• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Sangu Buat Pengawas

“Sangu? Duite mbahe!”

Lazim di masa Orde Baru, ‘pengawas’ yang datang ke sekolah yang ‘diawasi’-nya akan pulang membawa sangu. Nominalnya beragam, bergantung kemampuan dan kerelaan serta ketakutan atau kepuasan kepala sekolah tentang penilaian kinerjanya. Di sekolah negeri, pengawas bahkan sering disambut bak pejabat tinggi, ditempel ketat oleh kepala sekolah yang ia datangi, guru-guru muda dan cerah ramah tamah diminta terus tersenyum melayani, beberapa orang guru atau karyawan akan sibuk berburu oleh-oleh dan atau makanan kesukaan si pengawas.

Terutama bila ada pengawas datang, saya justru bisa melihat Romo Sis sebagai kepala sekolah swasta yang luar biasa, mungkin tiada duanya. Sementara yang lain sibuk melayani pengawas, beliau asyik dengan kegiatannya sesuai jadwal: mengajar. Beliau tidak mau menemui tamu jika sedang mengajar. Sepenting apa pun masalahnya (tidak ada tamu yang tidak menganggap penting kedatangannya), Romo Sis akan meneruskan tugas utamanya. Kalau mau silakan menunggu, atau datang kali lain dengan janji yang harus ditepati. Kalau tidak, salah sendiri!

Beberapa guru PNS yang berpengalaman atau mengetahui kebiasaan di sekolah negeri, pernah mengusulkan agar Romo Sis mau memberikan se-jumlah uang ketika pengawas berpamitan pulang. Saya tidak tahu persis bagaimana beliau menjawab pengusul itu, tetapi kepada saya yang menanyakannya sekadar untuk menyampaikan keluhan guru pengusul dan – terus terang – ingin tahu jawaban langsung dari beliau yang sebenarnya sudah saya duga tetapi tetap terdengar asyik di telinga saya, Romo Sis menjawab ketus: “Sangu? Duite mbahe! Datang ndak diundang, pulang minta sangu!”

Semestinya memang begitu. Tugas kepengawasan yang dilaksanakan sesungguhnya sudah menghasilkan gaji dan uang perjalanan dinas. Seandainya itu tidak cukup, pemenuhan kebutuhannya bukan kewajiban sekolah-sekolah yang diawasi. Suap atau sogok sesungguhnya adalah ambang pintu yang dibuka sendiri oleh sekolah yang diawasi untuk lebih sering didatangi.

Ketika membaca aturan mainnya, saya tidak tahu mengapa jabatan itu disebut ‘pengawas’. Padahal tugas utama pengembannya adalah membantu agar sekolah-sekolah di wilayahnya terus meningkatkan kinerja terbaik berdasarkan standar yang sudah ditentukan. Tetapi saya maklum, karena begitulah kecenderungan kita. Supervisi dimaknai sebagai kepengawasan yang dilaksanakan sekadar untuk mencari kesalahan, dan setiap kesalahan adalah harga yang harus dibayar. Dalam makna itu, setiap kesalahan yang ditemukan serupa dengan amplop yang minta diisi lembaran uang, bukan sesuatu yang harus ditanggulangi bersama.

Suatu saat, saya diminta Romo Sis menggantikan peran Pak Hendro Wiratno (Kepala Tata Usaha) dalam penilaian akreditasi oleh tim pengawas yang akan datang. Saya menerima tugas itu karena memaklumi alasannya.

“Jawab saja sesuai kenyataan, apa adanya. Tidak usah takut!”

Bukannya takut, tetapi supaya saya sendiri tidak usah terpancing memberikan jawaban atau pelayanan yang tidak menyenangkan, dengan cepat saya menyiapkan beberapa hal yang mungkin akan dipermasalahkan oleh ketua tim pengawas yang – menurut informasi dari beberapa orang – adalah seorang yang ‘keras’. Romo Sis memenuhi permintaan saya untuk pengadaan papan data, papan nama, berbagai jenis map, dan sebagainya untuk melancarkan proses penilaian akreditasi. Beberapa orang harus melembur untuk menyiapkan ini-itu yang sebelumnya tidak dilakukan atau tidak ditindaklanjuti dengan baik.

Tibalah saat saya berperan sebagai Pak Hendro. Ketika melihat penampilan ketua tim pengawas – bersafari, bersepatu kets, menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri, bersandar tak tegak dan memandang saya seolah-olah sebagai seorang pesakitan – mula-mula saya agak gentar juga. Tetapi satu persatu pertanyaannya saya jawab dengan mantap. Surat-surat yang dimintanya saya tunjukkan dengan cepat. Arsip surat yang disebutkannya secara acak dapat segera saya berikan. Namun, tetap ada yang kurang.

Meubelair harus diberi stiker atau disablon dengan nomor sesuai dengan yang tercantum pada daftar inventaris. Ini sekolah besar, kok administrasi barangnya tidak dilakukan dengan baik? Saya beri nilai buruk pada bagian ini!” kata sang pengawas.

“Silakan,” kata saya kalem. Saya melihat sang pengawas kaget karena jawaban saya.

“Kami punya alasan untuk tidak melakukan hal itu,” jelas saya, mengada-ada, bukan karena alasan lain, tetapi karena saya tidak menyukai sikapnya. Tidak perlu memberitahukan nilai yang akan diberikannya, cukuplah ditandainya kolom nilai pada daftar penilaian di tangannya.

“Meskipun banyak, barang-barang di sini tidak pernah ada yang hilang atau berpindah tempat tanpa ketahuan. Stiker atau sablon tidak menjamin …”

“Saya pengawas, lho!” sergahnya. “Adalah tugas saya untuk mengingatkan hal itu!”

“Iya. Terima kasih karena Bapak sudah mengingatkan kami. Nanti akan saya bicarakan dengan Kepala Sekolah. Biar beliau yang memutuskan apakah kami akan memberikan stiker atau sablon pada semua barang atau tidak!”

“Itu harus dilakukan!” bentaknya. Dan saya makin yakin bahwa itu dilakukannya sebagai gertak karena menemukan kesalahan yang dapat dijadikan alasan untuk melakukan tindakan ‘pembinaan’ lebih lanjut.

“Bapak, status sekolah ini tidak akan diturunkan hanya karena barang-barangnya tidak diberi stiker, ‘kan? Kalau setiap barang tercatat dan semua orang di sini bertanggung jawab, bukankah stiker atau sablon bukan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan?”

“Nama Bapak, siapa tadi?” tanya sang pengawas jengkel.

“Hendro Wiratno,” jawab saya mantap. Nama itu dicatatnya, kemudian tanpa permisi ditinggalkannya saya ke ruang kantor direktur.

Pak Hendro yang ikut mendengarkan percakapan tadi tertawa dan menyalahkan saya karena menyebut namanya sebagai nama saya.

“Tenang aja, Pak,” kata saya. “Saya harus menyebut nama yang sesuai dengan struktur jabatan. Kalau nanti ada masalah, saya yang bertanggung jawab!”

Singkatnya, SMA Katolik St.Albertus akhirnya mendapatkan rata-rata nilai yang jauh melampaui ambang sekolah terakreditasi ‘Disamakan’ (sekarang, seperti berlaku bagi perguruan tinggi, huruf mutulah yang digunakan untuk menggantikan ‘Disamakan’, ‘Diakui’ atau ‘Terdaftar’). Romo Sis tertawa ketika saya menceritakan percakapan saya dengan sang ketua tim pengawas.

“Apakah Romo tadi diminta memberikan stiker atau menyablon semua meubel?”

“Iya.”

“Dan?”

“Nanti saja kalau memang perlu.”

Sampai sekarang, kendati sesungguhnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan inventarisasi yang baik, hal itu tidak pernah dilakukan.

“Romo memberi mereka sangu?”

“Ndak. Kok enak?”

“Wah, bagaimana kalau nanti status Dempo diturunkan sehingga cuma jadi ‘Terdengar’?”

Sebagai jawaban, sekali lagi Romo Sis tertawa. Beliau mengangguk setuju ketika saya beritahu bahwa kalau ada, semestinya Dempo diberi status ‘Dilebihkan’ kalau parameter penilaian hanya didasarkan pada ‘pengawasan’ yang dilakukan seperti tadi. Masyarakatlah yang semestinya menilai mutu sekolah, bukan pemerintah.

Sekarang, sekolah negeri tidak lagi menjadi acuan bagi sekolah-sekolah swasta untuk cap ‘Disamakan’, ‘Diakui’, ‘Terdaftar’. Meskipun belum dilakukan oleh lembaga yang sungguh-sunguh independen, akreditasi sudah dilakukan lebih baik daripada sebelumnya. ‘Pengawas’ tidak tampil menakutkan lagi. Baik sekolah swasta maun negeri tidak lagi menjadi jujugan mereka yang hendak mencari tambahan penghasilan melalui penemuan kesalahan.

Datang tak diundang, pergi tak diusir (diantar sampai teras depan), kok minta sangu! Setahu saya, Romo Sis memegang teguh keyakinannya tentang hal itu, kendati beberapa kali didesak oleh beberapa orang terdekatnya. Romo Sis lebih suka memberi muridnya, guru atau pegawai bahkan alumni sekolahnya jika mereka benar-benar membutuhkan bantuannya ketimbang memberikan sangu kepada orang yang hendak menjadikannya bukan seorang Romo Sis yang dikagumi ribuan orang.

%d blogger menyukai ini: