• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Rasa Percaya

Tetap cinta

“Tanda tangan saya masih ada?” tanya Romo Sis sebelum pergi ke luar kota. Yang dimaksud adalah kertas surat resmi sekolah yang sudah dibubuhinya tanda tangan untuk berjaga-jaga kalau ada yang memerlukan surat keterangan, rekomendasi atau apa pun pada saat beliau tidak ada di sekolah. Saya harus membuat surat pas dengan tanda tangan Romo (yang karena di kertas kosong, sering lebih besar daripada bidang yang wajar dan manis untuk tanda tangan di akhir surat).

Sebagai kenang-kenangan saya masih menyimpan beberapa lembar setelah beliau tidak lagi menjadi kepala sekolah. Tapi ternyata, pengurangannya lebih kecil daripada penambahannya. Sebagai Ketua Yayasan Sancta Maria, beliau lebih sering bepergian dan supaya semuanya lancar, tanda tangannya saya simpan. Karena itu saya sering digoda seorang imam, teman saya: “Wah, kamu sekarang jadi sekretaris eksekutif, ya!” Kalau Romo Sis datang sendiri, beliau akan menyerahkan kertas kecil yang – sudah diketahui semua:) tulisannya jelek sekali sehingga harus beliau bacakan (kadang-kadang, Romo Sis pun tak berhasil membaca tulisannya sendiri!) terlebih dulu supaya tidak usah saya ganggu dengan pertanyaan dan ejekan. Namun jika tidak bisa datang sendiri, beliau akan menulis agak bagus butir-butir perintah/ keputusan untuk saya ‘jabarkan’, dan dikirimkan kepada saya dalam amplop bertuliskan nama saya lengkap dengan ‘Kepada Yth. Sdr.’ dan dilem.

Bersama sekardus memo-memo kecilnya yang juga saya simpan, kertas-kertas berharga pada saat hidup beliau itu saya musnakan setelah peringatan 100 hari wafatnya.

Tentang kertas bertandatangan itu saya pernah menggodanya: “Bagaimana kalau saya tulis saya sudah Romo beri izin mengambil uang seratus juta?”

“Kalau hargamu cuma segitu, ya silakan!” sahutnya sambil mesem.

“Lho … itu ‘kan saya sesuaikan dengan uang yang ada di sekolah! Kalau lebih banyak ya saya tidak akan menulis Rp 100.000.000,oo!”

Saya pernah tersinggung berat ketika memberikan surat Romo Sis kepada seseorang di Dempo. Surat itu dibacanya sepintas kemudian dibuangnya ke lantai. “Orangnya tidak di tempat, bagaimana bisa membuat surat?” Saya menyarankan agar ia mengambil kembali surat itu dari lantai agar saya mau melupakan kekurangajarannya. Setelah hal itu dilakukannya, saya menunjukkan kepadanya tulisan tangan Romo Sis di kertas kecil yang isinya membuat wajah orang itu merah padam dan kemudian meminta maaf.

Cara Romo Sis menegur orang yang bersalah sangat khas dan bijak-sana. Sedapat mungkin tidak di depan umum. Tidak banyak kata, tidak menghitung yang lalu dan selalu mengharapkan perbaikan di masa depan. “Saya minta …” Dan kalau kemudian terulang lagi kesalahan yang sama hingga beliau terpaksa menyuruh untuk membuat surat peringatan – saya tahu diri, harus tutup mulut – maka surat itu harus dilengkapi data yang detil, dengan menyertakan catatan kecil tapi cukup jelas tanggal dan peristiwanya. Jadi, beliau tidak mau mengada-ada apalagi berdasarkan ‘katanya’ atau mengandalkan ingatan apalagi perasaan like or dislike. Catatan-catatan di sebarang kertas itu saya simpan, sehingga ketika Romo Sis menerima petisi guru tentang Fr. Vianney S., O.Carm. dan saya yang mereka anggap sebagai ‘pembisik’ Romo Sis, saya sama sekali tidak terganggu. Bunyi petisi itu justru sangat lucu karena disusun terburu-buru oleh orang yang tidak tahu. Dalam rapat, ketika menanggapi tuntutan tentang Fr.Vianney, Romo Sis mengatakan bahwa beliau tidak berkewenangan menuruti kehendak para guru karena sebagai anggota Ordo Karmel dan salah seorang ‘pejabat’ Yayasan Sancta Maria, Fr. Vianney adalah ‘pemilik’ sekolah ini dan dia diberi tugas melaksanakan kepentingan yayasan di sekolah ini. Tentang saya tak ada yang dikatakannya.

Maka, “Terserah Romo. Saya tetap akan menghormati Romo kalau Romo menuruti tuntutan itu,” kata saya, tak sampai hati melihat beliau masygul dengan petisi itu di tangannya. Surat Edaran Direktur/ Kepala Sekolah yang dipermasalahkan para guru adalah permintaan agar para guru mengurus sendiri kepentingan pribadi mereka dan melarang mengalihkan tugas pribadi mereka kepada pegawai sekolah. Petugas ekspedisi bukanlah pesuruh setiap orang, melainkan pelaksana tugas/ kepentingan sekolah. Membayar rekening listrik, PDAM, telepon, dan lain-lain adalah kepentingan pribadi. Pembayaran rekening yang dilakukan oleh petugas sekolah dengan sendirinya membebani keuangan sekolah. Ketika gaji para pemilik rekening dipotong sehingga sisanya terlalu sedikit untuk menghidupi keluarga dalam sebulan, sebagian dari mereka mengajukan keberatan. Padahal, sebagian dari mereka bahkan tak malu menyuruh petugas ekspedisi itu untuk – salah satu contoh ekstrim: membelikan bumbu dapur, dengan cara pembayaran yang sama: potong gaji! Alasan yang dikemukakan adalah: tugas mengajar tidak memungkinkan mengurus sendiri semua kebutuhan rumah tangga dan tidak ada orang serumah yang bisa melaksanakan tugas itu. Keluhan petugas ekspedisi itu dan kesulitan Romo Sis sendiri ketika perintahnya tidak segera dipenuhi karena petugas itu harus melaksanakan berbagai ‘tugas’ pesanan guru, membuat berang Romo Sis sehingga beliau kemudian menuliskan ‘petunjuk baru’ untuk saya alihkan menjadi surat edaran yang menggegerkan. Para penerima surat edaran itu mengira sayalah orang yang harus bertanggung jawab atas terbitnya surat itu.

Tetapi Romo Sis justru mengatakan: “Yang bertanggung jawab atas surat yang saya tanda tangani adalah saya!” Tentu saja. Saya hanya bertugas membahasakan keinginannya dan kalau salah, kurang jelas, kurang tegas (saya sering harus ‘menghaluskan’ karena yang ditulis Romo Sis biasanya persis dengan yang ia katakan langsung, sehingga tidak sesuai dengan bahasa surat/ nota dinas), beliau akan menyuruh saya mengulanginya. Dalam hal ini saya sering bertengkar dengan beliau, misalnya saya mulai dengan: “Itu terlalu kasar, Romo!”

“Ndak. Orang ini tidak akan mengerti bahasa begitu. Lurus-lurus saja!” Dan biasanya saya akan mengalah kalau beliau sudah mengetukkan telunjuknya berkali-kali pada meja untuk menekankan keinginannya. Maka, tak jarang saya membuat dua versi. Terserah beliau, mana yang akan ditandatanganinya.

Ada kalanya saya ‘memenangi’ pertengkaran kami. Kalau sudah begitu, biasanya beliau akan langsung memanggil yang bersangkutan untuk ‘disemprot’. Romo Sis tidak berkomentar ketika sekali saja sesudahnya saya mengatakan: “Nah, begitu lebih baik. Nggak usah pakai surat-suratan segala!” dengan pengetahuan bahwa semakin banyak peraturan tertulis di dalam suatu organisasi, semakin tak bereslah organismenya. Sekolah bukanlah konglomerasi dengan banyak anak perusahaan yang memerlukan peraturan detil tentang segala macam prosedur dan sanksi bagi sangat banyak jenis pekerjaan dan pelaksananya, jenjang dan pengembannya. Saya lebih senang mengetahui Romo Sis rajin ‘nyemprot’ sebagai bapak yang rewel demi kebaikan anak-anaknya ketimbang sebagai penandatangan surat-surat keputusan yang sepihak dan berakhir mubazir.

Alangkah senang mengetahui bahwa yang paling sering ‘disemprot’ beliau pun ternyata tetap mencintainya!

%d blogger menyukai ini: