• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Ekspansi

“Kalau saja semua bisa selancar dikatakan!”

Suatu saat, sepulang beliau dari suatu kunjungan ke Jakarta, Romo Sis tampak sulit menyembunyikan kegembiraannya.

“Ada sekelompok orang, sebagian besar alumni, menginginkan agar saya membuka sekolah di Jakarta. Tolong kamu buatkan proposalnya, kalau perlu lengkapi dengan blue-print pembangunannya. Mereka nanti akan menyediakan tanah dan dana.”

Segera saya laksanakan perintahnya. Antusiasme Romo Sis menulari saya. Bukan main, pikir saya waktu itu. Ini pasti superserius, karena telah membuat Romo Sis sangat bersemangat!

Setelah proposal beserta kelengkapannya selesai, Romo Sis kembali ke Jakarta dengan bahan-bahan yang saya siapkan. Dengan hati sering berdebar-debar, saya menantikan Romo Sis kembali ke Malang dengan membawa kabar gembira. Tetapi hal itu tidak terjadi. Orang lainlah yang diminta beliau memberitahu saya bahwa rencana besar itu tidak jadi dilaksanakan.

“Apakah proposal itu terlalu ideal?” tanya saya kepada beliau.

“Ndak,” jawab beliau pendek. Saya mengerti bahwa Romo Sis tidak suka membicarakannya.

Dalam beberapa obrolan tatkala senggang, saya menyinggung perlunya Yayasan Sancta Maria memiliki SMP sendiri, bahkan juga perguruan tinggi. Tetapi jawaban Romo Sis selalu kembali pada alasan: tidak ada tenaga.

“Mengapa selalu berpikir tidak ada tenaga? Bukankah tak harus melaksanakannya sendiri? Yayasan bisa mengangkat seorang untuk menjadi delegatus atau direktur karya pendidikan untuk melaksanakan supervisi, sedangkan pimpinan unit karya bisa diserahkan kepada awam profesional. Itu justru akan bisa menghindarkan Romo dari rasa ewuh pekewuh yang tidak perlu dalam pembinaan unit-unit karya itu. Pemeliharaan katolisitas dan atau nilai-nilai kependidikan Ordo Karmel saja yang menjadi tanggung jawab Yayasan, sedangkan operasionalisasinya menjadi urusan orang lain. Dengan begitu, profesionalitas justru akan berkembang di unit-unit karya itu!” Tetapi bukan Romo Sis kalau tidak bisa mendengarkan sampai tuntas perkataan orang lain sebelum menanggapinya dengan ringan untuk menutup percakapan: “Kalau saja semua bisa selancar dikatakan!”

%d blogger menyukai ini: