• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Prinsip

Pusing

Dalam hal-hal prinsip, Romo Sis seorang yang teguh pendiriannya. Beliau pernah mengancam suatu kelas: “Meskipun kamu kelas III, kalau kamu tidak mau menaati peraturan sekolah, saya tidak ragu untuk mengeluarkan kamu semua!”

Saya bersyukur karena ancamannya itu tak pernah terlaksana. Tapi saya yakin, jika dianggapnya perlu, beliau benar-benar tidak akan ragu melakukannya. Pernah terjadi 18 murid dikeluarkan nyaris sekaligus karena melanggar peraturan sekolah lagi setelah beberapa kali diperingatkan. Disiplin dan ketekunan, itulah kunci keberhasilan.

Suatu saat, ketika beliau meminta saya membuat surat pemutusan hubungan kerja (phk) dengan seorang guru, saya mencoba mengingatkan, “Romo, orangnya masih muda. Potensi kebaikannya masih bisa diharapkan. Mungkin kesalahan itu dilakukannya justru karena Romo belum pernah memberitahukan peraturan Romo kepadanya. Tidakkah lebih baik kalau ia diperingatkan saja dan Romo membimbingnya agar menjadi baik?”

Saya berani menganjurkan hal itu karena ‘bertengkar’ dengan Romo Sis adalah kenikmatan besar. Beliau sabar mendengarkan, mau memaklumi kekurangajaran dan pelan-pelan dalam mengajar. Yang penting, rasional, jangan emosional! Alasan lain adalah karena beliau juga tidak ragu menerima guru pindahan (diberhentikan dari sekolah lain) dan selama kepemimpinannya tak pernah ada masalah dengan guru-guru itu.

“Ya memang,” jawab Romo Sis setelah terdiam agak lama. Barangkali beliau menahan kemarahan mengapa saya begitu lancang menasihatinya. Tetapi, seperti sering saya katakan, saya tidak pernah takut kepada beliau. “Tapi, kalau saya tidak melakukannya, orang lain akan ikut-ikutan membuat kesalahan seperti dia. Kalau nanti semuanya begitu, apa jadinya?”

Seorang kepala sekolah pernah menitipkan pesan melalui saya bahwa sekolahnya mau menerima siswa Dempo yang ‘terpaksa’ harus keluar karena tidak naik kelas dua kali. Syaratnya, Dempo harus terlebih dulu ‘menaikkan’ siswa seperti itu, kemudian pindah ke sekolahnya. Sang kepala sekolah membisikkan pesan itu ketika menghadiri sebuah acara yang seharusnya diikuti Romo Sis juga, tetapi kehadirannya diwakilkan kepada saya.

Kendati sudah bisa menebak bahwa Romo Sis pasti menolak, saya menyampaikan pesan itu kepada beliau. Romo Sis tidak menertawakan pesan yang saya ucapkan. Sebaliknya, beliau justru menggeleng-gelengkan kepala: “Heran, kok bisa ada kepala sekolah berpikiran seperti itu!”

Beberapa hari kemudian saya menyampaikan pesan balasan Romo Sis kepada yang bersangkutan. Singkat saja: “Maaf, Dempo tidak bisa melakukan itu!”

Romo Sis tertawa lebar setiap kali mendengar cerita bahwa dropouts dari Dempo menempati peringkat pertama di sekolah barunya. Hal semacam itu termasuk yang paling sering diceritakan ulang Romo Sis. “Orangtuanya ngasih tahu, sekarang anaknya ranking satu.”, atau “Saya ketemu si Anu dan di sekolahnya yang baru, dia masuk tiga besar!”

Saya pikir, Dempo di bawah kepemimpinan Romo Sis memang sulit ditandingi. Siswa yang dikeluarkannya tak membenci bahkan bersyukur dan tetap mencintai Alma Maternya. Mereka yang pernah tinggal kelas sering melontarkan guyon: “Karena cinta kepada Dempo, saya tak puas hanya tiga tahun di Dempo!” Seorang senior pernah mengeluhkan permintaan bantuan yang menjadikannya kelabakan hingga istrinya yang juga alumna Dempo berkomentar: “Aku tak balik mlebu Dempo maneh ae! Sumbangane kok luwih gedhe ketimbang ndhisik pas dadi murid!” dan sang suami menambahkan: “Wis petang tahun ndhik Dempo, saiki jik dijaluki sumbangan!”

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia mengeluh pusing saat dimarahi Romo Sis karena sebuah pelanggaran yang dilakukannya.

“Kamu bisa pusing?” cemooh Romo Sis.

“Iya, Romo,” jawabnya, pura-pura meringis sambil memegangi kepalanya. Dan ‘pusing’-nya serta merta hilang tatkala Romo Sis menyentuh dahinya sambil berkata: “Mana bisa kamu pusing? Wong kepalamu nggak ada isinya?”

Hahaha … Komentar Romo Sis yang tak terduga itulah yang terus diingatnya dan justru membuatnya semakin mencintai Kepala Sekolah yang sering dikawalnya pergi ke mana-mana.

%d blogger menyukai ini: