• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Penerimaan Pegawai Baru

“Tidak akan hamil lagi!”

Berkas-berkas lamaran yang sudah dipertimbangkan akan diberikan kepada saya dengan perintah: “Undang hari Senin, tanggal sekian, jam sekian untuk wawancara!” atau “Tidak ada lowongan!”

Pada umumnya, jika proyeksi ketenagaan menunjukkan kebutuhan merekrut orang baru dan pelamar memenuhi syarat, orang itu akan diterima. Jika tidak, surat penolakannya saya buat sedemikian rupa agar penerimanya tetap berbesar hati meskipun tidak diterima di sekolah yang didambakannya.

Saya sangat terkesan pada keinginan kuat seorang alumnus yang ingin bekerja di Alma Maternya, tetapi lamarannya selalu ditolak Romo Sis. Meskipun posisi yang dimintanya turun setiap kali mengirimkan lamaran, Romo Sis tetap dengan penolakan yang dilandasinya dengan dua alasan. Yang pertama adalah: tidak ada lowongan, dan yang kedua biarlah saya simpan sendiri saja sebagai salah satu wujud penghormatan saya kepada Romo Sis.

Dan rasa kaget Romo Sis (saat itu sudah menjadi Ketua Yayasan Sancta Maria) benar-benar asli ketika disapa orang itu di Dempo. “Dia bekerja di sini?” tanya Romo Sis kepada saya.

“Iya. Romo Michael menerimanya.”

Saya gembira karena Romo Sis kemudian tidak menjadikannya masalah saya. Ketika tanggung jawab sudah diserahkan, maka tak layak baginya untuk turut campur.

Suatu saat, ada lamaran seorang guru dari sekolah di luar pulau. Berkas referensinya istimewa. Tetapi Romo Sis tidak bisa menerimanya karena saat itu guru mata pelajaran yang sama justru berlebihan. Tidak ada formasi luang. “Sayang. Padahal dia sangat potensial!”

“Terima saja, Romo!” usul saya.

“Nanti saya pikirkan lagi,” sahutnya.

Kepada Romo Sis (dan kemudian juga Romo Michael), saya pernah mengatakan agar tidak mudah percaya kepada orang-orang yang mendekat, tetapi kejarlah orang yang tepat. Pemimpin yang baik tak ragu mengitari dirinya dengan orang-orang yang dapat diandalkannya. Barangkali ongkosnya akan terasa mahal, namun hasil terbaik lebih mudah didapatkan. Mengikuti paham Cartesian, saya yakin bahwa keberhasilan seseorang dalam berkarir ditentukan oleh dirinya sendiri. Kalau ia bisa bertahan tanpa hanyut di belantara sistem yang tidak kondusif terhadap perjuangannya, bagus. Jika sebaliknya, tak perlu ragu untuk memulainya dari awal. Di tempat lain, kalau perlu.

Setelah berpikir seperti dijanjikannya dan sekali lagi mendiskusikannya dengan saya, Romo Sis meminta saya membuat surat penolakan lamaran itu. Keputusan sudah dibuat dan tak perlu disesali kendati beberapa saat kemudian siswa sekolah tempat guru itu mengajar dan membimbing berhasil menjunjung tinggi nama Indonesia di pentas internasional. Romo Sis menunjukkan koran yang memberitakan hal itu. Nama guru itu dan perkataannya yang dikutip wartawan dilingkarinya. “Sayang ya?”

“Romo bisa menghubunginya, mengucapkan selamat. Siapa tahu …” saya memberikan usul dan tidak tahu apakah hal itu dilakukan beliau. Saya tak pernah menanyakannya lagi.

Tetapi Romo Sis jadi lebih sering menunggu pendapat atau sekadar komentar saya tentang para pelamar. Dan ketika semua pelamar untuk suatu formasi berjenis kelamin perempuan, asal saja saya katakan agar mencari guru laki-laki.

“Kenapa?”

“Ya supaya jangan perempuan semua di satu mata pelajaran!”

“Ndak apa-apa. Yang ini tidak akan hamil lagi,” katanya sambil tersenyum dan memisahkan satu dari beberapa amplop berkas lamaran. “Terima yang ini saja!”

Sesederhana itulah. Sama halnya dengan ketika beliau hampir berturut-turut menerima dua orang kendati sesungguhnya tidak ada kebutuhan yang mendesak. Mengapa? Karena mereka PNS. Menerima mutasi PNS seolah-olah merupakan ‘kewajiban’ sekolah swasta, karena PNS digaji negara. Jelasnya, dipandang dari segi keuangan, sekolah swasta beruntung jika mendapatkan ‘subsidi negara’ melalui PNS yang mau pindah ke sekolah itu. Selebihnya soal lain.

Kini jumlah PNS dpk (dipekerjakan) di sekolah swasta sudah sangat sedikit. Berbahagialah mereka yang bekerja di sekolah swasta yang baik dan mampu memberikan penghasilan tambahan selain gaji PNS. Di masa depan tampaknya akan sulit bagi pemerintah untuk ‘memberikan’ PNS ke sekolah swasta.

%d blogger menyukai ini: