• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Rapat Yayasan

“Apa saja yang harus dibicarakan?”

Membuat agenda rapat untuk Romo Sis sudah biasa saya lakukan. Biasanya, beliau memberikan kepada saya catatan-catatan kecil untuk saya elaborasi sehingga Romo Sis terbantu ketika mengemukakan pokok-pokok pikirannya di dalam rapat. Tetapi saat itu beliau hanya memberitahukan bahwa besok sore akan diselenggarakan rapat pengurus yayasan bersama para kepala sekolah.

Saya segera menyusun semacam DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) untuk dijadikan agenda rapat itu. Salah satu butir penting yang saya masukkan sebagai usul adalah bahwa Ketua Yayasan Sancta Maria seharusnya dijabat oleh orang yang berpengalaman mengurus sekolah. Dan karena saya tahu bahwa Romo Sis sesungguhnya tak mungkin melepaskan diri dari karya persekolahan Ordo Karmel, secara implisit jabatan itu mengarah kepada beliau. Saya yakin bahwa rapat itu akan memilih Romo Sis sebagai Ketua Yayasan meskipun pada saat yang sama ada Romo F.X. Sulistyo, O.Carm., mantan Kepala SMA Katolik St.Paulus, Jember.

Begitulah hasil rapat. Romo Sis adalah ketua, didampingi Romo Sulis sebagai sekretaris merangkap bendahara setelah Fr. Vianney S., O.Carm. kemudian dipindahtugaskan sebagai Kepala SMP Katolik Alvares, Flores. Formasi itu menghasilkan efek yang tak nyaman karena saya diharuskan ‘merangkap’ sebagai pelaksana tugas ini-itu. Tetapi saya senang membantu. Apalagi saya juga tahu bahwa para pengurus yayasan itu adalah orang-orang yang sangat sibuk. Dan di masa depan, dengan semakin ketatnya persaingan, pemberlakuan undang-undang tentang yayasan yang baru dan lainnya yang berkaitan, tuntutan yang pada waktu itu pun sudah mulai terang-terangan diajukan organisasi profesi guru tentang perbaikan kesejahteraan mereka, dan sebagainya, yayasan yang tak terurus dengan baik sudah pasti akan menyulitkan sekolah-sekolah yang dikelolanya dan atau sebaliknya.

Suatu siang, Romo A.J. Soedibjo S., O.Carm. memanggil saya agar datang ke Provinsialat dan meminta agar peran saya dikonkritkan. Saya tahu, pemanggilan ini adalah permintaan Romo Sis yang sudah lebih dulu saya tolak. Kepada Romo Dibyo yang pernah menjadi Rektor saya di Postulat Stella Maris dan Prior di Biara Karmel, Batu, saya menyatakan bahwa saya tetap suka membantu tanpa harus diformalkan. “Saya tidak ingin masuk ke dalam situasi tawar menawar dengan Ordo Karmel, Romo. Menurut saya, formalitas itu belum perlu. Yang lebih penting untuk Romo dan para pengurus yayasan lakukan adalah membereskan kepengurusan di dalam. Peran orang luar adalah pembantu. Nanti, kalau semua dasar dan sistem sudah terbentuk, akan mudah merekrut pegawai untuk membantu tugas para Romo dan frater.”

Romo Dibyo yang sejak saya kenal selalu lekat menatap lawan bicaranya dengan dagu terangkat, tidak mendesak saya. Tawanya yang ringan ketika kami berjabatan tangan mengandaikan kepercayaan beliau akan perkataan saya. “Ya sudah, kamu atur saja bagaimana baiknya!”

Tak lama kemudian beberapa lemari, meja, kursi dan tumpukan berkas dipindahkan dari Dempo ke sebuah ruang di Provinsialat, Kayutangan. Saya gembira. Yayasan Sancta Maria akan memiliki pengurus yang mantap.

Namun, kegembiraan saya itu tak berlangsung lama. Saya diminta oleh Romo Michael untuk menggantikan tugas mengajar yang ditinggalkan Pak Soesilo karena pensiun. Maka, dengan berat hati Romo Sis harus memenuhi anjuran saya: membebaskan saya dari tugas ‘Sekretaris Eksekutif’ Yayasan Sancta Maria.

Sampai sekarang, tampaknya kegiatan yayasan baru bersifat aksidental, reaktif terhadap isu kekinian, kausal, dan sekolah-sekolah yang di atas kertas ‘dikelola’-nya tetap berlangsung seperti semula. Padahal, dulu sudah ada pemikiran bahwa yayasan harus lebih ‘bergigi’. Ke depan, perlu lebih banyak lagi anggota Ordo yang berkarya di persekolahan, bukan sekadar menjadi kepala sekolah atau pengajar agama.

Pandangan itu didukung oleh kenyataan bahwa banyak kolese terkenal di luar negeri yang diasuh serikat kebiaraan menghadirkan imam/ biarawan juga sebagai guru matapelajaran yang disegani. Musik, teater, bahkan pelajaran menunggang kuda pun diampu biarawan. Kehadiran lebih banyak biarawan di sekolah antara lain diharapkan dapat menjadi penyeimbang berbagai kecenderungan negatif yang mungkin saja juga tumbuh di sekolah. Selain itu, kehadiran (bukan sekadar fisik) para biarawan pun merupakan daya tarik bagi anak muda dan orangtua mereka untuk bekerja sama demi kepentingan bersama pula: pendidikan yang bermutu baik.

Saya tidak sependapat dengan alasan klise: kekurangan tenaga. Saya juga tak setuju bahwa tugas di sekolah bagi imam lebih ringan daripada di paroki atau karya pastoral lain. Hal-hal yang diurus Romo Sis dalam masa pengabdian yang panjang di SMA Dempo menunjukkan bahwa tugas seorang kepala sekolah memang tak berat – apalagi jika kepemimpinannya benar-benar efektif dalam sistem yang berjalan baik dan rekrutmen yang tidak serba asal atau sekadar dilandasi faktor like or dislike. Yang berat adalah pertanggungjawaban sebagai seorang direktur dan pendidik. Kalau dua peran ini diabaikan pelakunya, maka benar: terlalu sayang mengorbitkan seorang imam menjadi kepala sekolah! Ia akan mudah senewen karena mendidik itu tak semudah berorasi ilmiah di mimbar kuliah atau biblis-teologis di mimbar khotbah. Ia akan mudah gundah karena manajemen berbasis sekolah menuntutnya menguasai berbagai keterampilan yang mungkin bertentangan dengan gratia status-nya: imam dan biarawan.

%d blogger menyukai ini: