• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis dan Wibawa

Disiplin dengan hati

Kembalinya Romo Sis memimpin SMA Dempo mengubah perilaku segenap warga sekolah. Dengan hanya berdiri di lorong sekolah setiap waktu istirahat habis, beliau membuat siswa terbirit-birit bersegera masuk kelas. Para guru pun bergegas supaya tidak dianggap terlambat. Suatu saat saya harus melewati beliau untuk masuk kelas. Romo Sis mencegah dan menarik salah satu ujung belakang safari saya ke luar dari dalam celana.

“Yang rapi kalau masuk kelas. Mengko diguyu muridmu!” katanya sambil tersenyum. Saya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan beliau melaksanakan tugasnya: mengamati agar bisa segera memperbaiki.

Entah mengapa, para murid pun tampak segan sekali kepada Romo Sis. Padahal mereka ‘tidak mengenal’ beliau sebelumnya. Mungkin sama saja dengan pengalaman guru-guru lain, saya pun sesekali mendapat pertanyaan tiba-tiba dari murid di luar materi yang sedang kami diskusikan di kelas. Kendati tampak angker, Romo Sis telah membuat para murid jatuh cinta karena kewibawaan yang melekati kepribadiannya. Pidato perpisahan yang disampaikan ketua OSIS pada misa requiem Romo Sis seolah-olah menggambarkan besarnya harapan para murid akan kebanggaan bahwa ijazah mereka kelak akan ditandatangani oleh pendidik yang luar biasa itu.

Kabar kembalinya Romo Sis juga sudah merebak di antara para alumni yang segera mengucapkan selamat kepada beliau. Cukup pentolan-nya yang beliau beritahu, maka seluruh dunia akan segera tahu. Beberapa e-mail yang saya terima menyatakan kegembiraan pengirimnya, tetapi ada juga yang mengritik kembalinya Romo Sis sebagai kepala sekolah.

Belum banyak yang bisa beliau lakukan pada masa come back-nya yang hanya sekitar tiga bulan. Komputer sudah harus diganti, ini harus begini, itu harus begitu, barulah rencana yang diucapkannya. Namun dari binar matanya terpancar selaksa harapan yang tak mungkin terhalangi oleh apa atau siapa pun, kecuali panggilan Tuhan untuk kembali, pulang ke haribaan-Nya.

Saya berpapasan dengan beliau yang berjalan terengah-engah, belok ke arah kantornya. Wajah yang tampak menderita itu tidak akan saya lupakan.

“Romo, wajah Romo merah sekali,” kata saya mengamatinya. “Pulang saja, Romo, istirahat!”

“Iya. Sebentar lagi,” jawabnya lemah. Dan beliau kemudian segera minta diantarkan pulang.

Hari itu adalah hari terakhir beliau berdiri sebagai Kepala Sekolah di SMA Katolik St.Albertus. Pada tanggal 13 April 2002, beliau kembali ke Alma Mater di dalam sebuah peti. Semua pelayat bersedih karena ditinggal wafat seorang imam, biarawan, bapak, sahabat, dan pendidik sejati.

Romo Sis telah berpulang.

Kurang dari dua minggu sebelum hari terakhirnya di sekolah, karena sopir sekolah tidak ada di tempat, Romo Sis meminta seorang pegawai Tata Usaha mengantarkan beliau berkunjung ke beberapa sahabat di beberapa tempat. Semuanya serba singkat. Beliau juga minta mampir ke BRI (Bank Rakyat Indonesia). Seolah-olah sudah merasa waktunya tinggal sedikit, Romo Sis hendak mengurus uang pensiunnya sebagai PNS. Pegawai yang mengantarkannya kaget saat diminta menyerahkan KTP untuk membuka sebuah rekening baru bersama Romo Sis guna mengalihkan uang pensiunnya. “Sudah. Daripada bolak-balik dan tak sempat mengajak orang lain, kamu saja yang ikut tanda tangan. Buat jaga-jaga kalau saya nanti mati, kamu bisa membantu mengurus pencairan uang pensiun saya!” kata Romo Sis sebagaimana diceritakan pegawai itu kepada saya.

Setelah Romo Sis wafat, pengurusan uang pensiun Romo Sis di BRI itu ternyata tak semudah yang dikira Romo Sis pada waktu dengan cepat memutuskan membuka rekening bersama pegawai yang mengantarkannya. Untuk membantu mengatasi kegelisahan pegawai itu, saya menganjurkan dan mengajaknya menemui Provinsial Ordo Karmel agar Ordo Karmel mengurus pencairan uang pensiun Romo Sis yang tersimpan di BRI. Provinsial mengucapkan terima kasih dan berjanji akan segera mengurusnya setelah buku tabungan Romo Sis di BRI ditemukan.

Tetapi, ketika bersama seorang pengurus Yayasan Sancta Maria pegawai itu datang ke BRI, mereka tidak mendapatkan kemudahan pengurusannya. Beberapa dokumen yang diminta BRI tidak mereka bawa. Mungkin karena sangat sibuk atau alasan lain, pengurus Yayasan Sancta Maria itu tak berminat menindaklanjutinya. Usul pegawai itu agar rekening Romo Sis (dan dirinya) di BRI tidak usah ditutup karena tak mau repot tentang prosedur penutupannya, melainkan diambil saja sampai habis ternyata tak digubris sampai sekarang.

Sayang sekali! Seandainya Ordo Karmel tidak berminat mengurus pencairannya karena nominalnya dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan keruwetan prosedur yang wajar di negeri ini dalam prosesnya, menurut saya tidaklah adil mengabaikan niat baik dan tulus pegawai itu untuk menghapus kegelisahannya selama menjadi ‘ahliwaris tidak sah’ dari Romo Sis yang sangat mungkin pada waktu itu sudah mulai kehilangan kewaspadaannya akan kesulitan masa depan.

Hidup yang diisi Romo Sis dengan kerja keras dan tak pernah mau menganggur itu pastilah sudah melatih beliau untuk selalu waspada. Namun, langkah kaki dalam masa come-back-nya yang tampak sekali tak seringan lima tahun sebelumnya, senyumnya yang makin lebar dan sering, kebijaksanaan (seorang guru menggambarkannya seolah-olah ‘begawan’) dan kelemahlembutannya pada waktu itu telah menyembunyikan derita karena sakitnya bersamaan dengan kebahagiaan yang akan diraihnya: wafat sebagai Kepala Sekolah, dikunjungi ribuan kenalan, sahabat, alumni, murid dan disemayamkan di Alma Mater yang dibanggakannya, diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya dalam iringan yang sangat panjang dan dijemput para malaikat yang membimbingnya bernyanyi: “Aku akan berjalan di hadapan wajah Tuhan, di dunia orang hidup!”

%d blogger menyukai ini: