan, jelas bahwa doa itu ditulis tidak lama sebelum pasutri lanjut usia itu tewas secara mengenaskan di tangan pembunuh mereka berdua.

Saya tidak tahu mengapa saya yang disuruh menerjemahkannya, bukan orang lain, misalnya Pak Diro, adik iparnya sendiri, yang selain orang Jawa Tengah pasti juga ahli berbahasa Jawa (menurut data kepegawaian di Dempo, Br. Soediro lahir di Surakarta dan lulusan B-1 Bahasa Jawa). Atau Romo Sis sendiri yang bertutur kata selalu halus. Karena merasa terhormat itulah saya mengerjakannya dalam waktu yang singkat dan dengan nafas yang berat karena terharu oleh doa seindah yang ditulis Ibu Poespowardojo, ibu dari anak-anak yang luar biasa: salah satunya adalah Romo Sis.

Ketika puisi itu saya serahkan, Romo Sis menyuruh saya menunggu sementara beliau membacanya. Agak lama kemudian, beliau mengangkat wajah dan saya melihat senyumnya mengembang. “Bagus. Terima kasih,” katanya. “Ada beberapa orang yang meminta doa ini, tetapi mereka tidak mengerti bahasa Jawa,” lanjutnya menjelaskan.

Saya bangga disuruhnya menerjemahkan doa itu. Lama kemudian saya menyadari bahwa Romo Sis seolah-olah merencanakan sesuatu setiap kali mulai memotivasi seseorang. Sesudah peristiwa itu saya sering disuruhnya mengerjakan ini-itu yang berhubungan dengan hal kebahasaan. Suatu kali beliau melihat saya membaca buku berbahasa Inggris. Beliau memerhatikan buku itu dan bertanya: “Bisa mengerti isinya?” Dan saya menjelaskan sekenanya. Tak lupa sesekali menanyakan arti kata ini atau itu.

Setelah masuk Dempo lagi sebagai pegawai, saya langsung ditugasi Romo Sis mengurus surat-menyurat resminya dengan lebih dulu mempelajari yang sudah ada. Pada awalnya memang tidak selalu mulus karena Romo Sis selalu mengritik ini-itu tidak benar, menanyakan subyeknya mana, predikatnya mana, etc. Sangat jelas saya rasakan pada waktu itu bahwa beliau hendak mencobai saya. Tapi tak lama kemudian, tampaknya beliau sudah bisa memercayai saya sehingga mudah menorehkan tanda tangannya tanpa harus bertengkar dulu dengan saya.

Seorang imam yang sekarang bertugas di KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) pernah menceritakan keheranannya semasa masih menjadi siswa seminari menengah. Romo Sis sering menyuruhnya mengerjakan soal-soal pembukuan keuangan (tata buku, kemudian dikenal dengan nama akuntansi), jauh lebih banyak daripada yang diberikan guru tata buku di Dempo. Berbagai buku latihan soal diberikan kepadanya untuk dikerjakan dalam tenggang waktu tertentu.

Keheranan itu ternyata membuahkan pengetahuan dan tugas berat yang kini disandangnya. Kalau mau, pasti mampu. Selain di Dempo, sang imam tak pernah belajar tentang tata buku. Setelah tahbisan imamat, ia mendapat tugas sebagai ekonom. Tidak harus lulus dari fakultas ekonomi atau keuangan, perbankan, etc., studi di perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri untuk bisa menjadi seperti sekarang: pribadi yang tangguh, cepat-tepat karena berpengetahuan luas dan dalam untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang pastilah sangat berat, namun dengan tetap menjadi pendoa yang tekun.

%d blogger menyukai ini: