• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Sopan Santun

Bule

SMA Dempo sering menerima tamu, sendiri, beberapa atau dalam rombongan besar. Suatu ketika, saya dicari-cari oleh seorang pegawai TU yang kemudian memberitahukan ada sejumlah orang asing di ruang tamu. Si pegawai mengatakan bahwa tak seorang pun di kantor TU yang berani menemui tamu itu. Para guru bahasa Inggris sedang mengajar, dan begitu pula Romo Sis. Mereka yang sedang beristirahat di ruang guru pun tak ada yang bersedia menemui rombongan tamu sekolah itu.

Saya pun bergegas ke ruang tamu. Dan sebelum saya sempat bertanya, salah seorang tamu – bule – bertanya dalam bahasa Indonesia yang sangat baik dan santun.

“Kami akan bermain voli bersama teman-teman dari IKIP. Di manakah lapangannya?”

Maka saya mengajak mereka – para mahasiswa ekspatriat IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) – itu untuk ke lapangan. Dalam hati saya menggerutu. “Sudah kadung lari, ngglethek, ternyata para tamu bule itu justru berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan santun!

Peristiwa itu segera menjadi bahan lelucon di kantor TU. Di sebaliknya ada keprihatinan yang kemudian saya katakan kepada Romo Sis.

“Tidakkah sebaiknya diadakan lagi matapelajaran English Conversation untuk meningkatkan gairah dan prestasi murid dalam belajar bahasa Inggris? Kalau perlu, Dempo bisa bekerja sama dengan institusi asing untuk mendatangkan native speakers sehingga para guru bahasa Inggris bisa termotivasi dan yang lain bisa nunut belajar?”

Romo Sis mencatat usul itu dan tak lama kemudian SMA Dempo menjalin kerjasama dengan sebuah institusi dari Australia untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Inggris. Sayang, kerjasama itu tak berlangsung lama karena ternyata banyak juga kendalanya. Saya tak akan merincinya, tetapi ‘protes’ saya tentang hal itu dijawab ketus oleh Romo Sis: “Wis, susah mungsuh wong Jawa!”

Romo Sis kita kenal santun. Para muridnya pun diajaknya belajar santun, termasuk di meja makan. Para murid kelas III dalam masa kepemimpinannya selalu diajari table manners. Beliau sendiri yang menyiapkan bahan ajar dan perlengkapannya. Meningkat sedikit, beliau menggunakan over-head projector dengan beberapa lembar transparant sheet sehingga murid lebih mudah mengikuti uraiannya yang – berbeda dengan saat mengajarkan analit – banyak humornya, mencela kebiasaan makan dan sopan santun sebagian orang kita. Pada tahun terakhir sebelum pensiun, beliau pun minta disediakan pengeras suara karena mengaku sudah megap-megap kalau harus berteriak-teriak. Kalau sampai waktunya, mungkin Romo Sis akan lebih senang jika presentasinya itu dipercantik dengan Powerpoint atau Macromedia.

Dalam buku “Sukses Alumni Dempo” (1996) saya mengesankan Romo Sis sebagai seorang yang mau mengambil alih tanggung jawab atas kesalahan anak buahnya. Beliau tidak suka mencari kambing hitam. Bahasa gaul Romo Sis pun sangat santun.

Suatu saat beliau mengantar seorang konfraternya berkeliling Dempo. Semua tentang SMA Dempo dipamerkannya kepada saudara seserikatnya dari Australia itu dengan bahasa yang cenderung merendah. Di perpustakaan, Romo Sis menyilakan tamunya untuk bertanya sendiri kepada para pustakawan yang menyambut mereka. Dan si tamu pun bertanya, memuji dan menyarankan ini-itu. Nyaris seluruhnya tak tertangkap oleh para pustakawan yang manyun tersenyum-senyum.

Romo Sis menggamit tamunya sambil mengatakan (lebih tepat: memohonkan maaf) bahwa aksen Australia tamunya itu membuat bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti oleh para pustakawan pendengarnya. Maka beliau pun mengambil alih tugas menjawab pertanyaan tamunya. Hal itu tidak sulit bagi beliau karena datang ke perpustakaan sekolah hampir selalu dilakukannya setiap hari. Begitu juga yang dilakukan beliau di laboratoria yang dikunjungi tamunya. Agaknya, Romo Sis kecelik juga karena pustakawan yang sebelumnya sering bergaya dengan kata-kata Inggris terbukti glagepan ketika dihadapkan kepada native speaker. Tetapi Romo Sis tidak ingin anak buahnya malu. Jadi, yang ‘salah’ adalah aksen Australia tamunya, bukan kemampuan berbahasa Inggris anak buahnya!

Yok opo se, orang-orang di perpustakaan kok ndhlongop kabeh?” komentar beliau setelah itu. Ndhlongop, ndhlahom, ndhoweh, njegidhek adalah beberapa istilah Jawa yang sering juga saya gunakan sesudah ‘mendapatkannya’ dari perbendaharaan Romo Sis.

%d blogger menyukai ini: