• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Romo Sis yang Murah Hati

Cepat membantu, tanpa banyak komentar

Saya berani malu memohonkan untuk orang lain. Dulu, saya sering ‘memohonkan’ kepentingan orang lain kepada Romo Sis, dan beliau senang diberitahu untuk bisa cepat membantu. Tak banyak komentarnya. Tak semua ‘permohonan’ terkabul, tapi pasti bukan karena soal like or dislike, melainkan saat itu beliau bisa atau tidak. Kalau bisa segera diwujudkan, kalau tidak, ya ditunda dulu atau dicarikan solusi lain.

Romo Anton Kristyanto Gunawan, O.Carm. ketika masih tinggal di Jalan Talang 3 Malang dulu juga beberapa kali membantu orang lain yang saya ceritakan kemalangannya (jadi, sebenarnya cara saya sederhana saja: hanya bercerita, tidak minta!). Saya sungguh bahagia kenal dan berteman dengan orang-orang sebaik mereka!

Setelah mengunjungi seorang teman yang baru saja kemalingan, saya menceritakan kepada Romo Sis: selemari pakaian teman itu diangkut maling. Bahkan pakaian yang belum disetrika pun diangkut pula, sehingga pakaiannya hanya tinggal yang pada saat kejadian sedang direndam. Beberapa hari kemudian diam-diam saya senang sekali tatkala teman itu bercerita bahwa seumur hidup dia belum pernah punya pakaian sebagus yang dikenakannya saat itu. Batik prada emas itu membuatnya seperti samber-lilen dan mencolok di antara para guru. Dia mengaku diberi Romo Sis beberapa baju baru dan sejumlah uang untuk membuat pakaian safari. (Romo Sis sering mendapat hadiah, kemejanya bagus-bagus dan mahal).

Tapi, beliau juga sering saya ejek seperti tidak punya pakaian lain. Yang beliau kenakan sehari-hari itu-itu saja, bahkan yang bagian lehernya sudah menguning atau retak-retak. Dan Romo cuma mesem. Arloji Romo Sis juga bagus-bagus, dan yang dipakainya hanya satu, bukan yang terbagus, malah yang lama itu saja (yang harus sering dicocokkannya setiap ‘Dunia Dalam Berita’, menjelang memberikan puncta – butir renungan menjelang tidur – bagi para seminaris). “Romo, si A tidak punya arloji, padahal tugasnya ‘kan menuntut ketepatan!” Dan keesokan harinya A sudah mengenakan arloji baru. Kapan Romo Sis memberikannya? Saya tidak tahu dan tidak ingin tahu. Seorang frater yang saya ‘rekomendasikan’ sangat membanggakan arloji bermerk terkenal di seluruh dunia, berlapis emas dan bertahtakan berlian pula, yang diberikan Romo Sis kepadanya. Frater itu terbelalak ketika saya menaksir harganya (bukan karena saya ahli barang mahal, melainkan karena label harganya – entah pemberinya lupa atau memang sengaja – masih lekat di arloji itu!).

Bercerita, bukan ngrasani. Untuk memelihara kepercayaan (yang mahal), saya menghindari meminta untuk diri sendiri. Kalau bisa sendiri, tak perlu melibatkan orang lain. Dan Romo Sis adalah orangtua yang santun. Sebelum memberi, beliau selalu bertanya terlebih dulu: “Saya punya ini. Kamu mau?” Kalau ditolak, beliau tak pernah menunjukkan rasa kecewa dan kalau diterima, pemberiannya tak pernah jadi perkara. Justru karena saya lebih banyak menolak daripada menerima pemberiannya (sebetulnya bukan karena tak mau, melainkan karena merasa tak pantas), diam-diam saya merasa Romo Sis sangat menghargai saya.

“Kamu sering pulang malam, kehujanan. Sebaiknya pakai celana dan jaket kulit. Saya punya celana kulit sintetis, tapi bekas. Kamu mau?” tanya Romo Sis suatu ketika. Saya menerima pemberiannya itu dan langsung mencobanya di kamar mandi.

“Cukup?” tanya Romo Sis setelah melihat saya memasukkan celana pemberiannya itu ke dalam tas kresek. “Kurang panjang ya?”

“Tidak apa-apa, Romo. Terima kasih,” sahut saya sambil berharap tidak disuruhnya membuka kembali bungkusan saya. Celana itu ‘pecah’ ketika saya coba tadi. Mungkin karena terlalu lama disimpan, jahitannya sudah methel dan bahannya tak lentur lagi.

Di saat lain saya pernah mengritik beliau karena memberikan kue kalengan yang sudah kedaluwarsa untuk menemani saya bekerja lembur. “Jangan menyimpan makanan dan lupa, Romo!”

“Kenapa? Rusak? Buang saja!” dan beliau kemudian sibuk mencarikan gantinya setelah melihat keadaan kue itu dan cap kedaluwarsa di kemasannya. “Eman ya. Padahal ini barang impor!”

“Bukan sudah kedaluwarsa ketika Romo menerimanya?”

“Bukan. Saya yang menyimpannya terlalu lama.”

%d blogger menyukai ini: