• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Tragedi Buah Apel

Maksud baik, cara keliru: salah

Setiap kali menerima kiriman makanan untuk Romo Sis ketika beliau tidak sedang di tempat dan dalam waktu lama, saya berinisiatif menyerahkannya kepada saudara-saudara seserikatnya di seminari (dulu). Kalau itu ‘tidak menyelesaikan masalah’, saya tak ragu membagikannya di kantor. Nama dan alamat pengirimnya saya catat dan letakkan di meja ruang direktur. Tak lupa saya gambarkan juga jenis makanannya dan rasanya, supaya ketika Romo Sis ditanya pengirimnya, beliau bisa berkomentar dengan white lie beliau yang manjur: menyenangkan pemerhatinya.

Kebiasaan itu saya pelajari di seminari. Dulu saya jarang memanfaatkan liburan untuk meninggalkan seminari. Menjelang Natal dan Tahun Baru, banyak sekali kiriman parcel untuk Romo Sis. Tak jarang kiriman berupa masakan segar tak termakan karena banyaknya, padahal para seminaris pulang. Mereka yang tinggal biasanya melaksanakan tugas finishing touch terhadap makanan itu dengan izin praesumpta yang mewajibkan mereka melaporkannya kepada Romo Sis.

Suatu saat Romo Sis menyuruh saya membawa apel kiriman seseorang untuk dibagikan. “Daripada ndak termakan, bagikan saja!” Maka saya menyerahkan satu dos besar apel itu kepada seorang pegawai untuk dibagikan. Atas inisiatifnya, setiap buah apel dibungkus dan diberinya nama (barangkali karena ia sedang menganggur!), kemudian setiap orang dipanggilnya untuk menerima sebuah apel terbungkus dan ia menandai kolom pada daftar nama yang dibuatnya untuk setiap nama yang sudah menerima apel itu.

Untuk saya diberikannya apel rome beauty (apel khas Batu yang daging buahnya keras, kulitnya bernuansa merah jingga dan hijau muda) yang katanya salah satu terbesar. Saya tidak mau menerimanya. “Biar buat yang lain saja!” kata saya, mengingat di rumah masih ada beberapa buah apel kiriman seorang kenalan, petani apel yang rajin mengajak saya berjalan-jalan sambil mengobrol di kebunnya.

Pertanyaan saya tentang caranya membagi apel itu dijawab pegawai itu dengan kalimat yang masuk akal: “Supaya merata. Kalau dibagi dua untuk kantor TU dan ruang guru, nanti ada yang mengambil lebih dari satu dan yang lain tak kebagian!” Meskipun di dalam hati saya menertawakan caranya itu, tak urung saya bisa menerima alasannya.

Tetapi segera tersiarlah kabar bahwa Romo Sis membagikan buah apel dengan cara yang unik. Dan kabar itu didengar pula oleh orang luar yang menanyakan kebenarannya kepada saya. Maka saya segera sibuk dengan klarifikasi dan permohonan maaf. Seorang guru yang kebetulan lewat saya panggil namanya dan saya tanya tentang kabar dari luar itu. “Kok sampai Romo A tahu juga ya?”

Pertanyaan saya dijawab dengan pernyataan keberatan mengapa apel pemberian Romo Sis harus dibagi dengan cara seperti itu dan mengapa pula orang luar sampai tahu. “Bukan Sampeyan yang ngasih tahu?” canda saya, karena saya tahu dia cukup akrab dengan Romo A.

Sorenya saya mendapat tamu terhormat. Romo A datang menemui saya dengan teguran keras: “Kamu tadi memanggil Pak B ya? Tadi dia menelepon saya. Dia khawatir Romo Sis mengira dia menyebarkan berita itu.” Ada beberapa kalimatnya yang saya tuliskan dan yang tidak, yang perlu saya klarifikasi. Pertama, saya tadi memanggil nama Pak B hanya karena kebetulan dia lewat dan saya yang datang mendekatinya. Jadi, saya tidak memanggil Pak B (pada posisi saya saat itu, saya memang tak berurusan langsung dengan para guru, sehingga tak ada kepentingan apalagi kewenangan memanggilnya datang ke tempat saya, dan sampai kapan pun tak akan pernah!). Saya pun sesungguhnya bukan orang yang suka didatangi lebih daripada mendatangi orang lain seperlunya. Kedua, menurut saya guru itu justru tak perlu khawatir kalau dia memang tidak pernah menyebarkan berita itu.

Belum lama Romo A pergi, datang pula Romo C yang mengaku juga ditegur oleh Romo A karena menanyakan kepada saya perihal pembagian apel itu setelah diberitahu Romo A. Maka saya segera memahami terjadinya kesalahpahaman. Dan karena itu pula saya bersiap untuk ditanyai siapa pun, termasuk Romo Sis, tentang tragedi apel itu.

“Orang lain tahu lebih dulu daripada saya,” kata Romo Sis ketika beliau akhirnya menanyakan hal itu. “Mestinya kamu langsung memberitahu saya supaya masalahnya ndak melebar ke mana-mana. Lain kali, kalau memberikan tugas itu yang jelas supaya tidak jadi masalah.”

Selanjutnya saya tidak pernah menugasi pegawai itu dalam hal serupa. Maksud baik dalam kreativitas pembagiannya ternyata telah ‘menggegerkan dunia’.Untunglah orang kita cepat lupa ketika ada isu baru. Dan Romo Sis lebih suka melupakan masalah yang dianggapnya kecil. Menurutnya, peristiwa itu justru memberikan pemahaman baru tentang institusi yang dipimpinnya sekian lama.

%d blogger menyukai ini: