• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Romo Albert

Kader

Dalam buku “Sukses Alumni Dempo” (1996) saya menyebut Romo Sis sebagai single fighter. Upayanya untuk menghadirkan lebih banyak saudara seserikatnya di SMA Dempo ternyata hanya sedikit mengurangi kesibukannya. Tak banyak yang bisa diubah ketika Romo Sis sudah menjadi sedemikian lekat dengan Alma Maternya. Semua orang menghendaki berhubungan langsung dengan beliau meskipun berbagai kewenangan sudah didelegasikannya kepada orang lain.

Kembalinya Romo Albertus Herwanta Tri Wahyu Nugraha, O.Carm. setelah menyelesaikan studinya di Amerika memberikan harapan bahwa Romo Sis akan segera menikmati pensiunnya. Namun sayang, karena suatu hal, Romo Albert tidak langsung menggantikan Romo Sis, melainkan menjadi Kepala SMA Katolik St.Paulus, Jember. Padahal, Romo Sis sudah mengenalkannya ke mana-mana sebagai calon penggantinya.

Jauh sebelum itu, saya senang ketika Romo Albert mengikuti program pascasarjana manajemen pendidikan di IKIP Malang (Universitas Negeri Malang, sekarang). Romo Sis sependapat bahwa itu akan memberikan bekal yang cukup untuk kelak menggantikan tugasnya sebagai kepala sekolah selain in service job training yang sudah dilakukannya di SMA Dempo secara terputus-putus sejak mengawalinya sebagai pengajar agama. Namun, ternyata Romo Albert tidak menyelesaikan program itu dan sebagai ganti meneruskan studinya di Washington DC, Amerika Serikat.

Maka Romo Sis pun harus menunda pensiunnya lebih lama, bukan dua tahun melainkan dua kali lipatnya, bahkan lebih. Tetapi sudahlah. Romo Sis memang suka menyenangkan orang lain. Kalau memang Ordo Karmel belum dapat menyiapkan penggantinya, beliau sendirilah yang akan menyiapkannya sambil bersabar tentang berbagai akibatnya.

Pada tahun 1997, Romo Sis diganti Romo Michael Moeljo Hartomo, O.Carm. yang sebelumnya menjabat Kepala Tata Usaha. Romo Michael yang kepada saya pernah mengatakan harapannya bahwa paling lama hanya dua kali empat tahun dia mau menjadi kepala sekolah, ternyata menjabat selama kurang dari lima tahun saja. Romo Sis ‘turun gunung’ sebagai kepala sekolah selama tiga bulan sebelum wafat pada tanggal 13 April 2002. Sebagai care taker adalah Romo Maximilianus Kolbe Agung Wahyudianto, O.Carm. yang kemudian menyerahkan jabatannya kepada Romo Albert yang sudah menunda penerimaan jabatan Kepala SMA Katolik St.Albertus sekian lama.

Wafatnya Romo Sis dengan sendirinya menghapus kaul pribadi saya untuk terus bekerja di SMA Dempo selama dikehendakinya. Romo Sis wafat pada hari saya harus menghadap dosen pembina untuk berkonsultasi tentang tesis yang harus saya presentasikan pada hari berikutnya. Pemberitahuan Romo Agung pada dini hari itu saya terima dengan rasa sesal karena ketika jenazah beliau dibawa dari Surabaya ke Malang, saya justru harus pergi ke Surabaya. Ini mengingatkan saya akan dua matakuliah S1 yang diujikan pada saat saya harus mengerjakan pengolahan nilai EBTANAS 1992 di Dempo. Karena saya memilih melaksanakan tugas saya di Dempo, maka wisuda S1 saya harus tertunda satu semester. Romo Sis yang kemudian mengetahuinya justru menyalahkan saya.

“Kamu ‘kan bisa ikut ujian dulu, baru mengerjakannya?”

“Tidak akan sempat, Romo!”

Pengorbanan semacam itu sangat dihargai Romo Sis kendati beliau ‘tak lupa’ marah terlebih dulu. Karena itulah saya memutuskan untuk mengurus diri sendiri terlebih dulu baru kemudian datang ke Dempo. Sampai tengah malam saya menyusun teks misa requiem, termasuk membuat lagu mazmur tanggapan khusus. Pak Gabriel Mado meminta saya untuk sekaligus menyanyikannya, tetapi saya senang ketika Romo Yulius Sudharnoto, O.Carm. menemui saya dan meminta agar mazmur itu dinyanyikan oleh seorang frater, seperti yang saya anjurkan. Terus terang, waktu itu saya tersenyum di depan foto Romo Sis yang dipajang di ruang tamu Dempo karena saya masih setia menjadi bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tak ingin jadi apa-apa pun siapa-siapa. Boleh percaya, boleh tidak, ungkapan saya itu pernah membuat jengkel Romo Sis dan mengusir saya keluar dari ruang kerjanya!

“Am I free, now, Father?” tanya saya di depan makam Romo Sis. Ada dua orang yang waktu itu menarik perhatian saya karena tampak sangat khusuk berdoa di makam Romo Sis setelah semua orang mulai bergerak menjauh. Romo F.K. Poerwoadisasmito, O.Carm., yang kemudian menjadi Pjs. Ketua Yayasan Sancta Maria, dan Romo Albert!

%d blogger menyukai ini: