• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Sepeda Pinjaman

“Hanya memberi, tak harap kembali …”

Seorang pegawai datang berkeringat yang membuat pakaiannya lengket di badan dan wajah merah padam. “Olahraga, Pak?” tanya saya.

“Iya. Nyoba jalan kaki dari rumah,” jawabnya.

Beberapa hari kemudian seorang teman lain memberitahu saya bahwa pegawai itu sudah dua minggu selalu berjalan kaki pergi-pulang bekerja. Padahal rumahnya sangat jauh dari sekolah. Maka saya menemuinya dan memancing pembicaraan untuk mengetahui kesulitannya. Ternyata, berjalan kaki adalah pilihan satu-satunya setelah sepeda motornya terjual dan ongkos mikrolet dua kali ganti pun kemudian harus dicoret dari daftar pengeluaran keluarganya yang tiba-tiba membengkak untuk membayar uang masuk anak pertamanya di sebuah sekolah favorit, membayar sebagian utang dan kebutuhan sehari-hari yang lain.

Begitu ruang direktur lowong, saya meminta kepada Romo Sis agar diperbolehkan meminjam satu dari sepeda pancal kuno yang teronggok di pojok tempat parkir seminari.

“Jangan. Sepeda itu bukan milik Dempo. Untuk apa kamu pinjam sepeda?”

Saya ceritakan kembali kisah sang pegawai. Romo Sis mendengarkan dengan sabar dan di akhir cerita saya, beliau bertanya: “Apa dia mau naik sepeda pancal?”

Waduh. Saya tadi tidak bertanya kepada teman saya itu, apakah dia mau naik sepeda pancal daripada berjalan kaki. Semula saya merasa heran atas pertanyaan Romo Sis yang memang sering tak terduga. Tapi kemudian saya sadar bahwa membantu orang itu seharusnya sesuai dengan kebutuhannya. Iya kalau dia mau, bagaimana kalau dia memilih berjalan kaki saja?

Tetapi beberapa hari kemudian saya melihat teman itu naik sepeda jengki, baru. Dia bilang, Romo Sis meminjamkannya. Saya lega, untuk sementara. Tak lama kemudian saya melihatnya berjalan kaki lagi. Dia bilang, sepeda itu sudah dijualnya!

Tidak mungkin saya menahan kekecewaan saya. Ketika saya menanyakan masalah itu, Romo Sis hanya mengatakan: “Mau diapakan lagi?”

“Kok begitu ya, Romo?”

“Lha kamu bagaimana, kok dia bisa begitu?”

“Lho, Romo menyalahkan saya?”

“Bukan,” kata Romo, “saya ndak tahu bagaimana dia mengurus rumah tangganya. Kalau besar pasak daripada tiang, bagaimana mungkin bisa sejahtera?”

“Dia memilih sekolah yang baik buat anaknya. Bea masuk dan SPP-nya bahkan hampir setara dengan Dempo. Barangkali Romo bisa memintakan keringanan SPP dari sekolah itu?”

Romo Sis tidak menjawab pertanyaan saya, melainkan: “Seandainya dia mau bilang, dia ndak perlu menjual sepedanya!”

“Sepedanya? Itu ‘kan sepeda yang Romo pinjamkan?”

“Tidak. Sepeda itu memang untuknya.”

%d blogger menyukai ini: