• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Anak Bangsa, Cerdaskah?

Posting A.M. Budiman berjudul “Anak Bangsa, Cerdaskah?” ke Superkoran Apakabar, 26 Mei 2008 terlalu sayang dilewatkan. Silakan membaca sendiri tulisan beliau di situs itu. Saya sedikit mengolah tanggapan saya kepada beliau di lingkup terbatas (yang menerima postingya di mail-box masing-masing) untuk Anda.

Salah satu ilustrasi dalam tulisan A.M. Budiman itu mengapresiasi upaya Prof. Yohanes Surya yang setia mendampingi anak-anak bangsa meraih prestasi puncak dalam olimpiade fisika sedunia (TOFI). Jelasnya, kita memang tak perlu cemas. Namun, agaknya kita juga patut bertanya: seberapa banyak anak-anak bangsa didampingi dan dilayani oleh pendidik seperti Prof. Yohanes Surya?

Dalam suatu simposium yang diselenggarakan IKIP Malang (seperti LPTK lain, kini sudah bermetamorfosa menjadi Universitas Negeri Malang) pada tahun 1981, sebagai seorang siswa pembicara saya menyebut sebagian besar orangtua dan guru telah berlaku sebagai tengkulak: menginginkan hasil terbanyak dan terbaik tanpa ikut bersusah payah. Orangtua merasa tugasnya sudah beres jika menyerahkan tanggung jawab mendidik anaknya kepada sekolah yang mereka anggap terbaik, meskipun mahal. Guru merasa tugasnya sudah tuntas jika paket pembelajaran telah disampaikan. Koyak bungkusnya, tak lengkap atau kedaluwarsa isinya, bukanlah tanggung jawabnya. Seperti disebut pula oleh Pak Budiman dalam tulisannya, perilaku pemegang otoritas pendidikan nasional lebih konyol lagi. Sudah menjadi rahasia umum: problematika pendidikan kita adalah ironi terbesar dalam sejarah bangsa.

Maka, fenomena high cost education yang marak saat ini tidaklah mengherankan. Tumbuh kembangnya aneka sekolah berlabel unggulan, bertaraf nasional bahkan internasional adalah keniscayaan zaman akibat amburadulnya pemeliharaan hakikat nilai-nilai kependidikan. Sementara itu, boleh jadi sebagian besar murid yang dianggap pintar di sekolah mereka adalah peserta lembaga bimbingan belajar yang laris manis tanjung kimpul karena disokong para orangtua yang tak sayang uang asal anak-anak mereka membawa pulang rapor yang memuaskan. Sekadar contoh, sampai hari ini saya masih mengira Bahasa Indonesia lebih sulit dipelajari daripada Bahasa Inggris. Angka rapor 9 untuk Bahasa Inggris lebih mudah ditemukan daripada angka yang sama untuk Bahasa Indonesia. Namun, seberapa banyak murid yang mendapatkan nilai 9 untuk Bahasa Inggris bisa menggunakan keterampilannya sesudah belajar bertahun-tahun? Tidakkah ada yang salah dalam pembelajarannya? Mereka yang mengikuti kursus selama hanya beberapa bulan justru lebih lancar bercas-cis-cus daripada sebelumnya.

Sayang, anak-anak bangsa yang cerdas pun sudah diakali orang-orang pinter pemegang otoritas pendidikan (menilik praksisnya saat ini, istilah ‘otoritas’ rasanya lebih pas ketimbang stakeholders yang dimaksud Ki Hajar Dewantara). Rejeki untuk diri sendiri dan golongan kadang-kadang memang mengaburkan nilai-nilai luhur kebangsaan kita sendiri. Semakin banyaknya sekolah-sekolah berlabel unggulan, bertaraf nasional pun internasional sangat mencemaskan saya juga. Pendidikan sudah menjadi komoditas dan karenanya masuk pula ke dalam pusaran kapitalisme.

Memlesetkan a contrario kata sakti Adam Malik: “Apa sih yang tidak bisa diatur di Indonesia?” sekolah-sekolah kini berlomba dengan berbagai cara untuk meraih status akreditasi yang memberikan aneka atribut untuk memenangi persaingan yang kian ketat. Makin banyak atribut makin mencorong citra diri. Mereka tak terusik oleh pertanyaan tentang kepercayaan terhadap kemampuan bangsa sendiri dan dalam lingkup yang lebih elementer: kepercayaan terhadap visi dan misi awali institusi maupun kemampuan diri sendiri yang sudah terbukti dan teruji. Lembaga-lembaga pendidikan luar negeri yang mulai kekurangan murid di negeri sendiri semakin cerdas menangguk keuntungan dari bangsa yang gampang diserang demam kalau diiming-imingi. Tak heran, kita masih inlander di negeri sendiri. Wajar bila kekayaan tanah air kita terbagi ribuan konsesi dan rakyat hanya boleh silau oleh gemerlapnya tanpa ikut leluasa menikmati. Kekayaan seni dan budaya kita pun gampang dicuri karena kita justru bangga kalau diakali dan justru gagap bila dipercayai.

Lalu, apa yang diberikan sekolah bagi anak bangsa? Kognitif: target tinggi untuk dicapai dan upaya pencapaiannya diserahkan kepada murid, orangtua, dan pasar lembaga bimbingan belajar, pengajar privat atau pembelajaran tambahan di sekolah (dengan guru yang sama dan ongkos berbeda)? Bagaimana pula dengan ranah afektif dan psikomotorik? Silakan menilainya sendiri.

Saya setuju bahwa pendidikan seutuhnya merupakan tanggung jawab bersama antara orangtua/ masyarakat, sekolah dan pemerintah. Kalau pelanggar peraturan lalu lintas sebagian besar justru masyarakat terpelajar, anak-anak sekolah, mahasiswa, bahkan guru dan atau dosen – misalnya – seberapa besar sesungguhnya peran institusi pendidikan mengembangsuburkan potensi berdisiplin di antara warganya demi ketertiban, kenyamanan dan keselamatan hidup bersama? Siapakah golongan terbesar yang biasa mengabaikan aturan, tak mau antri, nyelonong masuk lift tanpa memberikan jalan keluar terlebih dulu kepada yang di dalam; tidak mau mendulukan orang tua, penyandang cacat, perempuan dan terutama yang sedang hamil, dan sebagainya dan seterusnya? Tampaknya, sekolah pun tak bebas dan justru larut dalam arus survival of the fittest. Ada uang, ada pelayanan dan fasilitas pendidikan yang lebih baik serta lengkap dengan segala dampak positif sekaligus negatifnya.

Murid nglamak terhadap gurunya pun sudah menjadi pemandangan biasa saja. Barangkali tidak adil menyalahkan murid saja dan mengabaikan kontribusi negatif orangtua di rumah dan guru di sekolah. Yang salah dibela, yang benar justru dibikin makin memar. Meredupnya berbagai metafora indah, agung, luhur tentang profesi guru pun tak jarang dilakukan sendiri oleh guru yang tak mampu bersikap profesional karena berbagai alasan maupun tekanan. “Lha lapo ngono lek ngene ae wis iso?”

Program sertifikasi bagi profesi guru semestinya merupakan salah satu langkah efektif untuk membina guru yang mau dan mampu mengembangkan dirinya dalam perubahan zaman. Tapi kalau sekadar administratif, tampaknya program itu takkan ada hasilnya kecuali menambahkan beban ke pundak guru. Sertifikat sudah di tangan, janji penambahan gaji masih terus bersifat ‘akan’.

Maka saya lebih setuju bila program beasiswa diarahkan untuk lebih mendorong guru agar mau dan mampu meningkatkan profesionalitasnya. Membantu seorang siswa tidak sama dengan membantu seorang guru. Investasi nilai keguruan dan keilmuan dalam diri seorang guru bermanfaat bagi kesejahteraan lahir-batin dirinya sendiri sekaligus murid-muridnya. Bila di masa lalu pemuda-pemuda brilian dan berbakat terpilih dikirim belajar ke luar negeri oleh negara untuk kelak kembali membangun bangsa dan negaranya (antara lain dengan menjadi guru, hingga bangsa tetangga pun mau berguru di sini dan kemudian justru menjadi lebih maju), kini profesi guru kurang diminati – antara lain – karena mendengarkan “Hymne Guru” tak lagi mampu bikin hati banyak orang terharu. Mengapa? Mungkin saja karena sebagian besar guru harus berjuang untuk bisa menjadi guru dan tetap berjuang sebagai guru serta terus berjuang … disaksikan murid-murid mereka yang lebih mudah tahu tentang guru-guru ketimbang mengikuti pembelajaran yang mereka berikan di zaman guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan apalagi ilmu.

Anak bangsa, cerdaskah? Ya. Kecuali mereka yang terpaksa nrima ing pandum karena dunia dan impian mereka diberangus otoritas orangtua, guru dan sekolah serta pemerintah. Anak bangsa, cerdaskah? Saya masih berharap suatu saat nanti akan berseru: YA tatkala semakin banyak anak bangsa didampingi dan dilayani secara cerdas oleh orang-orang yang cerdas pula!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: