• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Lupa

“Maaf kok dipaksa!”

Romo Sis bukan malaikat. Saya pernah sangat jengkel karena saat berpapasan di depan kantornya bahu saya digamitnya, dan nyaris tak membuka mulut beliau mengatakan: “Kamu ini ngawur!”

Jelas saya kaget bukan kepalang! Saya sering dimarahinya, tetapi celaan yang sedemikian tajam tak pernah saya dengar, apalagi ditujukan kepada saya. “Maksud Romo?”

“Siapa yang menyuruhmu memindahkan komputer dari atas? Mestinya minta izin, beritahu saya dulu.”

“Lho, bukannya kemarin Romo sudah mengizinkan?”

Sekilas Romo Sis tampak kaget. Saya maklum, beliau lupa telah mengiyakan ketika saya meminta izin untuk meminjam komputer di laboratorium sementara komputer yang ada di ruang kerja saya diservis. Kesalahan saya adalah: tidak meminta beliau menuliskan izinnya untuk saya berikan kepada penanggung jawab laboratorium komputer waktu itu. Kepada penanggung jawab itu saya hanya mengatakan sudah meminta izin Romo Sis untuk meminjam satu CPU dari laboratorium. Mungkin tidak benar-benar paham maksud saya, dia justru menunjuk komputer instruktur untuk saya pinjam, kemudian keluar dari laboratorium. Dan saya langsung melepas CPU-nya untuk saya bawa turun ke ruang kerja saya.

Entah mengapa, pada waktu itu saya tidak berusaha mencari tahu. Mungkin Romo Sis mendapatkan laporan si penanggung jawab dan beliau lupa telah memberikan izin. Dan saya kena semprot: “Ngawur!” Maka saya segera melepaskan hard-disk yang sudah terlanjur saya ganti (karena beberapa program tak saya temukan dalam hard-disk bawaan CPU itu) dan mengembalikan CPU itu ke laboratorium sambil berjanji kepada diri sendiri untuk tidak pernah lagi keliru langkah. Dan sejak kejadian itu, setiap kali Romo Sis memerintahkan sesuatu untuk saya kerjakan, terlebih bila berhubungan dengan orang lain, saya tak pernah mau tanpa memo dari beliau. Saya juga membawa buku catatan untuk minta beliau tanda tangani, bahkan kalau beliau meminta tolong.

“Apa-apaan ini?” tanyanya pada kali pertama.

“Supaya saya tidak kena ‘ngawur’ lagi!” sahut saya.

“Kamu ini! Sudah, ndak usah pakai tanda tangan segala!” katanya sambil tersenyum.

“Romo tidak minta maaf?”

“Maaf kok dipaksa. Ndak!”

Akhirnya saya tak pernah lagi meminta beliau menandatangani perintah lisannya setelah Romo Sis berkenan meminta maaf. Padahal – apalagi sekarang, sesudah Dempo memiliki sertifikat ISO 9001:2000 – pencatatan perintah atasan oleh bawahan dan permintaan bawahan kepada atasan beserta pelaporan pelaksanaannya justru bisa membuat segala pekerjaan dapat terkontrol dengan baik.

Sejak itu pula saya merasa Romo Sis lebih berhati-hati ketika menegur saya, sebab anak buahnya yang satu ini tak takut bertengkar dengannya. Lama kemudian, saya juga belajar bahwa sebagai orang tua yang sangat dihormati, kadang-kadang Romo Sis juga merindukan ‘kemarahan seorang anak kepada bapaknya’. Pujian dan kepatuhan tanpa syarat justru bisa melenakan, sehingga sesekali perlu teguran. Yang penting, teguran – seberapa pun kerasnya – itu dilakukan pada ketupat (keadaan, waktu, dan tempat yang tepat).

Suatu saat Romo Sis mengikuti anjuran seorang alumnus yang mengritik velg Kijang barunya yang tetap orisinal. Mobil yang dibeli jauh di bawah harga karena memanfaatkan fasilitas setengah hibah dari Toyota Astra bagi yayasan/ lembaga sosial itu diganti velg-nya dengan velg baru, tipe racing sehingga – memang – penampilannya lebih gagah.

“Berapa, Romo?” tanya saya.

“Murah, kok. Cuma dua juta! Bagus ya?”

“Bagus. Tapi, itu pemborosan. Velg orisinalnya juga baru, dan tidak jelek,” sahut saya.

Romo Sis diam saja. Beliau tidak tertarik berdebat tentang sifat borosnya yang kadang-kadang muncul hanya karena komentar orang. Bahwa saya tidak berhak mengritik beliau tentang hal itu, sudah sangat jelas. Namun kritik saya diterimanya tanpa balas.

Di saat lain, di perjalanan dalam mobil itu, seorang penumpang mengusulkan agar Romo Sis membeli bis agar kalau pergi berombongan, penumpang tak harus berdesakan. Apa kata Romo Sis?

“Itu pemborosan!” komentarnya singkat sambil menoleh ke belakang. Tak ada yang membantah.

Saya yang duduk di belakangnya tersenyum.

%d blogger menyukai ini: