• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Sekolah Unggulan

Unggul modalnya

Berdirinya SMA Taruna Nusantara segera disusul sekolah-sekolah lain yang bercap ‘unggulan’. Boarding schools pun bermunculan. Gejala itu ditangkap oleh Romo Sis sebagai hal yang wajar. Meskipun bukan seperti Pater J. Drost, SJ yang gemar menulis di koran atau membuat buku tentang pendidikan, komentar-komentar pendek Romo Sis tentang dunia persekolahan cukup jitu. Saya katakan ‘pendek’ karena Romo Sis bukan seorang pembicara yang lancar berpanjang lebar. Beliau adalah pekerja yang lancar.

“Sekolah-sekolah itu, apa keunggulan mereka?” tanya saya saat Romo Sis sedang membaca di kantornya dan saya menemuinya untuk meminta tanda tangan. Di mejanya terdapat beberapa buku dan majalah pendidikan.

“Modalnya,” sahut beliau pendek. “Pemodalnya kaya.”

“Sehingga bisa menempatkan banyak profesor dan doktor sebagai kuratornya?” tanya saya menggoda. Dan beliau paham. Maka senyumlah Romo Sis sebagai jawaban.

“Ironis ya, Romo? Dempo dulu sekolah berasrama. Sekarang justru berdiri banyak sekolah berasrama. Mengapa asrama tidak dipertahankan?”

“Tidak ada tenaga,” jawab beliau. “Mengurus asrama itu ndak gampang. Modalnya harus besar!”

“Mengapa Talang 3 tidak digunakan sebagai asrama lagi? Kantor provinsialat tidak perlu sebesar itu ‘kan?”

Pada saat itu, Jalan Talang 3 Malang sudah kosong karena Seminarium Marianum pindah ke Probolinggo dan Provinsialat Ordo Karmel akan menjadi penghuninya yang baru. Saya mengetahui rencana itu pada saat mengikuti rapat Dewan Pastoral Keuskupan Malang. Meskipun saya tahu bahwa Romo Sis tidak berkewenangan mengubah, iseng saja saya tanyakan hal itu kepada beliau.

“Sekolah berasrama sangat ideal, strategis untuk pendampingan anak-anak bangsa, dan sesuai dengan karakter Ordo Karmel. Orangtua pasti senang mengirimkan anak-anak mereka belajar di sekolah berasrama yang diurus oleh para Karmelit. Masih banyak sekolah di luar negeri yang bertahan sebagai sekolah berasrama, bermodel full-day school, sehingga kegiatan belajar tidak terbatas di kelas dan jam sekolah. Dengan begitu, pembelajaran life skill lebih efektif. Pendidikan betul-betul dihayati seperti semboyan ‘Non scholae, sed vitae discimus’ (Kita belajar bukan demi sekolah, melainkan demi kehidupan). Nilai-nilai moral, spiritual, intelektual bergabung sebagai keterampilan hidup yang dikembangsuburkan dalam diri peserta didik …”

“Ya nanti dipikirkan lagi,” sahut Romo Sis memutus ‘pidato’ saya dan menyuruh saya mengikutinya pergi ke kamarnya. Beberapa buku diberikannya untuk saya baca. Dari buku-buku itu dan bahan-bahan lain yang saya temukan sendiri, saya menyusun sebuah ‘tesis’ (menurut istilah Romo Sis tentang tulisan-tulisan saya) untuk beliau. Seberkas kliping saya dari kerajinan berselancar di dunia maya saya pinjamkan kepada beliau bersama dengan ‘tesis’ itu.

“Ini buku bagus. Fotokopikan satu untuk saya!” katanya setelah membaca buku itu sepintas. Lama kemudian, sebuah seri Penguin Books berjudul ‘Summerhill’ karangan A.S. Neill, terbit pertama kali pada tahun 1962 saya terima sebagai hadiah dari seorang sahabat. Kendati tergolong buku lama (pasti isinya juga) dan sebenarnya lebih banyak bicara tentang pendidikan dasar, hal-hal yang dibahas pengarangnya, seorang praktisi pendidikan terkemuka Inggris pada zamannya, masih relevan sampai sekarang bahkan mungkin sepanjang masa. Buku itu melengkapi kliping saya.

“Kalau setiap sekolah di Indonesia seperti Summerhill ini, wah, dunia pendidikan kita akan hebat!” kata saya.

“Kamu terjemahkan aja, supaya guru-guru juga bisa membacanya!” kata beliau.

Ngenyek!” sahut saya sambil tertawa. Romo Sis pasti mengejek saya, karena predikat penerjemah itu melekat pada beliau. Kemampuan berbahasa Inggris saya tak seujung kuku beliau. Sampai saat itu saya hanya bisa membaca, belum berani menulis apalagi bicara.

“Sekolah yang begini ini baru layak disebut sekolah unggulan oleh masyarakat, bukan cuma klaim kosong karena fasilitasnya yang hebat, gedungnya yang megah ber-ac, guru-guru yang bergelar magister atau doktor, murid-murid yang membayar sangat mahal, orangtua yang kaya raya,” kata beliau lagi.

“Iya. Apalagi kalau kepala sekolahnya Romo Sis!” kata saya menggodanya lagi. Dan seperti biasa, Romo Sis tidak pernah menanggapinya kecuali tersenyum tipis.

Buku itu tidak pernah saya terjemahkan. Saya tahu diri. Kemampuan saya tidak memadai. Sampai dengan saat itu SMA Dempo pun tak pernah menyebut dirinya sebagai sekolah unggulan. Di masa kepemimpinan Romo Sis, SMA Dempo selalu dibanjiri peminat dan harus menolak ratusan calon murid.

Sekarang, kepala sekolahnya lulusan S2 dari universitas terkemuka di di Amerika Serikat. Dalam rencana jangka panjang 10 tahun ke depan, kepala sekolahnya berhendak “memantapkan dan meningkatkan secara berkelanjutan kualitas dan status SMAK Santo Albertus (Dempo) sebagai lembaga terbaik dan bertaraf internasional yang mampu mendidik pemimpin yang berkualitas dan berintegritas untuk mewujudkan kebijakan mutu sesuai dengan visi dan misi berpedoman pada system (!) manajemen mutu ISO 9001:2000.” Selain masalah redaksional yang membingungkan, rencana itu terbaca sangat ambisius di tengah persaingan yang kian ketat.

Apakah parameter yang digunakan untuk menyebut diri sebagai lembaga (pendidikan) terbaik? Ada siswanya yang berhasil meraih medali emas dalam olimpiade matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, astronomi? Atau jika ada siswanya yang berhasil meraih trofi lomba ini atau itu di tingkat nasional, regional, lokal? Jika paduan suaranya langganan juara festival? Jika beberapa lulusannya berhasil meraih gelar S1 kurang dari empat tahun, S2 kurang dari dua tahun, atau salah seorang lulusannya berhasil meraih gelar doktor pada usia sangat muda?

Menjadi lembaga (pendidikan) bertaraf internasional? Kalau SMA Dempo sekarang tidak lagi punya kepercayaan diri untuk menjadi lembaga pendidikan tingkat menengah yang disegani, puas sebagai penyalur siswa yang orangtuanya mampu untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, apa bedanya SMA Dempo dengan lembaga nonformal yang sukses justru karena yang dijual adalah kelemahan lembaga-lembaga pendidikan formal pada umumnya?

Mendidik (calon?) pemimpin yang berkualitas dan berintegritas? Wah. Kebijakan mutu sesuai dengan visi dan misinya berpedoman pada sistem manajemen mutu ISO 9001:2000? Boleh jadi SMA Dempo adalah satu-satunya sekolah menengah yang (bisa) mendidik pemimpin masa depan! Namun sayang, visi dan misinya justru berpedoman pada sistem manajemen mutu bertaraf internasional yang sertifikatnya tak langgeng. Entah bagaimana cara mendapatkan dan mempertahankannya, visi dan misi karya pendidikan Ordo Karmel ini tidak menjadikan sertifikat itu sekadar sebagai instrumentum laboris, melainkan (justru) pedoman!

Saya meragukan kesinambungannya, karena sejarah kontemporer sudah menunjukkan bahwa pergantian kepala sekolah dengan sendirinya akan merombak pula kinerja sekolah di tengah-tengah masyarakat. Visi-misi yang dirumuskan sebelumnya dari nilai-nilai kependidikan yang ditumbuhkembangkan SMA Dempo di masa lalu kini sudah diubah. Renstra sepuluh tahunan mengandaikan tidak akan ada pergantian kepala sekolah sebelum rencana dan strategi yang sudah disusun itu diwujudnyatakan. Kalau ada pergantian di tengah-tengahnya, kepala sekolah yang baru akan mudah terdorong ‘mengoreksi’ kebijakan lama karena berbagai alasan pembenar yang mudah pula dipadukan dengan trend yang sedang berlaku. “Dulu loyang, sekarang besi”, setiap zaman dan orang membawa peruntungannya sendiri.

%d blogger menyukai ini: