• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Kegiatan Rohani Sekolah

Pak Tom memang luar biasa!

Tahun 1981 barangkali bisa disebut sebagai tahun kebangkitan rohani SMA Katolik St.Albertus. Pada tahun itu berturut-turut didirikan Persekutuan Doa (PD) Pembaruan Karismatik Katolik, Kelompok Kitab Suci Dempo (KKSD) dan Aksi Sosial Dempo (ASD).

Romo Sis sangat bangga tentang kegiatan-kegiatan rohani siswa itu. Setiap Sabtu, sepulang sekolah, beliau selalu mengikuti PD di Aula. Pengurus PD dan KKSD yang direkrut dari para siswa disebut penggerak. Saya menjadi salah seorang yang dianggap penting karena bertugas sebagai MC acara sehingga selalu dilibatkan dalam rapat-rapat persiapan. Bayangkan, sebagai siswa, saya mengikuti rapat yang biasanya dipimpin oleh Pak Tom (J.D.L. Tombokan), dihadiri Romo Sis, para Romo lain atau frater-frater. Kebiasaan Pak Tom memanggil saya ‘Saudara’ pada waktu itu bagi saya sangat menyejukkan. Secara tak langsung Pak Tom mengajari saya bagaimana memperlakukan siswa dan membuatnya bangga menjadi bagian dari pelayanan SMA Dempo terhadap seluruh warga sekolah. Seingat saya Pak Tom adalah definitor acara, sedangkan Romo Sis tinggal menyetujuinya, dan saya yang harus melaksanakannya. Belum pernah ada usul Pak Tom yang tidak diiyakan Romo Sis. Dalam percakapan, kadang-kadang Pak Tom berbisik menggunakan bahasa Belanda, mungkin agar orang lain tidak merasa bahwa Pak Tom sedang ‘mengarahkan’ Romo Sis. Tetapi saya tak pernah sulit mengikuti maksudnya karena Romo Sis selalu menjawabnya dengan bahasa Indonesia, berbisik pula.

Setiap hari Sabtu Romo Sis selalu hadir di aula untuk mengikuti persekutuan doa. Pembicara/ pengarah selalu berganti. Guru bahkan siswa pun diberi kesempatan menyampaikan renungan dan sesudahnya beliau memberikan ucapan terima kasih dan pujian. Satu sore setiap minggu disempatkannya pula untuk mengikuti KKSD. Setiap laporan Romo Sis kepada Ordo Karmel atau Keuskupan Malang selalu dilampiri laporan kegiatan PD, KKSD, AD dan Live In. Laporan itu harus terinci, dan saya tak sulit menyusunnya karena Romo Sis merekam semua kejadian dengan sangat baik dan lengkap. Tak jarang laporan yang sudah siap harus dibongkar lagi karena Romo Sis tiba-tiba teringat akan suatu kegiatan yang harus disisipkan. Laporan semacam itu jauh lebih mudah saya buat ketika status saya adalah pegawai, bukan siswa lagi.

Penghormatan Romo Sis kepada Pak Tom menurut saya bukan hanya karena Pak Tom adalah mantan guru beliau dan kemudian menjadi pendampingnya (Wakil Kepala Sekolah) yang setia, melainkan juga karena perhatian Pak Tom terhadap kegiatan kerohanian siswa Dempo. Dedikasi Pak Tom memang sangat luar biasa. Maka tak heran, Romo Sis memeriahkan Peringatan 50 Tahun Pernikahan Pasutri Tombokan dengan misa syukur di gereja kathedral dan pesta di Aula Dempo. Puji Tuhan! Pak Tom sekeluarga tampak sangat bahagia. Romo Sis tahu benar cara menghargai orang yang berjasa. Boleh jadi pengalaman Pak Tom itu tak akan pernah terulang pada diri orang lain.

Ketika Pak Tom sakit, kami mengunjungi beliau di rumahnya. “Saudara, kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kita lakukan kecuali pasrah kepada Allah?” kata Pak Tom kepada saya. Sedangkan Romo Sis mengaku bahwa Pak Tom mengamanatkan agar kegiatan rohani dipertahankan dan ditingkatkan. “Sayang ya, PD, KKSD dan ASD sudah tidak semeriah dulu lagi,” kata Pak Tom suatu ketika. Maka saya memahami amanat yang disampaikan beliau kepada Romo Sis. Sepeninggal Pak Tom beberapa waktu kemudian, bentuk kegiatan kerohanian itu diubah. Namun, keterlibatan lebih banyak guru ternyata tidak menjadikannya lebih baik. ‘Paksaan’ orang dewasa terhadap remaja tentang segala hal yang baik tidak efektif ketika yang ‘dipaksa’ tidak menemukan idola yang hidup. Ketidakhadiran yang berbuah hukuman, bukan sapaan manis agar berikutnya tidak absen lagi dan supaya dapat mengobati rindu sesama warga sekolah dalam berbagai kegiatan bersama untuk memuji dan memuliakan Allah; acara dan materi pertemuan yang tidak dipersiapkan dengan baik; kreativitas, keterampilan dan kepribadian pendamping yang berbeda, dan sebagainya, telah menjadikan kegiatan kerohanian sekolah kini seperti kehilangan arah.

Pelayat yang menghadiri misa requiem Pak Tom di gereja kathedral dan mengantarkan jenazahnya ke TPK Sukun jauh lebih banyak daripada pelayat Pak Tom Uripan, mantan Walikota Malang yang meninggal dunia beberapa bulan lebih dulu. Hal itu menunjukkan bahwa Pak Tom adalah seorang guru yang baik. Kalau seorang Romo Sis saja menghormati beliau, sudah barang tentu alumni Dempo pun menghormati dedikasi beliau yang sedemikian lama terhadap Alma Mater. Penghormatan semacam itu hanya diperoleh seorang yang berkepribadian unggul, yang melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan ketekunan dan cinta yang luar biasa, jauh dari pamrih dan sikap rewel maupun ijir (Malangan: menghitung untung-rugi).

Misa requiem Pak Tom dan upacara pemakamannya yang luar biasa menjadi bahan guyon yang bernilai nubuatan: “Kelak, pada saat Romo Sis wafat, pelayat akan memenuhi kota Malang!” Romo Sis sendiri tersenyum mendengar ‘nubuat’ itu, bahkan menambahkan: “Akan ada reuni!” Dan hal itu sudah terbukti. Sayang, tak seorang pun bisa menyamai kualitasnya dalam menyatukan alumni. Momen itu berlalu dan IKeSA sampai saat ini masih belum berhasil merevitalisasi keberadaannya seperti pernah digagasnya bersama para murid yang mencintainya.

Salah satu yang diminta Romo Sis setelah aktif lagi sebagai Kepala Sekolah adalah: adakan lagi lomba koor! Selain aspek kesenian dan kerohaniannya, Romo Sis manggut-manggut ketika suatu saat saya berlagak mengingatkannya bahwa kelompok paduan suara merupakan kegiatan yang murah meriah dengan berbagai nilai tambah: melatih kebersamaan yang saling mengisi kekurangan, tenggang rasa, kesetiakawanan, dan berbagai nilai positif lainnya.

“Yang paling penting adalah murah!” sahutnya. Ya. Paduan suara memang jauh lebih murah ketimbang seperangkat drum-band dan kelengkapannya yang hanya disimpan karena sesudah memilikinya, Romo Sis baru menyadari mahal dan ruwetnya melahirkan dan memelihara grup band. Entah di mana perangkat itu sekarang, karena seperti sudah saya tulis dalam “Sukses Alumni Dempo” (1996), SMA Dempo tergolong mudah memiliki sesuatu dan mudah pula mengabaikan, bahkan ‘membiarkannya’ hilang. Seperangkat alat musik kulintang pun pernah dimiliki, teronggok di gudang dan rusak tanpa pernah dimanfaatkan.

Permintaan tentang lomba koor yang dulu diadakan setiap menjelang peringatan ulang tahunnya (22 Desember), sudah disampaikannya pula kepada Pak Gabriel Mado. Tampaknya, beliau yang pernah dikecewakan sekaligus dipermalukan ketika pemberkatan pengantin yang dilakukannya tidak diiringi paduan suara Dempo itu ingin segera ‘menghukum’ pelakunya dengan melaksanakan lagi kegiatan yang menyenangkan mereka. Romo Sis adalah seorang yang sangat teguh memegang janji dan membenci pengabaiannya. Pengenalan kepribadian dua orang itu membuat saya pernah merancang sebuah white lie demi rekonsiliasi yang sesungguhnya diharapkan keduanya dengan alasan yang berbeda.

“Ngamuk kok dipelihara! Pak Mado sampai nangis karena sangat menyesal!” adalah white lie kepada Romo Sis. “Sampeyan ditunggu Romo Sis untuk minta maaf!” adalah white lie kepada Pak Mado.

%d blogger menyukai ini: