• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis, Eksekutor yang Konsekuen

“Jam satu tinggal!”

Penyuntingan naskah yang diserahkan Romo Sis untuk dimuat dalam buku “Sukses Alumni Dempo” (1996) yang digagasnya sebagai pemenuhan ‘tuntutan’ beberapa alumni agar beliau menulis buku sendiri dan tidak hanya menerjemahkan naskah rohani berbahasa asing, bagi saya merupakan tugas yang menyenangkan. Tambahan, pembagian dan perbaikan bahasa – supaya tidak lurus-lurus seperti kebiasaan lisannya – dibacanya dengan serius sambil sesekali tersenyum.

“Ada yang salah?” tanya saya.

“Tidak.”

“Menurut saya Romo memang harus menulis buku sendiri,” bujuk saya, mengikuti anjuran beberapa alumni.

“Apakah tulisan saya bagus?”

“Bagus! Romo menulis pengalaman, bukan teori. Tidak banyak orang yang menuliskan pengalaman suksesnya dari hal-hal kecil dan serba sederhana sehingga mudah dimengerti. Buku ilmiah tentang manajemen sekolah sudah banyak, tapi pembacanya tak juga bisa sesukses Romo!”

“Ya. Nanti kalau ada waktu saya akan tulis. Kamu bantu ya!”

Tulisan itu tak pernah terwujud. Tetapi tulisannya dalam buku “Sukses Alumni Dempo” itu lumayan daripada sama sekali tidak ada. Selain menceritakan perjalanan hidup dan karirnya, dari situ sekurang-kurangnya kita dapat memaklumi pikiran Romo Sis sendiri tentang berbagai kebiasaan, langkah, dan tindakan yang dilakukannya sebagai pendidik. Betapa pun sederhana cara pengungkapannya, keistimewaan beliau sangat nyata justru tatkala orang lain menganggap remeh ketekunannya dalam hal-hal yang sederhana yang menjadikan beliau seorang pendidik yang sangat dihormati dan dicintai murid-muridnya.

Sejatinya pemimpin yang baik terlahir dari kepribadian yang bermutu, bukan suatu gambaran yang sengaja dipatut-patutkan pada diri seseorang. Romo Sis dihormati dan dicintai ribuan murid dan kenalan, justru karena beliau menghormati dan mencintai mereka terlebih dulu tanpa pandang bulu. Teori dan fantasi yang mumbul sundul langit tidak akan pernah membumi dan tetap di awang-awang kalau kaki dibiarkan melayang tanpa pijakan. Orang yang berlaku demikian tidak akan pernah dapat diharapkan mau belajar dari kenyataan bahwa pemimpin adalah primus inter pares karena pengakuan sesamanya, bukan karena status atau jabatan yang disandangnya maupun yang sekadar dikatakannya tanpa tindakan nyata untuk mewujudkan harapan tentang diri sendiri dan sesamanya.

“Jam satu tinggal!” adalah peringatan beliau kepada murid yang harus menerima hukuman. Perintah itu baru berubah ketika sekolah bubar bukan pk.13.00, melainkan 13.30. Istilah lainnya adalah ‘makan siang’, ‘minum kopi pahit’ bersamanya. Beliau selalu berusaha menunggu sampai semua siswa yang terhukum menyelesaikan tugasnya. Selalu ada pekerjaan yang harus dilakukannya sambil menunggu.

Bagi sebagian orang, hukuman yang dijatuhkannya tergolong ‘kuno’. Saya pernah mengusulkan agar para terhukum disuruh menerjemahkan satu paragraf buku yang akan dialihbahasakannya. Hasilnya: hancur lebur berantakan. Tak pernah ada satu kalimat pun diterjemahkan benar. Kemudian saya mengerti mengapa Romo Sis bertahan dengan hukuman cara baheula itu. Hukuman fisik tidak disetujuinya. Membuat malu terhukum juga dihindarinya. Menulis tata tertib siswa yang tercantum dalam buku Tatibsi sekian kali sudah cukup. Tak mungkin murid yang terhukum berkonsentrasi mengerjakan hukumannya, kecuali menyalin yang sudah ada, kadang-kadang dengan tulisan yang sulit dibaca pada halaman kedua dan seterusnya. Apalagi kalau perutnya sudah keroncongan minta diisi, orangtua, penjemput, atau teman seperjalanannya sudah lelah menunggu.

Saya pernah menyaksikan seorang murid pelanggan hukuman sudah menyiapkan beberapa salinan tata tertib siswa. Tetapi perintah yang diterimanya ternyata bukan menyalin tata tertib itu, melainkan materi pelajaran yang tak diikutinya karena terlambat datang. Persediaannya itu dimasukkannya kembali ke dalam tas. “Untuk besok ya?” tanya saya disambut senyuman. Saya senang melihat murid yang terhukum tak menyimpan dendam kepada penghukumnya.

Mereka yang sudah terbiasa dihukum sudah tahu bahwa kalau Romo Sis sudah menutup pintu kantornya dan kembali ke tempat tinggalnya, kertas hukuman harus dimasukkan melalui celah di bawah pintu. Tetapi “pelanggan baru” biasanya bertanya terlebih dulu ke Kantor Tata Usaha sebelum akhirnya melakukan yang sama.

%d blogger menyukai ini: