• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

SMA Katolik St.Albertus: SBI?

Pengantar

Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud mengecilkan arti hibah Rp 300.000.000,oo bagi Alma Mater untuk bermetamorfosa menjadi salah satu dari tiga yang diproyeksikan sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Kota Malang. Tidak juga dimaksudkan untuk melemahkan semangat teman-teman IKESA Dempo yang berperan serta aktif mendukungnya. Peringatan ini saya anggap perlu karena saya memaklumi terlalu kuatnya kecenderungan kita untuk mencurigai orang lain yang berpendapat beda. Kendati demikian, apabila tulisan ini pun dianggap kontraproduktif terhadap euforia soal peningkatan status Alma Mater menjadi SBI, saya tak berkeberatan untuk menerima kenyataan yang mungkin masih tetap sama.

Saya mengakui, ada perkembangan baik dalam penyelenggaraan sekolah selama beberapa tahun terakhir. Penampilan fisik sekolah tampak lebih bersih, lebih indah, lebih lengkap. Administrasi sekolah juga lebih teratur. Saya maklum, perkembangan ini tak lepas dari perolehan sertifikat ISO 9001:2000 sejak beberapa tahun lalu, yang bahkan dijadikan pedoman dalam kalimatisasi visi dan misi sekolah yang diperbarui oleh dan seiring kepemimpinan baru. Aneh, tapi nyata. Lebih dari itu, ternyata ada hasilnya. ‘Jurus mabuk’ kadang-kadang efektif untuk memorakporandakan kemapanan yang negatif terhadap perubahan. Sekurang-kurangnya, setiap semester, ada supervisi reakreditasi untuk mengingatkan Alma Mater akan komitmennya. Itu suatu hal yang positif dibandingkan dengan hanya menilai diri sendiri selalu bagus dan lupa bahwa sekolah-sekolah lain juga tak berhenti berkembang menjadi lebih bagus daripada sebelumnya tanpa harus memasang atribut ini atau itu yang disponsori pihak lain.

Sebagai RSBI, kini segenap warga sekolah rajin belajar dan berpraktik menggunakan Bahasa Inggris. Alma Mater bahkan berkeinginan lebih maju ketimbang sekolah-sekolah di Malaysia yang hanya mewajibkan guru-guru matematika dan science untuk mengampu bidang studi mereka dalam Bahasa Inggris dan tetap mengutamakan penggunaan bahasa nasional mereka dalam pergaulan antarwarga sekolah dan dalam bidang studi lainnya. Karyawan Alma Mater pun kini wajib berbahasa Inggris. Bagi saya ini luar biasa.

SBI: untuk siapa?

Beberapa waktu lalu saya mengritik keberangkatan sejumlah siswa yang dihadiahi orangtua mereka untuk nglencer ke luar negeri. Seorang guru dipilih untuk mendampingi jika jumlah pendaftar tur yang diselenggarakan sebuah lembaga pengarah studi ke luar negeri itu mencapai 10 orang. Bukan keberuntungan mereka yang saya kritik, melainkan bahwa tur itu sempat disebut sebagai bagian dari internasionalisasi sekolah.

Pengakuan Romo J.B. Mangunwijaya, Pr. dalam “Sukses Alumni Dempo” (1996) tentang kemudahan yang dialaminya ketika mendaftar ke Jerman sebagai alumnus SMA Katolik St.Albertus sangat membanggakan. Pada waktu itu pun, Alma Mater sudah dikenal sebagai sekolah berkualitas. Jika sekarang Alma Mater baru akan menjadi SBI, maka usaha itu – sekadar untuk tidak dianggap tak setuju – seolah-olah hanya untuk meresmikan pengakuan jati dirinya yang unggul di mata masyarakat. Saya menduga, keterlibatan anggota definitif Ordo Karmel dalam pendidikan dan pembelajaran di Alma Mater menjadikannya sudah unggul sejak awalnya. Maka, saya pernah mengusulkan agar Ordo Karmel menyediakan semakin banyak tenaga untuk berkiprah di sekolah milik mereka, bukan hanya untuk mengisi formasi guru agama. Usul itu dipenuhi. Ada imam/ biarawan/ biarawati yang menjadi petugas TU, guru, atau konsultan. Direktur/ Kepala Sekolah tidak sendirian lagi. Begitulah kolese-kolese Katolik terkenal di luar negeri mempertanggungjawabkan keberadaannya. Masyarakat melihatnya sebagai tanda keseriusan pemilik/ penyelenggara sekolah. Yang berada ‘di dalam’ pun merasakan sekolah menjadi lebih dinamis, terlebih bila kehadiran para imam/ biarawan/ biarawati itu sungguh-sungguh menyemangati dan bukan jadi beban tambahan. Selanjutnya, beberapa biarawan bukan imam disekolahkan. Dua di antara mereka kini menjadi Kepala Sekolah yang baik, justru karena menjadi tenaga penuhwaktu di tempat tugas masing-masing. Saya pribadi sungguh menyayangkan bila karya pendidikan/ pendampingan anak bangsa dianggap lebih remeh ketimbang karya pastoral paroki. Menjadi Direktur/ Kepala Sekolah – yang tulus dan serius – tak bisa disambi!

Kembali ke block grant, eh, SBI yang kini disandang Alma Mater. Kalau status itu anugerah, wajiblah diterima dan dipertanggungjawabkan. Internalisasinya memerlukan kerja keras yang dijiwai ruh kependidikan Ordo Karmel (entah apakah Pedoman Karya Persekolahan Katolik Ordo Karmel maupun Keuskupan Malang masih diingat atau sudah menjadi dokumen usang dan terabaikan). Kalau status itu bertumbuh kembang dari dalam, alangkah naifnya jika tanpa perubahan yang signifikan. Apalagi jika atribut justru mengaburkan nilai-nilai kependidikan yang hakiki. Kalau di Malang ada SBI, saya berpikir positif bahwa penduduk Malang kini sudah multinasional. Jika belum demikian, mereka tentu sudah berpikir global/ mondial, mengemban status sebagai warga dunia lebih awal seiring status tak terelakkan sebagai warga negara Republik Indonesia yang sekaligus warga kota Malang. Tapi, bagaimana bila SBI itu menjadi serupa atribut yang melancarkan bisnis kolese-kolese luar negeri yang semakin sibuk mencari calon siswa dan mahasiswa sampai ke Nusantara? Sebenarnya, SBI ini untuk siapa?

SBI Anugerah vs SBI Asali

Berpikir a contrario, saya membedakan status SBI sebagai anugerah (dari Pemerintah maupun Lembaga yang berkepentingan) dengan SBI yang sengaja disandang sejak lahir, dengan segala konsekuensinya. SBI Anugerah tampak jelas melalui aneka kegamangan menyikapi perkembangan zaman. Para siswa sering dipulangkan lebih awal atau bahkan diliburkan karena guru-guru mereka harus mengikuti penataran, pelatihan, pendidikan lanjutan atau dengan label lain yang sekadar mengulang-ulang yang sudah pernah diberikan. Pihak sekolah semakin rajin membuat proposal atau menerimanya dari aneka lembaga pelatihan yang berkompeten dan berkepentingan. Ada usul, ada dana, jalan. Waktu selalu bisa disediakan, karena – ternyata – para siswa pun senang dipulangkan awal apalagi diliburkan. Bukankah sejak lama sekolah tak lagi menyejahterakan warganya?

‘Skenario terbuka’ dalam pandangan saya sesungguhnya sangat layak diterapkan dalam pembelajaran. Konsumennya adalah manusia muda yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan sesuai hakikat dan kedirian masing-masing sebagaimana dikatakan oleh Ernst von Glassersfeld (1995), seorang tokoh konstruktivisme: “Only the student who has built up such a conceptual repertoire has a chance of success when faced with novel problem. Concepts cannot simply be transferred from teachers to students – they have to be conceived.” Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengakomodasi kebutuhan itu. Namun, ia berpotensi menjadi racun tatkala justru diterapkan pada manajemen dan administrasi sekolah sekadar karena kehausan atau kelaparan pimpinan sekolah akan efek pencitraan baik. Maka saya tak heran jika sebagian guru terang-terangan menerima kewajiban mengikuti aneka pelatihan yang itu-itu juga sebagai kesempatan makan enak gratis. Sesudahnya, mereka akan kembali ke rutinitas semula, sekejap tampak sibuk karena memilih yang satu berarti meninggalkan yang lain. Berubah? Apanya? Gaji tetap tak cukup. Memberikan les di luar jam sekolah masih merupakan pilihan yang terlalu sayang dilewatkan. Besaran SPP setiap siswa yang terus membubung tak juga menjadi harapan meningkatnya penghasilan. Maka direkayasalah aneka bimbingan belajar di sekolah di bawah kepanitiaan yang dibentuk khusus untuk menyelenggarakannya. Tujuannya jelas: peningkatan hasil belajar siswa melalui proses drilling soal-soal yang diprediksi akan keluar dalam ujian nasional, berikut peningkatan yang lain.

Meski yang bersangkutan kadang dicemooh oleh mereka yang menganggap diri lebih ‘profesional’, saya mengagumi mantan guru dan senior yang saya gantikan di Alma Mater. Ia pernah menyatakan bahwa buku tulisnya yang tebal dan kumuh telah ‘melahirkan’ banyak dokter bahkan jenderal. Kebanggaannya lebih terasa ketimbang kegetiran ‘nasib’ guru. Inti kekaguman saya padanya bukan tentang bukunya yang kumuh, melainkan ruh kependidikan yang bertumbuh, berkembang subur dalam sanubarinya, semangat belajarnya yang tidak luntur dimakan usia agar ia tetap mampu menjadi pembelajar yang dapat diandalkan untuk menghasilkan buah-buah yang dinikmati para pebelajar yang diasuhnya. Semangat yang demikian itu tak perlu didesakkan dari luar karena merupakan potensi yang dipeliharanya sendiri. Guru yang demikian biasanya direkrut oleh SBI Asali melalui proses seleksi yang sangat panjang untuk menjamin kualitas pendidikan yang didambakan masyarakat. Ana rega ana rupa. Masyarakat berani membayar cukup bila kebutuhan pendidikan anak-anak mereka dilayani dengan sangat baik. SBI Asali juga berani membayar cukup para guru dan karyawannya karena mendapatkan keuntungan besar dari ‘bisnis pendidikan’ yang diselenggarakannya.

SBI yang lain: Sekolah Berbasis Integritas

Bosan menjadi seperti robot, orang-orang dari negara maju tertarik back to nature. Sementara itu, orang-orang dari negara berkembang justru baru mulai merobotkan diri. Saya masih berharap bahwa tumbuh pesatnya sekolah-sekolah berbasis high-cost education masih dapat diimbangi oleh yayasan-yayasan sosial pendidikan yang menyelenggarakan sekolah berasrama, maupun individu-individu idealis yang mendirikan sekolah alternatif berbiaya murah dan bahkan gratis. Mereka justru mengelola sekolah-sekolah itu dengan sangat baik dan bertanggung jawab. Ketimbang mendengarkan mereka yang rewel tentang ujian nasional dan sekadar beralasan ini-itu tentang ketakterbilangan dalam berbagai lomba tingkat kota, regional, nasional maupun internasional, saya mengacungkan dua jempol untuk sekolah yang mampu membangun dirinya sendiri sebagai Sekolah Berbasis Integritas, SBI yang lain. SMA Negeri 1 Bangil, Pasuruan agaknya bisa menjadi salah satu cermin bagi SBI-SBI versi umumnya.

Saya kecewa, tapi kemudian bisa memaklumi mengapa sebagian alumni yang tetap tinggal di Malang tidak memasukkan anak mereka ke Alma Mater. Saya juga memaklumi mengapa sekolah harus membentuk beberapa tim untuk berpromosi ke luar kota, bahkan luar pulau. Sekurang-kurangnya, langkah itu bisa mengimbangi promosi gencar sekolah-sekolah asing ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Tapi, apakah itu efisien dan lebih dari itu, efektif? Dari kunjungan sesekali demi mengobati kangen kepada mantan kolega saya dan pengalaman menjadi juri Festival Paduan Suara tahunan di Dempo – yang bising – beberapa waktu lalu, saya merasakan ada yang kabur bahkan mungkin sudah mulai hilang: ketertiban, punctuatio, dan yang lebih memrihatinkan saya: ruh kependidikan. Terus terang, saya jadi deg-degan untuk bertanya kepada anak kedua saya apakah ia mau melanjutkan pendidikannya ke Alma Mater ayahnya, pamannya, kakaknya. Sungguh, seperti sering saya katakan kepada adik-adik kelas jauh saya, hanya pengalaman indahlah yang menarik kita kembali ke Alma Mater dengan seluruh potensi yang kita miliki sekarang. Semoga saya tak pernah lagi mendengar suara ketus: “For me, Dempo is a nightmare!”

Selamat berjuang dan sukses!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: