• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Secret Admirers

“Romo Sis ganteng ya?”

Sore itu saya sibuk dengan pengolahan nilai-nilai EBTANAS. Sendirian di kantor. Dan telepon berdering. Ibu saya menelepon dari RS Pertamina Jakarta, memberitahukan meninggalnya ayah saya dan meminta agar saya segera datang menemaninya.

Sambil mendoakan arwah ayah, saya meneruskan pekerjaan saya sampai beres. Ketika Romo Sis datang ke sekolah seperti biasa setelah beristirahat siang, saya menyampaikan berita itu.

“Lho … kok ndak mbangunkan saya? Sini kunci skutermu!”

Kunci skuter saya diminta. Mungkin tujuannya supaya saya tidak pulang mengendarainya dengan hati tidak tenteram. Saya berikan. Dan saya diantarkan pulang oleh seorang frater, kemudian langsung ke Juanda untuk mengejar pesawat terakhir tujuan Jakarta.

Di ruang tunggu, saya bertemu dengan seorang perempuan yang masih menyisakan kecantikan masa mudanya. Dari sekadar bertegur sapa, akhirnya kami mengobrol akrab setelah sama-sama mengaku sebagai alumni Dempo. Salah satu pernyataan ibu itu: “Romo Sis ngganteng ya …” saya teruskan kepada Romo Sis setelah seluruh rangkaian upacara pemakaman ayah di Balikpapan selesai. Romo Sis hanya tersenyum tipis dan saya tidak lanjut menggodanya karena beliau ternyata lebih tertarik menanyakan ikhwal keluarga saya.

Pujian yang serupa pernah dilontarkan secara terbuka oleh seorang kenalan saya, pengarah acara di stasiun TVRI Surabaya ketika ia bertemu dengan Romo Sis. Spontan ia mengakui kesan temannya, seorang alumna Dempo, tentang kegantengan Romo Sis. Dan yang dipuji cuma kethap-kethip tersenyum tipis.

Sekelompok gadis remaja yang sedang merayakan euforia kelulusan mereka dari Dempo merencanakan untuk beramai-ramai mencium Romo Sis sebagai tanda ucapan terima kasih. Menyaksikan keseriusan mereka, saya khawatir apabila hal itu benar-benar terjadi (ingat dosa sakrilegi!), meskipun dalam hati saya justru ingin menjadi saksi peristiwa itu. Maka saya memberitahu beliau lewat interkom.

Romo Sis kaget, kemudian menanyakan nama gadis-gadis itu. Saya hanya menyebutkan nama salah seorang yang rupanya jadi pentolan kelompok itu. Satu nama saja sudah cukup bagi beliau untuk segera mengetahui siapa saja mereka, karena selain menghafalkan nama murid-muridnya, beliau juga mengamati dengan siapa seseorang biasa bergerombol.

Maka terjadilah adu kuat. Romo Sis ada di dalam kantornya dengan pintu tertutup dan terkunci, sibuk menandatangani STTB dan legalisasi fotokopinya. Gerombolan gadis itu menunggu di depan pintunya sambil mengobrol.

Akhirnya dilakukanlah upaya kongkalikong untuk mengevakuasi Romo Sis ke seminari melalui pintu penghubung kantornya dengan ruang operator, ruang panitia, ruang fotokopi dan pintu seminari.

Saya tidak tahu apakah gerombolan gadis itu berhasil melaksanakan aksi yang mereka rencanakan itu atau tidak karena saya sendiri juga disibukkan dengan banyak tugas di seputar kelulusan. Malamnya, ketika bertemu lagi dengan Romo Sis, saya menggoda beliau.

“Enak, Romo?”

Romo Sis hanya mendengus.

“Kalau hanya mencium ya nggak apa-apa toh, Romo? Mereka ‘kan anak-anak Romo juga?”

Lagi, Romo Sis mendengus, kemudian menyeringai lebar tanpa suara.

“Jadi, mereka berhasil?” selidik saya.

“Hus!”

Dan saya berhenti menggodanya.

%d blogger menyukai ini: