• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Guyon

“Tak sangoni!”

Romo Sis mungkin tidak ingin mengecewakan orang lain yang mengira dirinya begini atau begitu. Kesan ini tumbuh dalam diri saya karena beberapa kali mendengar komentarnya dalam nada guyon, “Kurang ajar si Anu iku! Masa’ saya dibilang begini (begitu)!” Tapi, “Sssttt, ini rahasia. Jangan bilang-bilang lho!” Ah, Romo Sis tampaknya juga menikmati ketidakbenaran yang menyenangkan dirinya!

Meskipun terkenal pendiam, menurut saya sense of humor Romo Sis tergolong sangat tinggi! Beberapa kali saya pernah dikerjai beliau juga. Setelah saya ingat-ingat, itu sering dilakukannya untuk membalas kenakalan saya dengan teguran secara tak langsung yang saya rasakan luar biasa dampaknya untuk belajar menempa diri sendiri. Rasanya, Romo Sis tahu benar bahwa saya tidak suka disuruh-suruh apalagi dimarahi secara langsung. Dalam pengalaman berinteraksi dengannya, saya akhirnya tahu bahwa beliau menemukan cara yang ternyata lebih efektif daripada cuma marah.

Petugas ekspedisi di Dempo pernah jadi sasaran olok-olok di kantor ketika ia melaporkan bahwa ongkos kirim surat Romo Sis ke USA sangat mahal, Rp 60.000,oo Menanggapi laporan itu Romo Sis mengatakan: “Itu murah! Apa kamu pasti bisa menyampaikan surat itu ke alamatnya kalau berangkat sendiri ke sana? Tak sangoni!”

Beberapa hari sebelum absen di sekolah, kepada Pak Jalu (1990), Romo Sis menitipkan sesuatu sambil berpesan: “Berikan ini kepada Pak Her!” Saat itu saya sedang duduk di sebelah Pak Jalu, membaca, sehingga oleh Romo Sis wajah saya tak tampak.

Pak Jalu bertanya, “Pak Her siapa, Romo?” (saat itu yang dipanggil Pak Her di Dempo hanya saya setelah Pak Heryanto, guru biologi, pensiun dan Herlambang, guru komputer, mengundurkan diri).

Mendengar suara beliau saja, saya sudah mendongak dan Romo Sis tampak terperanjat. Apalagi, Pak Jalu menunjuk saya sambil tertawa: “Lha ini orangnya!”

Hehehe … saya senang sekali melihat Romo Sis tertawa lebar. “Untung saya nggak ngrasani ya?” katanya sambil memberikan titipannya untuk seorang suster di Biara “Flos Carmeli”, Batu. Menjadi kurir bahkan mewakili beliau untuk acara-acara yang sebenarnya tak pantas diwakilkan kepada saya yang ‘bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tak ingin jadi apa-apa pun siapa-siapa’ sudah biasa saya lakukan. Namun, pada hari itulah untuk pertama kali saya mendengar beliau memanggil saya ‘Pak’, bukan ‘Mas Her’ atau ‘Her’ saja.

Suatu saat, saya meminta uang untuk membayar sebuah rekening pribadinya.

“Lho, kok saya yang mbayar?” tanyanya.

“Lha iya, ini kan atas nama Romo! Teliti dulu dong,” jawab saya.

Karena bendahara sekolah saat itu tidak ada di tempat, saya memaksa beliau yang membayar. Apalagi penagihnya menunggu di ruang tamu. Maka dihitungnya uang dari lacinya, lembar demi lembar diberikannya kepada saya.

“Sudah ya, pas!”

Dan saya cuma mengangguk – bodoh sekali – tidak ikut menghitungnya pada saat yang sama. Ketika saya berikan uang di tangan saya kepada penagih, ternyata kurang lima ribu rupiah! Seandainya saat itu saya punya uang lima ribuan, saya akan langsung menutupi kekurangannya. Sayangnya tidak. Maka saya kembali kepada beliau dan mengatakan bahwa uang tadi kurang lima ribu.

Lho, yo’ opo se? Katanya tadi sudah pas! Arek enom ae gak teliti, ngomong wong tuwek gak teliti!” diucapkannya dengan senyum kemenangan.

Dan saya menerima uang dari tangan beliau dengan malu hati, karena sesaat sebelum menerima uangnya tadi saya mengritik, “Mau beli, nggak mau bayar!”

%d blogger menyukai ini: