• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Penerimaan Murid Baru

Sekolah keluarga

Tentang kebenaran yang diyakininya, Romo Sis adalah seorang yang koppig (keras kepala). Permintaan, usul, saran yang telah dijawabnya ‘tidak’ akan tetap ‘tidak’, selamanya, kecuali ada bukti atau kenyataan yang bisa membuat beliau berpikir ulang untuk meninjau kembali keputusannya. Tetapi ‘ya’ baginya adalah ‘ya’ sebagai janji yang harus ditepati tanpa semua orang harus tahu yang dilakukannya untuk mewujudkannya. Begitulah antara lain yang dilakukan Romo Sis sehingga membuat orang lain menghormatinya. ‘Ya’ atau ‘tidak’ tak pernah spontan sekadar menunjukkan kewenangan, melainkan didasarkan pada hasil pertimbangan yang matang dan pengalamannya.

Romo Sis sangat yakin bahwa SMA Dempo adalah ‘sekolah keluarga’ karena banyak ayah atau ibu, wali, kakek, nenek dari muridnya sekalian juga alumni sekolah ini. Proses penerimaan murid baru sering menjadi reuni bagi keluarga-keluarga alumni yang kembali memercayakan pendidikan anggota keluarga mereka ke sekolah ini. Hal itu tidak mungkin terjadi jika pengalaman mereka bersekolah di sini tidak diakui pengaruh baiknya bagi kehidupan mereka. Romo Sis bahkan berlaku seolah-olah sudah menerima seorang anak SD atau SMP yang diperkenalkan kepada beliau ketika bertemu dengan alumni atau kenalannya.

“Besok masuk Dempo ya?” katanya. Anak dan orangtuanya akan ingat pada undangan simpatik itu dan pada saatnya akan datang mendaftarkan diri ke SMA Dempo. Kedatangan mereka disambut gembira dan penerimaan murid dilakukan dalam wawancara akrab. Calon murid akan mendapatkan nasihat dari orangtuanya dan Romo Sis sekaligus. Kelemahan dan atau kenakalan calon murid seolah-olah justru dilaporkan oleh orangtuanya untuk mendapatkan pendampingan dan pembinaan di Alma Mater mereka juga. Tidaklah mengherankan apabila banyak orangtua calon murid yang ingin diwawancarai oleh Romo Sis meskipun ada orang lain yang diberi kepercayaan pula untuk membantu. Beberapa tahun terakhir, Romo Sis membagi rata jumlah pendaftar dengan jumlah pewawancara agar beliau tidak mene-rima jauh lebih banyak sementara pewawancara lain sepi pengunjung.

Penerimaan murid melalui wawancara bukan tidak ada kelemahannya. Salah satunya adalah: calon murid tidak terseleksi semata-mata berdasarkan prestasi akademik. Maka, setelah diterima, para murid wajib mengikuti tes psikologi/ kemampuan akademik yang hasilnya akan menjadi dasar penem-patan kelas mereka sehingga pola pendampingan yang diprogramkan sekolah akan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan yang baik tentu tidak berlaku seperti adagium dalam ilmu komputer: “Garbage in, garbage out”. Anak yang pandai maupun yang kurang pandai sama-sama dilayani sekolah untuk mencapai prestasi maksimal masing-masing. Apa kelebihan sekolah jika input-nya adalah anak-anak pandai sehingga output-nya boleh dibilang tak bernilai tambah kecuali ijazah dan selarik angka bagus yang sesungguhnya menjadi hak mereka setelah usaha keras mendapatkan sebagian pengetahuan justru dari lembaga-lembaga kursus atau les privat?

Dengan menjadikan SMA Dempo sebagai ‘sekolah keluarga’, Romo Sis justru membangun jaringan yang menopang keberlangsungan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dapat diandalkan peran sertanya dalam upaya kolektif mencerdaskan kehidupan bangsa. “Belajar tiga jam sehari” seolah-olah menjadi resep ketika orangtua murid pun memahaminya sebagai keniscayaan belajar untuk hidup, bukan karena atau demi sekolah saja. Dengan demikian, kegagalan naik kelas maupun lulus tidak menjadi momok karena semua pihak menyadari bahwa keberhasilan menuntut usaha keras, bukan anugerah yang sekarang ini bahkan makin mudah dibeli.

‘Sekolah keluarga’ itu dengan sendirinya menyibukkan Romo Sis dan staf sekolah, baik kependidikan maupun nonkependidikan. Murid dilayani bak anak dalam keluarga. Kalau absen, segera ditanyakan ke rumah atau tempat kos. Kalau melanggar peraturan ditegur, kalau curhat didengarkan. Kalau berprestasi dipuji. Kalau sakit diantarkan pulang. Bahkan ditunggu di rumah keluarga, kos atau rumah sakit ketika murid harus mengerjakan soal-soal ulangan atau ujian. Dan seterusnya.

Demi efisiensi (atau kemalasan?) kini penerimaan murid baru didasarkan pada nilai prestasi akademik. Tes dilakukan seolah-olah SMA Dempo hanya menerima input anak-anak pandai. Sekolah terjebak pada keinginan meningkatkan mutunya melalui seleksi yang menitikberatkan kecerdasan intelektual dengan segenap kecenderungannya yang negatif. Sekolah tidak lagi berperan sebagai agent of change untuk mengembangsuburkan kecerdasan komprehensif tunas-tunas bangsa yang diserahkan sebagai tanggung jawabnya bersama orangtua, melainkan lembaga penentu target dan upaya keras pencapaiannya adalah urusan murid dan orangtua mereka. Nilai rapor yang bagus menjadi tujuan, dan prosesnya diabaikan. Sekolah tidak lagi mengajarkan life skill, melainkan cara jitu dan instan untuk menyelesaikan soal. Toleransi terhadap keberagaman dan empati cepat menghilang, diganti dengan klasifikasi unggulan dan pecundang. Cap bodoh dalam satu-dua mata pelajaran diatasi dengan les tambahan resmi dan tak resmi sekadar untuk menyatakan bahwa SMA Dempo adalah sekolah yang berstandar tinggi. Sekolah yang ketika saya menjadi murid mau menyediakan kelas-kelasnya untuk digunakan belajar bersama pada sore hingga malam hari, dikenang alumninya sebagai taman pendidikan yang tegas tapi manusiawi, dibanjiri peminat karena melimpahkan berkat, kini tak jauh beda dengan sekolah-sekolah lain: harus pandai menjual agar ada yang mau datang dan diperebutkan.

Sungguh, rasanya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menyaksikan sebuah sekolah yang dianggap biasa-biasa saja oleh alumninya karena tidak mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan, melainkan pengajaran untuk menjadi pemenang karena telah mengalahkan orang lain dan bukan diri sendiri. Padahal, dalam kenyataan hidup, mereka yang dulu dianggap bodoh justru bisa lebih sukses daripada mereka yang bernilai rapor serba bagus. Yang aktif dan kreatif sejak masa remajanya dikenal hangat dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan yang dianggap hebat pengetahuannya justru tidak dekat dengan permasalahan hidup sesamanya karena selalu sibuk dengan diri sendiri. Masa depan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan orang lain apalagi sekadar perolehan nilai selama menjadi siswa/ mahasiswa.

SMA Dempo mau jadi sekolah unggulan, sekolah internasional, sekolah yang jadi rebutan untuk belajar? Boleh dan bahkan harus. Tapi, menjadikan intelektualitas semu sebagai parameter keberhasilan adalah awal ketidakpedulian terhadap jatidirinya sendiri. Kita tahu bagaimana orang yang lupa diri …

%d blogger menyukai ini: