• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis yang Entengan

“Biarkan saja!”

Banyak murid Dempo yang berencana melanjutkan studi ke luar negeri. Biasanya mereka meminta surat keterangan atau referensi berbahasa Inggris kepada Romo Sis. “Kamu bisa?” tanya Romo Sis kepada saya. “Saya akan coba,” sahut saya ketika pertama kali akan melakukannya.

Surat keterangan dalam bahasa Inggris yang saya buat pertama kali itu lolos, ditandatangani Romo Sis dengan pujian.

Sewaktu masih menjadi murid, saya pernah diminta Romo Sis membuat proposal permohonan bantuan dana, dalam bahasa Inggris. Mestinya beliau sendiri yang melakukannya atau meminta guru bahasa Inggris, beres.

Tapi, seperti biasa, beliau ingin serba cepat-tepat. Menyuruh murid lebih gampang daripada meminta bantuan guru. Tak berisiko, tak ijir dan pasti cepat dilaksanakan. Maka saya mengerahkan teman-teman untuk mengumpulkan data sementara saya ‘setengah mati’ menyusun kalimat-kalimat Inggris. Meskipun saya pernah menjuarai Dempo Speech Contest, sesungguhnya keterampilan berbahasa Inggris saya tak seujung kuku adik kelas saya, juara kedua kontes yang sama, yang kemudian menjadi guru di Dempo dan dosen bahasa Inggris di sebuah universitas di Surabaya setelah meraih gelar MA in TESOL dari sebuah universitas di Australia. Kepada adik kelas saya itu saya mengatakan: “Untung itu kontes pidato, kalau kontes konversasi atau menulis, wah, saya nggak bakal menang darimu!” ketika membantunya menyiapkan bahan pembelajaran bagi murid-muridnya, adik-adik kelas kami. Seandainya dedikasi dan kreativitas guru-guru Dempo seperti dia, wah … minimal, nama manis nan keren Dempo akan lebih mulus diucapkan para guru, bukan nDempo Haik Sekul.

Setelah selesai, saya menyerahkan satu fotokopinya kepada seorang guru bahasa Inggris untuk dikoreksi pada bagian-bagian ‘karangan’ saya, bukan datanya (karena tentang hal ini bermodal kamus dan diskusi dengan teman-teman sudah cukup). Koreksi Romo Sis dan guru bahasa Inggris itu hanya satu dan sama, yakni pada bentuk kata sifat yang memang saya ragukan saat memilihnya.

Proposal itu disetujui dan Romo Sis mendapatkan sejumlah dana. Untuk murid(-murid) yang membantunya cukup ucapan terima kasih dan tak perlu ada rasan-rasan sesudahnya.

Ketika menerima rapor seorang siswa yang sudah diterjemahkan untuk dimintakan tanda tangan Kepala Sekolah – sambil memeriksanya, dan secara kebetulan menemukan kesalahan pada terjemahan itu – saya bertanya kepada siswa itu berapa ongkos penerjemahannya. Jawaban siswa itu membuat saya berpikir: buat apa membayar orang lain untuk menerjemahkannya kalau sekolah bisa membantu melakukannya? Maka, saya mengusulkan kepada Romo Sis supaya penerjemahan dokumen siswa itu dilakukan di sekolah saja. “Kamu sanggup?” tanya Romo Sis.

“Sanggup,” sahut saya. “Kasihan ‘kan, mereka harus membayar untuk terjemahan yang semestinya adalah tugas sekolah!”

“Awas, ojo ngisin-isini!”

Maka Romo Sis pun mengumumkan hal itu kepada para siswa. Tapi ketika permintaan makin beragam, saya mulai kewalahan. Bukan hanya rapor, STTB, dan surat keterangan. Banyak siswa juga meminta akta kelahiran, surat rekomendasi guru/ kepala sekolah. Malah pernah ada yang meminta terjemahan Jerman dan Belanda. Maka saya membeli beberapa buku teknik penerjemahan dan buku hukum agar lebih memahami hakikat dan bahasa hukum yang pas dengan kebutuhan saya membantu para siswa. Buku-buku dan catatan semasa kuliah saja terasa tak cukup.

Tak lama kemudian mulai ada yang memberi saya uang dan saya tolak. Ada yang tak kembali lagi, tapi ada pula yang mengganti pemberian uang dengan kue. Nah, yang ini sulit ditolak karena kotak kue mudah dilihat oleh banyak teman saya. “Horeee … bancakan!”

“Saya bisa dimarahi Mama kalau uang ini tidak Bapak terima!” kata seorang siswi yang amplopnya saya tolak.

“Katakan kepada Mama,” sahut saya berlagak tidak butuh duit, “saya hanya mau menerima kalau engkau memberikan hasil keringatmu sendiri, kelak sesudah kau lulus dan bekerja!”

Saya tidak peduli bahwa setelah itu dia mungkin tidak pernah ingat perkataaan saya. Bertemu kembali dengan para adik kelas yang sudah lulus dari perguruan tinggi di luar negeri tetap menyenangkan kendati mereka tak ada yang menunjukkan gejala masih mengingat penolakan saya.

Setelah bertemu Romo Sis, seorang perwira TNI yang akan melanjutkan studi menyelipkan amplop di bawah tumpukan map di meja saya ketika saya tinggalkan untuk meminta tanda tangan Romo Sis pada beberapa dokumennya yang saya terjemahkan. Dia langsung berdiri ketika saya kembali ke ruang kerja saya, menyalami dan mengucapkan terima kasih sambil menerima mapnya yang saya sodorkan. Kemudian dia berpamitan untuk kembali ke kantor Romo Sis.

Pada saat itulah saya menemukan amplopnya. Saya tidak membukanya dan menunggu sampai dia keluar dari ruang direktur. Tetapi karena lama sekali dan saya harus pergi untuk suatu urusan, saya titipkan amplop itu kepada sopirnya yang menunggu di luar.

Pada waktu kembali, saya dipanggil Romo Sis ke kantornya. Amplop si perwira ada di mejanya.

“Lho? Romo terima? Wah, bukan saya, tapi Romo yang ngisin-isini!”

“Dikasih ndak mau. Ya sudah, buat saya saja!” katanya sambil tersenyum.

Banyaknya peristiwa serupa membuat saya seolah-olah sebagai orang yang tidak menghargai kehendak baik orang lain. Maka, akhirnya saya mengusulkan kepada Romo Sis agar setiap terjemahan dibayar. Romo Sis mencibir, mengejek saya. “Saya kira kamu bisa bertahan?”

“Lho, bukan buat saya, Romo! Suruh orangnya membayar langsung ke Bendahara. Jadi, baik saya atau Romo tidak menerima langsung uangnya. Terserah mau dimasukkan ke pos mana. Ke Dansos juga boleh!”

“Berapa?”

“Ya terserah Romo. Suruh saja yang orangtuanya kaya membayar lebih banyak, sedangkan yang tidak bisa Romo bebaskan.”

“Baiklah. Terima kasih.”

Terima kasih. Wah … saya senang sekali!

Sejak saat itu, setiap kali ada yang minta terjemahan dokumen kesiswaannya saya minta untuk meminta sendiri tanda tangan Romo Sis. Dengan begitu, Romo Sis punya kesempatan untuk menanyakan banyak hal kepada yang bersangkutan, dan akhirnya menandatangani dokumennya serta melampirkan memo “Bayar Rp sekian kepada (Bendahara Sekolah).”

Apakah ada yang tidak melaksanakan perintah dalam memo Romo Sis itu? Ada. Tetapi itu bukan urusan saya. Meskipun pernah saya beritahu, Romo Sis tak pernah memeriksa atau memberitahu terlebih dulu kepada Bendahara. “Biarkan saja,” kata Romo Sis enteng.

Saya ingin hidup saya seenteng beliau!

%d blogger menyukai ini: