• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Seni

“Balekno ae!”

Suatu hal yang mungkin jarang dibicarakan tentang Romo Sis: apakah beliau menyukai seni? Ya. Paling tidak, beliau suka menikmati keindahan. Itulah hakikat pecinta seni. Ada satu lukisan yang sangat disukainya. Dulu, lukisan itu dipajang di dinding dekat pintu kantornya. Tetapi, suatu ketika, menjelang Reuni Akbar 1996, beliau memanggil saya dan mengatakan keinginannya untuk mengganti tata letak dan dekorasi kantornya.

“Saya senang lukisan itu. Tapi, tampaknya ndak cocok dengan tatanan sekarang ya?”

Saya, tak mau repot dengan kegundahannya, menganjurkan: “Dipasang di kantor TU saja, Romo. Jadi, Romo tetap bisa melihatnya setiap saat.”

Beliau setuju. “Tapi jangan jauh-jauh ya.”

Lukisan itu menggambarkan seorang pemulung sedang mengorek isi tong sampah. Ada puisi tentang perjuangan hidup si pemulung, tertulis pada secarik kertas yang tergolek di sudutnya.

Mungkin, sekadar memanfaatkan saya sebagai ‘tukang kritik’, tak jarang beliau menanyakan “Ini bagus ndak?” Padahal saya tahu, bahwa jika saya menjawab ‘tidak’ pun, yang diinginkannya akan tetap dilaksanakannya.

Pembagian kantor TU depan yang tampak sekarang pernah membuat saya menjadi sasaran omelannya. “Jelek!” komentarnya. Saya pikir juga begitu. Padahal, bahan dan siapa yang mengerjakannya ditentukan Romo Sis sendiri. Maka, sebagai ganti saya mengusulkan yang lain.

“Lha ini dibuat apa?” tanyanya dan langsung dijawabnya sendiri, “Balekno ae!”

Belakangan saya tahu bahwa beliau baru saja dikecewakan pembuatnya. Ooo …

Kali lain Romo Sis mengomentari seorang murid yang sedang bergaya di panggung: “Mikrofon kok didhekek ndhik bokong!”

Dalam acara kesenian di sekolah, Romo Sis sangat menikmati kesenian yang disajikan para murid, termasuk aerobic-dance oleh para siswi dengan pakaian ketat dan agak terbuka. Beliau tak segan bertepuk tangan dan memuji penampilan muridnya.

Beberapa kali saya ditanya, “Kamu kok ndak nyanyi?” untuk memerintah saya menyanyi. Tetapi tentu tak semua acara – di sekolah maupun di luar sekolah – bisa menerima spontanitas. Apalagi sesungguhnya saya juga bukan orang yang berani tampil tanpa persiapan. Maka, perintah beliau tak selalu bisa saya penuhi.

Suatu ketika, saya diundang seorang teman yang merayakan pernikahannya di sebuah restoran terkenal di Surabaya. Pengantin juga mengundang beberapa imam kenalannya dari Malang. Salah satunya: Romo Sis. Maka saya pun ikut rombongan imam itu dan ditempatkan tepat di depan panggung. Biasalah, para imam memang tergolong orang-orang terhormat, selalu diperlakukan istimewa. VVIP.

Semua serba lancar. Hidangan demi hidangan mengalir, dan saya beruntung karena para imam yang bersama saya punya porsi makan yang serba sedikit. Oleh pengantin, saya diminta menyanyi. Maka saya pun memilih ‘Willingly’ dari Chrispian St.Peters untuk menghormati pengantin. Barangkali karena tepuk tangan, mungkin juga karena terlalu menghayatinya, kilat lampu strobo yang sangat tiba-tiba mengagetkan saya sehingga blas, lupa syair lagu itu pada bait setelah ulangan. Saya memohon maaf dan cepat-cepat turun, kembali ke tempat duduk saya.

Pemimpin acara – seorang penyanyi terkenal – memberikan komentar yang menguatkan tentang ‘kecelakaan’ itu. Tapi Romo Sis justru mengejek saya: “Ndeso!” karena saya berhenti menyanyi hanya gara-gara lampu panggung!

Sebagai acara puncak, tampillah seorang penari dari negeri seberang. Strip-tease pun tergelar, tepat di depan meja para imam itu. Ganti saya yang berkesempatan menggoda mereka: “Ndeso!” karena berpura-pura sibuk dengan hidangan penutup yang tinggal airnya.

%d blogger menyukai ini: