• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Peraturan Kepegawaian

Capek

Sampai dengan tahun 1996, Yayasan Sancta Maria, pengelola dua SMA terkemuka di Jawa Timur: SMA Katolik St.Albertus di Malang dan SMA Katolik St.Paulus di Jember, ternyata belum memiliki Peraturan Kepegawaian sendiri. Sampai saat itu semua permasalahan kepegawaian dianggap cukup diatasi dengan kebijaksanaan Kepala Sekolah dan pasti beres. Penyelesaian masalah selalu dicarikan dasarnya pada serangkaian perundang-undangan kepegawaian dan peraturan-peraturan pelaksanaannya. Padahal, yayasan menggunakannya hanya sebagai pedoman, artinya: tidak (dapat) melaksanakan semua sebagaimana mestinya. Maka, karena di masa depan akan semakin banyak masalah kepegawaian, diperlukan peraturan kepegawaian sendiri. Dengan demikian, baik pihak yayasan dan sekolah maupun para pegawai memiliki dasar yang sama untuk membereskan masalah kepegawaian di lingkungan Yayasan Sancta Maria.

Saya mengusulkan hal itu karena selain masalah yang terjadi di SMA Katolik St.Albertus – dan karena Yayasan Sancta Maria (pada waktu itu, entah sekarang) belum terurus sebagaimana mestinya – saya juga menerima masalah yang dikirimkan dari SMA Katolik St.Paulus, Jember. Masalah di Dempo relatif mudah karena saya ada di dalamnya, tetapi masalah kiriman dari Jember kadang-kadang sulit dirunut karena umumnya tidak disertai penjelasan yang dibutuhkan untuk dicarikan konsideransnya. Meskipun tidak merasa heran bahwa masalah-masalah kepegawaian di lingkungan Yayasan Sancta Maria itu seolah-olah menjadi tanggung jawab Romo Sis saja, saya menganjurkan agar Yayasan Sancta Maria memiliki sendiri Peraturan Kepegawaiannya demi kepastian hukum dan – siapa tahu – dengan demikian, Pengurus Yayasan Sancta Maria akan lebih serius, tidak sekadar melimpahkan penyelesaian masalah kepada satu orang saja. Pengelolaan administratie (Belanda: administrasi dalam arti sempit, meliputi surat menyurat, kesekretariatan) bisa oleh siapa saja. Seorang klerk atau typist akan mengerjakan sesuai perintah, dan penanggung jawabnya adalah pemberi perintah atau penandatangan surat (dengan mengandaikan pemberi perintah atau penandatangan surat sungguh-sungguh memahami masalah dan berkewenangan menyelesaikannya sesuai peraturan yang berlaku). Tetapi, administrasi (dalam arti luas) kepegawaian tidak layak diserahkan kepada seseorang yang sesungguhnya tak memiliki kewenangan apa pun.

Maka Romo Sis kemudian meminta agar saya menyusun draft Peraturan Kepegawaian Yayasan Sancta Maria itu untuk dirapatkan bersama para pengurus dan para Karmelit yang pernah dan sedang melaksanakan tugas dalam karya pendidikan Ordo Karmel. Setelah beberapa revisi – yang akhirnya nyaris seluruhnya kembali ke naskah awal (!) – Peraturan Kepegawaian Yayasan Sancta Maria disahkan pada tanggal 6 Maret 1996 oleh Pater A.J. Soedibjo, O.Carm., Ketua Yayasan Sancta Maria pada waktu itu.

Sayangnya, draft Peraturan Kepegawaian dalam disket yang dibawa Fr. Vianney, O.Carm. ke Percetakan Dioma itu – entah mengapa – ternyata diketik ulang oleh typist percetakan. Ketika menerima buku Peraturan Kepegawaian Yayasan Sancta Maria yang dibagikan kepada seluruh pegawai, saya kecewa oleh adanya kesalahan ketik yang bagi saya sangat mengganggu. Singkatan Calon Pegawai (Capeg) di beberapa tempat dalam buku itu tercetak Capek dan beberapa kesalahan lain, termasuk tahun terbitnya SK Menteri PAN No.26/MENPAN/1989. Saya heran mengapa Romo Sis tidak meributkan salah cetak itu dan sama sekali tidak meralatnya. Maka saya mengusulkan agar Romo Sis mengajukan klaim ke Percetakan Dioma atas keteledoran itu.

“Lho … saya harus menggugat diri saya sendiri?”

Ah. Ketua Yayasan Dioma, yang menyelenggarakan Percetakan Dioma pada waktu itu dipimpin oleh Romo Sis juga!

Seharusnya Peraturan Kepegawaian Yayasan Sancta Maria itu sekarang sudah direvisi karena undang-undang dan peraturan kepegawaian yang dijadikannya pedoman sudah berubah dan ditambah. Revisinya penting karena saya menangkap kecenderungan semakin kompleksnya permasalahan kepegawaian di masa mendatang dan keterlambatan mengantisipasinya akan menghadapkan Pengurus Yayasan Sancta Maria ke berbagai kesulitan. Apalagi jika para pimpinan unit karya/ kepala sekolah pun bukan administrator yang baik.

Usul saya kepada Romo Sis sebagai Ketua Yayasan Sancta Maria dijawabnya ringan: “Ya. Nanti kita perbaiki. Tolong kamu siapkan naskahnya!” Perintahnya itu belum saya laksanakan sampai beliau wafat.

%d blogger menyukai ini: