• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Rapat

Pulang pagi

Rapat bukan kegiatan yang disukai Romo Sis. Rapat dinas jarang berlangsung lama. Semua sudah dipersiapkan dengan baik sehingga hanya hal-hal yang masih perlu diperdebatkan saja yang dibicarakan. Melalui kepribadiannya yang anggun, lebih suka mendengarkan daripada bicara sendiri, hal yang baik dan benar lebih mudah ditemukan dari pemikiran orang lain sehingga keputusan yang tepat pun lebih mudah ditentukan.

Romo Sis hampir tak pernah menerima usul memulangkan murid sebelum jam sekolah usai, apalagi sekadar untuk rapat. “Orangtua sudah membayar mahal untuk sekolah anak-anak mereka. Rapat bisa dilaksanakan sepulang sekolah. Siapkan makan siang, kalau perlu. Atau gunakan hari Sabtu yang pengaturan jamnya memang dikhususkan untuk rapat, ulangan susulan dan memberikan kesempatan kepada para murid dari luar kota agar bisa lebih awal pulang ke kotanya.” Hari libur yang banyak dalam kalender pendidikan pun pernah dikeluhkannya. “Libur terus. Kapan sekolahnya?”

Setiap kali terpaksa pulang pagi, Romo Sis berkeliling sekadar mengingatkan para murid agar tidak berkeliaran di mal dengan pakaian seragam, memanfaatkan waktu untuk belajar di rumah, bukan keluyuran. Beliau tidak suka bicara di depan mikrofon agar sekaligus bisa didengarkan oleh seluruh warga kelas, melainkan lebih suka berhadapan langsung. Ketika seorang siswa mengalami kecelakaan lalu lintas dan tewas seketika dalam liburan singkat menjelang EBTANAS, Romo Sis terlihat sangat sedih. Tahun-tahun berikutnya beliau mewanti-wanti agar murid berhati-hati di jalan raya, menjaga kesehatan dan juga mengingatkan para orangtua/ wali mereka.

Romo Sis senang sekali menggunakan terminologi yang setiap kali saya tuliskan dalam surat pemberitahuan kepada para orangtua/ wali, yaitu bahwa murid adalah tanggung jawab kolektif orangtua dan sekolah. Orangtua tidak menyerahkan anaknya sebagai tanggung jawab sekolah (dan bisa lepas tangan sesudahnya), melainkan: “… murid yang diserahkan ke dalam tanggung jawab kita, orangtua dan sekolah.” Dengan demikian, orangtua dan sekolah berkedudukan setara dalam tanggung jawab bersama tentang pendidikan anak (bagi orangtua) / murid (bagi sekolah). “Guru wong atuwa karo” (Guru adalah orangtua kedua).

Pulang pagi? “Tidak. Seperti … (silakan isi sendiri) saja!”

%d blogger menyukai ini: