• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Nada Minor Alumni

“Mari kita perbaiki kesalahan bersama-sama!”

Selain bertemu dan bergaul dengan alumni yang cinta setengah mati kepada Alma Mater (dan terutama kepada Alm. Pater E. Siswanto, O.Carm.), saya tak bisa menampik kenyataan bahwa ada pula alumni yang berkenangan biasa-biasa saja, bahkan luar biasa negatif terhadap Alma Mater (pada umumnya juga disebabkan pengalaman buruk dengan oknum tertentu yang masih bekerja di atau sudah pensiun dari SMA Dempo). Bagi mereka yang tergolong terakhir ini, segala hal tentang Alma Mater disikapi dingin atau jika terpaksa disuarakan dengan nada minor. Kalau falsetto Leo Kristi atau Iwan Fals bisa dimaklumi justru karena menampilkan ruh lagu yang mereka nyanyikan sehingga terdengar dan terasa lebih indah, menyentuh kalbu, tidak demikian dengan nada minor alumni tentang Alma Maternya.

Isu tentang Dempo memang selalu menarik perhatian alumninya. A bisa jadi A’ atau A+ atau A- dan sebagainya dalam perbincangan di kalangan yang cinta maupun yang biasa-biasa saja apalagi yang berpengalaman pahit tentangnya. Kalau berita miring tentang seorang alumni pun bisa memengaruhi Alma Maternya, berita miring yang disuarakan alumni tentang Alma Mater (pasti diawali maksud baik atau malah tanpa sengaja) justru berpotensi memorakporandakannya. Berikut ini adalah contoh fatal nada minor alumni dan akibatnya.

Selama kepemimpinan P. Michael M. Hartomo, O.Carm., SMA Dempo ternyata masih sangat bernuansa Romo Sis. Segala isu mentah tentangnya tumpah kepada beliau. Cinta yang egois pun cenderung mengaburkan akal sehat. Maka, pembandingan yang sudah tentu tak adil telah menjadikan Romo Michael serba salah, terlebih karena ‘orang dalam’ pun ikut bermain mengail di air keruh. Ketidaksiapan berubah Keluarga Besar Dempo telah mengantarkan Romo Michael sebagai seorang yang gampang dianggap gagal. Bayang-bayang kesuksesan Romo Sis tidak dapat dimanfaatkannya untuk melanjutkan tradisi sukses SMA Dempo karena kebenaran selalu terarah kepada Romo Sis, sedangkan kegagalan adalah kesalahan dan tanggung jawab Romo Michael semata.

Dan ketika dianggap sudah darurat, Romo Sis pun terpaksa ‘turun gunung’. Tiga bulan tampil sebagai begawan di Alma Maternya, beliau wafat dan dielu-elukan bak pahlawan. Dari lubuk hati yang terdalam, saya pun mengakui beliau sebagai seorang kepala sekolah yang tiada banding tanpa tanding. Namun, saya juga menyesalkan bengkoknya sejarah yang menjadikan saudara mudanya – Romo Michael – seolah-olah pecundang! SK pemberhentian yang ditandatangani Romo Sis dibacakan Romo Michael sendiri dengan suara gemetar dan wajah merah padam di aula. Peristiwa itu bagi saya adalah pembalikan meja pesta Dempo. Pesta usai dan porak poranda sisanya adalah sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepada kambing hitam: Romo Michael.

Isi SK itu saya kecam dan Romo Sis termenung sesudahnya. Kasihan Romo Sis! “Terima kasih,” kata beliau. “Saya hanya sebentar. Mari kita perbaiki kesalahan bersama-sama!” Karena terlalu mencintainya, saya menunda keinginan saya untuk mundur dari jabatan guru, bukan karena solider kepada Romo Michael yang mengaku dirinya tak sempurna. Saya masih punya harapan tentang kebersamaan dan kekeluargaan yang tetap menyemangati Romo Sis ketika beliau sesungguhnya sudah mulai menderita sakit.

Perbaikan belum dimulai, karena ‘turun gunung’-nya Romo Sis ternyata hanya untuk menjemput haknya: wafat sebagai Kepala Sekolah yang dicintai dan dihormati ribuan murid dan kenalannya. Dari jauh, karena orang-orang terdekatnya mengerumuni makamnya, saya bertanya: “Am I free now, Father?”

Ternyata, jawaban baru muncul ketika Romo Albert menawarkan untuk meralat surat tegurannya kepada saya (yang salah redaksi, salah isi dan sudah diperingatkan saksi, tetapi tetap ditandatangani dan diterimakan kepada saya). Format surat teguran itu masih sama dengan yang dulu saya siapkan untuk dipergunakan Romo Sis hanya dalam hal teguran lisan dianggapnya sudah tak mempan. Maka, saya seperti seorang istri yang tiba-tiba dijatuhi talak tiga. Saya tahu diri, kepala sekolah enggan berbicara langsung dengan saya sebagai rekan kerja. Tidak mungkin – dan kebetulan pula: saya tidak mau – memberikan pengertian tentang kesalahan yang sedang dilakukan kepala sekolah ketika saya melongo takjub tak habis pikir menyaksikan jurus mabuk yang sedang diperagakannya. Yang dianggapnya kesalahan justru saya yakini sebagai keprihatinan yang seharusnya ditanggulangi bersama. Selebihnya adalah dusta yang implisit diakuinya melalui tawaran meralat suratnya yang sudah saya terima. Hehehe … enak aja!

Karena dari pengalaman sebelumnya, bertengkar dengan Romo Sis akan menambah wawasan saya, sedangkan dengan penggantinya itu saya justru akan membuang sia-sia waktu yang berharga, saya berpikir positif dan menganggap dia akan leluasa dalam jabatan yang sudah lama dipersiapkan baginya jika saya tidak berada di sekitarnya. Maka, kepadanya lebih kurang saya mengatakan: “Saya kehilangan kebanggaan menjadi guru Dempo di bawah pimpinan seorang seperti Romo. Dan sebagai alumnus, saya tidak ingin para murid didampingi oleh guru yang kehilangan rasa bangganya. Saya mengundurkan diri.”

Semua saya ucapkan datar saja, karena sikap Romo Albert waktu itu membuat saya merasa kasihan kepadanya. Tetapi karena pengunduran diri saya tidak mungkin mendadak, saya berikan toleransi sampai ada yang bisa mengganti saya. Warga sekolah baru tahu di akhir pekan, ketika di sebuah kelas, saya meminta seorang murid mencatatkan perubahan jadwal pelajaran yang tidak mencantumkan lagi nomor 27, yang saya warisi dari Pak Diro. Pelajaran terhenti karena saya tak mungkin melanjutkannya di hadapan murid-murid yang bertanya: mengapa? Kepada mereka saya mengatakan sudah mendapatkan pekerjaan lain yang tak mungkin saya sambi. Sorenya saya sibuk menjawab sms dan telepon dari para murid yang sebagian memarahi saya. Ketika upacara pelepasan dilakukan, pembawa acara – seorang guru – menyilakan saya berbicara atas nama IKeSA. Alangkah konyolnya guru itu! Apa hubungan IKeSA (kebetulan saja saya Sekretaris Umum IKeSA Malang) dengan phk guru di Alma Mater? Saya tidak tahu mengapa dia lakukan itu. Romo Albert pun terheran-heran. Saya memaklumi ‘kebiasaan’ guru itu tapi tidak mau mengikuti kekonyolannya. Dalam hati, sudah sejak lama, saya sedih tentang hal-hal semacam yang terjadi di Alma Mater.

Bagi segenap civitas academica Dempo waktu itu, saya kutipkan syair lagu “Donna-Donna” dan menyarankan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Konflik antara guru dan kepala sekolah – misalnya – tak harus merusak pula hubungan persahabatan. Dan saya terharu menerima jabat tangan murid-murid dan para guru.

Di bawah kepemimpinan kepala sekolah sekarang dan sepeninggal saya, semoga SMA Dempo lebih maju. Itulah blessing in disguise di sebalik doa saya untuk Romo Albert: “Semoga dia lebih bijaksana, mau mengolah data dan fakta, mendengarkan dengan kepala dan dada terbuka lebih dari sekadar asyik bicara sendiri tentang mimpi dan fantasi tapi lupa kakinya ada di mana, belajar menjadi ‘orang benar’ seperti sponsornya …” Sebelum ‘Amin’ doa itu sangat melelahkan saya!

Kesan seorang guru senior bahwa “Romo Albert terlalu intelek untuk memimpin SMA!” saya tanggapi dengan senyuman. Iyakah? Iya aja, deh!

%d blogger menyukai ini: