• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Utang

Tetap menolong pembohongnya

Saya pernah mengingatkan Romo Sis bahwa pinjaman seorang pegawai sudah terlalu besar untuk bisa dicicilnya sampai pensiun pun. Beliau tidak berkomentar saat melihat angka yang saya tunjukkan. Kethap-kethip … kemudian, “Tapi ini untuk mbayar SPP anak-anaknya!” katanya. Maksudnya, agar saya tidak memasalahkan permintaan pinjaman si pegawai. Saya membantah bahwa peringatan saya bertujuan agar permintaan itu ditolak. “Saya hanya mengingatkan Romo. Kalau Romo mau memberi, ya beri saja! Tapi kalau ditambahkan ke utangnya, Romo harus memaksanya bekerja sampai nggak kuat lagi!”

“Ya sudah, beri saja!” katanya. Maksudnya, agar permintaan itu dikabulkan, tapi tidak dijadikan utang baru si pegawai.

Maka, pegawai itu bisa keluar dari kantor direktur sambil membawa memo untuk diserahkan kepada Bendahara yang berkewajiban memberikan sejumlah uang yang tertulis pada memo itu.

Romo Sis sudah menuliskan memonya. Bendahara sudah memberikan uangnya. Tapi kebetulan, kartu SPP yang dipakai sang pegawai untuk meminta pinjaman itu tertinggal di meja saya. Entah mengapa, saya terdorong untuk menelepon sekolah yang namanya tercantum di kartu itu. Kebetulan pula, saya mengenal Kepala Sekolahnya. Dan saya kaget ketika diberitahu bahwa dua anak yang saya tanyakan itu sudah tidak bersekolah di sana lagi sejak beberapa bulan yang lalu.

Singkatnya, setelah saya telusuri, terbukti bahwa sang pegawai berbohong. Anak-anaknya sudah lama pindah sekolah dengan uang yang dia pinjam sebelumnya. Jadi, pinjaman yang kali ini untuk apa? Togel!

Romo Sis marah ketika saya beritahu dan akan langsung mendamprat sang pegawai. Tapi saya mengingatkan sambil tersenyum, “Romo, Romo tadi memberi lho, bukan meminjami!”

Romo Sis terkekeh. Sesuatu yang sangat jarang. Sejenak kemudian, “Wah, ngisin-isini!”

Lalu saya menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya, istri sang pegawai datang ke rumah saya dan sambil menangis mengatakan bahwa suaminya sudah beberapa bulan tidak memberinya uang.

Romo Sis terdiam sejenak setelah akhir cerita saya, kemudian beliau bertanya: “Terus, kudu tak apakno?”

Saya menyerahkan jawabannya kepada beliau sendiri sambil mesam-mesem. Tidak oleh murid, oleh guru dan pegawai pun Romo Sis gampang dibohongi! Tapi, mungkin Romo Sis juga berpedoman lebih baik dibohongi seribu kali daripada berbuat salah satu kali.

Sebenarnya, yang tahu masalah ini tidak akan banyak kalau pada hari berikutnya istri sang pegawai tidak datang ke sekolah dan meminta bertemu Romo Sis. Ada kegemparan kecil. Dan sesudah istri sang pegawai pulang, saya diberitahu Bendahara bahwa Romo Sis meminta agar utang sang pegawai dibebaskan.

“Bagaimana kalau besok dia utang lagi?” tanya saya.

“Ya embuh!” tukas Bendahara.

Tak seorang pun bebas dari utang. Orang kaya berutang untuk berusaha agar makin kaya. Yang miskin berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya bukan antiutang, tapi merasa ngeri kalau harus hidup dengan cara gali lubang tutup lubang. Sebagai seorang yang berusaha memahami nasihat donya brana lunga, drajat pangkat minggat, saya prihatin melihat orang lain sedemikian berani berutang untuk dapat menikmati hidup layak pada saat gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasariah keluarganya. Derasnya arus informasi dan semangat pamer ternyata telah mengembangsuburkan konsumerisme, juga di rumah keluarga-keluarga sederhana.

Dan ternyata, kebiasaan buruk sang pegawai ‘sembuh’, untuk sementara. Tetapi, meskipun sudah dibohongi beberapa kali, Romo Sis tidak bertindak tegas kepadanya. Mengapa? “Kalau saya pecat dia, nanti dia kerja di mana? Apa ndak tambah parah? Kamu tolong awasi saja, jangan sampai dia main togel lagi!”

“Bagaimana kalau yang lain juga minta utangnya dibebaskan?”

Romo Sis tidak pernah menjawab pertanyaan saya itu dengan kata-kata, tapi dengan tindakan cepat-tepat: menolong.

Kendati para Karmelit dilarang meminta bunga pinjaman, Romo Sis akhirnya memberlakukan peraturan peminjaman uang dengan bunga ringan dan menurun. Nominalnya pun dibatasi dan orang tidak boleh meminjam lagi sebelum utang sebelumnya dilunasi. Maka, setiap kali hendak memberikan utang yang diminta, Romo Sis menyuruh saya membuatkan surat perjanjian untuk ditandatangani pengutang terlebih dulu. Pendirian Kopdit Dempo disambut beliau dengan gembira karena adanya koperasi diharapkan dapat membebaskannya dari pelanggaran larangan membungakan uang.

%d blogger menyukai ini: