• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Telepon

Tak banyak bicara

Sebelum saya punya telepon, Romo Sis sering sulit menghubungi saya kalau saya sudah pulang. Tetapi ada saja akal Romo Sis! Beliau menelepon murid atau alumni atau kenalan di Batu dan merekalah yang menyampaikan pesannya kepada saya.

Suatu malam, Romo Sis diantar seorang guru datang menemui saya yang sedang memimpin latihan koor di gereja paroki. Maksudnya, saya diajak saat itu juga untuk membantu mengerjakan sesuatu. Tetapi karena komitmen pada tugas hidup, saya memilih menyelesaikan latihan koor terlebih dulu, baru kemudian menyusul ke Malang.

Tugas dari Romo Sis saya selesaikan dengan baik meskipun saya harus begadang semalaman. Pagi-pagi, beliau menemui saya, menanyakan apakah saya sudah sarapan, bukan “Sudah selesai pekerjaanmu?”

Setelah di rumah saya ada telepon, Romo Sis tinggal mengatakan dengan kalimat-kalimat pendeknya: “Saya butuh ini-itu. Tolong buatkan ini-itu.” Jarang sekali panjang-lebar, apalagi biasanya beliau menelepon seingatnya: malam hari! “Sudah tidur?” (Tentu saja belum!). Karena itulah saya berinisiatif sering tinggal di sekolah hingga sore bahkan malam hari untuk membantu mengerjakan tugas-tugas dadakan sambil melakukan kegiatan studi pribadi melalui berbagai cara yang mudah saya temukan di lingkungan sekolah. Beberapa kali Romo Sis datang sekadar untuk menanyakan apakah saya sudah makan atau memberikan jajan pagi hari yang tak sempat dimakannya. Setelah saya semakin repot, dimulailah sistem piket sore di kantor dengan honorarium bagi petugasnya. Tetapi, karena sejak awal saya adalah relawan, maka cintalah yang menjadi ‘honor’ saya.

Beberapa teman dan kenalan pernah menceritakan hal yang sama: kebiasaan bertelepon Romo Sis. Serba singkat, langsung ke masalah. Kalaupun ada, basa-basinya sangat mudah ditebak: “Hallo, Romo Sis ini!” Tak jarang, Romo Sis sudah menutup telepon pada saat yang menelepon atau diteleponnya belum sempat menyelesaikan perkataannya.

Meskipun demikian, kadang-kadang Romo Sis juga mau menanggapi celoteh anak kecil. Anak saya pernah memarahinya ketika mengangkat telepon Romo Sis: “Ini siapa? Malam-malam kok telepon sih?”

“Waduh, anakmu kok kereng?” komentar Romo Sis ketika telepon sudah saya terima.

Dalam buku “Sukses Alumni Dempo” (1996) saya menulis antara lain: “Saya tidak tahu apakah Romo Siswanto benar-benar rendah hati, tetapi dari pergaulan dengannya selama ini saya belajar betapa perlunya saya sering mengingatkan diri sendiri untuk bersikap demikian karena menyadari bahwa kesombongan adalah penyakit rohani yang utama. Dalam resensi tentang salah satu buku terjemahannya saya ‘menjebak’ Romo Sis dalam sosok pribadi yang ulet namun jarang terlihat banyak bicara. Sebagian besar justru mengenalnya dari sisi kemahalan senyumnya atau serba pragmatis, tegas, singkat dalam segala tindakan dan tutur katanya. Hal itu selain menjadi ciri khas pembawaannya, mungkin juga disebabkan oleh penghayatannya sebagai seorang Karmelit terhadap Regula St.Albertus yang antara lain menegaskan bahwa orang yang banyak bicara melukai jiwanya (Pasal 16).”

Karena itu saya tak berkomentar ketika beliau suatu saat menyatakan keheranannya tentang pekerjaan seorang penyiar radio. “Kok bisa ya dia ngoceh begitu tanpa tahu omongannya didengarkan orang lain atau tidak? Koyo’ wong gendheng!”

Saya yang pernah siaran pun kadang-kadang mengagumi kemampuan ngoceh penyiar radio tertentu, apalagi beliau yang sangat amat pendiam!

“Politik ketatanegaraan kita amburadul begini. Bagaimana kamu mengajar murid-muridmu?” tanya beliau suatu saat.

Jawaban saya tidak membuat beliau tertarik. “Guru zaman sekarang tak perlu banyak bicara, Romo. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Ia hanya perlu bertindak sebagai fasilitator, motivator dan administrator pembelajaran. Apalagi yang amburadul bukan tatanegara kita, melainkan orangnya!”

“Iya. Sekarang ini kadang-kadang yang bodoh bukan muridnya, tapi gurunya!”

Hehehe … Kalau saja Romo Sis mau menjadi pelawak yang serius, saya yakin beliau akan cepat terkenal!

%d blogger menyukai ini: