• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,793,833 klik
  • Since 2009

    free counters

Kesan & Pesan Alumni

Kutipan dari buku “Sukses Alumni Dempo” (1996)

“Ketika saya mendapat tugas belajar di Sekolah Tinggi Teknik di Aachen Jerman (sesekolah dan sezaman dengan B.J. Habibie yang belajar Ilmu Konstruksi Ringan alias Pesawat Terbang), dalam formulir resmi saya harus mengisi: saya tamatan SMA mana, persis namanya dan tahunnya. Langsung saya diterima tanpa ujian masuk. Ternyata intel Jerman lewat Atase Kebudayaannya di Jakarta sudah punya daftar SMA Negeri maupun Swasta di seluruh Indonesia yang mereka nilai bermutu atau belum. SMA Dempo ternyata masuk daftar yang bermutu. Nah, maka dari itu semua dan segala ada hikmahnya. Seandainya saya dulu ikut ujian darurat SMA Magelang, mungkin belum tentu saya bisa masuk begitu saja ke perguruan tinggi mereka. Jadi, sekali lagi: Terima Kasih kepadamu SMA Dempo. Dan jagalah mutu serta kualitas kalian!” ( Romo Y.B. Mangunwijaya, Pr. – Dempoer 1951 )

“Alumni St.Albertus jangan hanya punya kepandaian otak untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga punya kepekaan sosial dan cinta sejati kepada sesama. … Semoga St.Albertus masih berkarya dan tetap mendidik para muda-mudi kita; berhasil meraih prestasi dalam penanaman ilmu, tetapi lebih-lebih dalam mendidik mereka menjadi ‘manusia yang utuh’ seperti yang dicita-citakan masyarakat Indonesia dan agama.” ( W. Harjadi – Dempoer 1949 )

“Selama hampir 30 tahun memimpin sekolah ini, saya menjadikan pengalaman sebagai guru yang terbaik dalam menangani para siswa yang bermasalah dan nakal. Saya juga selalu mengembangkan pemikiran yang positif, yaitu bahwa tidak ada siswa yang bodoh, melainkan kita sebagai guru kurang mampu memotivasi. Dalam hal ini kita cenderung mengatakan ‘sudah’ berbuat dan ‘banyak’ untuk membantu, padahal belum secukupnya. Sesungguhnya tidak ada masalah atau kenakalan siswa yang tidak bisa ditanggulangi, asal kita mau dan mampu mengembangkan kerjasama yang baik dengan semua pihak, termasuk siswa yang nakal itu. Sebab, selain membanggakan, ‘guru-ratu wong atuwa karo’ juga memberikan tanggung jawab yang tidak ringan, terlebih karena kirata basa guru sebagai yang digugu lan ditiru tidak mungkin dilepaskan dari jabatan dan predikat guru/ pendidik.” ( Pater E. Siswanto, O.Carm. – Dempoer 1951 )

“Dempo tidak punya SMP. Sementara beberapa sekolah yang punya SMP sendiri was-was akan kekurangan murid, Dempo yang tidak punya SMP setiap tahun dengan sangat terpaksa menolak banyak calon siswa. Apa pesonanya hingga banyak siswa ingin masuk Dempo? Apakah nama besar Dempo? Menurut hemat saya bukan hanya itu. Yang paling menarik adalah kegiatan di Dempo yang melengkapi pendidikan intelek. Pendidikan di Dempo bukan sekadar pendidikan otak, melainkan pembentukan manusia yang utuh.” ( J. Haryanto – Dempoer 1966 )

“I believe that students should be given opportunity and guidance, and encouraged to do their own observation and/ or application of the things they have learned in class to relate these with what they see in the real world. It is very difficult now for teachers to be the only source of knowledge for the students, because, one, several hours a week are surely not enough to transfer what they have, and second, science and technology have developed so fast and access to information is also open wide. Teachers do not need Masters of Know-It-All, but rather their main task now is providing the key or showing the students the way to science itself, and let students find their own ways.” ( Aylanda Hidayati – Dempoer 1984 )

“In remembering what I had learned, the things I had done, and all the friends and teachers I had met, I realized that my high school education had given me the opportunity to search out the unknown and reach for my dreams. This is what truly made my high school very special to me – giving students the resources necessary to learn for themselves what is true.” ( Prof.Dr. Anthony H.L. Tjan, D.D.S., F.A.C.D., F.I.C.D., F.A.G.D., F.A.D.I. – Dempoer 1950 )

“Yang saya ingat dari pendidikan di St.Albertus ialah ketatnya tata tertib dan disiplin.” ( Pater J.C.D. Poespowardojo, O.Carm. – Dempoer 1951 )

“Setialah pada sumbermu, barangsiapa tidak setia pada sumbernya dia akan mati kekeringan. Sumber kita adalah berturut-turut: orangtua, guru dan lembaga pendidikan, masyarakat di sekeliling kita, bangsa dan negara Republik Indonesia, dan Tuhan yang mahaesa. Tempa dan wujudkan integritas diri kita yang memenuhi kriteria: watak (iman dan akhlak), wira (sikap satria), widya (tidak berhenti belajar), waspada (arif dan bijak), serta wujud (sehat), tanggap, tanggon dan trengginas. Dalam mewujudkan suatu perubahan untuk perbaikan, mulailah pada diri pribadimu dan kembangkan di lingkungan yang terjangkau otoritasmu. Dalam menghadapi kekuatan yang melebih kemampuanmu pada saat itu, untuk sementara ikut arus tapi tidak hanyut. Hidup itu perjuangan, masalahnya kita berjuang untuk berjuang atau berjuang untuk tidak berjuang.” ( Brigjen Pol (Purn) Drs. Sonny Harsono D., M.B.A. – Dempoer 1964 )

“When I was graduated in Germany, I was the second best in my class overall. I was the only foreigner among all German born students. On math, I was number one. And that says a lot about St.Albertus.” ( Vincent J. Lee – Dempoer 1968 )

“Being a nicely-weathered small town, Malang has befitted its title as a ‘town of students’. Nowadays people can find a lot of nice large good school, colleges or universities there. But in the old days there were only a few, and among others, Dempo was one of the best.” ( Rini Singgih – Dempoer 1969 )

“… It was after finishing the school that I felt so great and so cool to be an Ex-Dempo. I was active in Ikesa when I was in the university. I remembered picking up the juniors who were to enter my university at three a.m. in the morning, took them to the hotel, gave them some information and at 06:30 got some breakfast to be delivered to the hotels. It was so great. I am proud that we ex-Dempo have an extraordinary tie. And I think it is because Dempo gave us not only the knowledge of science but also the true meaning of socialization and, most important of all, the basics of life. And so, with all those basics, to my amazement, from a mediocre student in high school whose only best skill was to cheat, I finished my university with the highest GPA ever reached.” ( Lawrence A.B. Tjandrasjahan – Dempoer )

“Taraf pendidikan di SMAK St.Albertus adalah sangat tinggi dibandingkan dengan pendidikan SMA di Amerika. Tetapi saya lihat banyak sekali orang Indonesia di sini tidak memiliki komitmen. Berani mulai, tetapi kalau ada rugi sedikit atau bahaya sedikit lalu lari meninggalkan teman. Sifat ini sangat merugikan dan tidak menolong di dunia internasional. Jika seseorang mengambil keputusan dan berjanji sesuatu, biarpun rugi, janji itu tetap harus dipenuhi. Di sinilah saya rasa pendidikan agama katolik perlu diperkuat. Tidak hanya dengan filsafat dan katekismus, tetapi dengan contoh-teladan para santo/ santa, khususnya para martir. Para siswa SMAK St.Albertus hendaknya mengerti bahwa hidup adalah sangat singkat dan kehidupan di dunia kekal adalah tujuan utama, bukan kekayaan maupun ketenaran. Taraf pendidikan teori di SMAK St.Albertus sangat tinggi, tetapi penerapannya (application) terlalu minimal sehingga amatlah sukar bagi para siswa untuk mempraktikkannya di dunia realistik.” ( Jensen I. Kennedy – Dempoer 1968 )

“Mengapa St.Albertus atau SMA Dempo memiliki nama besar dan selalu dibanggakan oleh setiap alumnusnya? Bukankah kurikulumnya sama dengan sekolah-sekolah lainnya? Apa yang membuatnya menjadi khas? Menurut saya, yang membuat suatu sekolah berbeda dengan yang lainnya adalah ‘tradisi’ yang diciptakan dan dipelihara oleh pengelola sekolah itu. Orang sering menyebutnya sebagai ‘kurikulum tersembunyi’ (hidden curriculum).” ( Dr. Paulus Wirutomo – Dempoer 1967 )

“Di Jakarta, tempat saya tinggal, nama SMAK St.Albertus cukup dikenal, dan sekolah ini diasosiasikan dengan keunggulan atau excellence. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena di Jakarta terdapat sejumlah keluarannya yang merupakan orang-orang sukses di bidangnya. Di antaranya terdapat (bekas) tokoh-tokoh pemerintahan seperti Prof. Widjojo Nitisastro, Rachmat Saleh dan Jenderal Rudini.” ( Hadi Soesastro – Dempoer 1963 )

“Ahli psikologi menyatakan bahwa pada usia remaja, kita sedang mencari identitas, penuh gejolak, penuh energi, yang kalau tidak tersalur pada jalur yang benar, hasilnya bisa berantakan. Maka masa SMA boleh dikatakan sebagai bagian utama dari fondasi kehidupan selanjutnya. Tidak keliru bila timbul ide pendirian SMA-SMA Unggulan seperti Taruna Nusantara dan lain-lain untuk mempersiapkan generasi unggul di masa mendatang. Jauh sebelum rame-rame membuat sekolah unggulan itu, kita boleh bangga, karena sekolah kita menurut hemat saya adalah sekolah unggulan sejak zaman Londo. Hasilnya sudah nyata. Sejumlah menteri, gubernur, walikota, jenderal, ekonom, manajer profesional, pastor, wartawan, politikus, pembayar pajak tertinggi, telah lahir dari Dempo! Tidak bermaksud memuji diri sendiri, tetapi kita bangga pernah menjadi arek Dempo. Tentu yang jadi orang biasa juga banyak, tapi saya yakin tidak satu pun yang menyesal pernah jadi arek Dempo.” ( Bambang Yuwono – Dempoer 1973 )

“Jadi kalau harus disimpulkan pendidikan paling berharga apa yang saya terima dari sekolah ini, jawabnya jelas: menanamkan rasa cinta lingkungan dan kemanusiaan.” ( C.A. Eka Budianta – Dempoer 1974 )

“Saya suka Dempo. Karena tampaknya dia masih percaya pada tujuan pendidikan yang dikatakan oleh Drijarkara: Memanusiakan manusia!” ( Petrus Rudarto – Dempoer 1976 )

“Itulah akal sehat, nalar lurus dan cara berpikir jernih serta runtut yang dulu pernah saya peroleh sebagai bekal ketika menjadi siswa Dempo.” ( Joss Wibisono – Dempoer 1980 )

“Sejarah terus bergerak. Ia membuat catatannya sendiri. Beberapa kali saya merasa kelelahan. Di saat-saat seperti itu saya selalu tergoda untuk beralih profesi, bekerja dengan menggunakan titel saya. Tapi semangat yang ditunjukkan para wartawan muda seringkali menyingkirkan rasa ego saya. Dengan tertatih-tatih saya terus mencoba menekuni idealisme saya. Saya tak tahu mengapa bisa terus bertahan hingga sekarang. Setiap kali saya berupaya menelusuri penyebabnya, setiap kali pula saya ingat Dempo dulu. Saya tidak tahu apakah ini sekadar nostalgia atau perasaan melankolik. Atau cuma sebuah harapan bahwa Dempo adalah semacam ‘sekolah Muntilan’-nya Romo van Lith, SJ. Sebuah sekolah yang bukan hanya berisi kurikulum, tapi juga tempat terjadinya ‘pencerahan’ kepada manusia-manusia muda untuk sadar pada nasib bangsanya.” ( Yosep Adi Prasetyo – Dempoer 1981 )

“Tapi pendidikan secara keseluruhan selama di SMAK Dempo membuat saya lebih mudah terjun di masyarakat.” ( Yunani Luciana – Dempoer 1981 )

“Saya yakin akan terus bisa melangkahkan kaki saya, sebab bisikan itu kadung melekat dan menjadi jurus hidup saya. Mau tahu apa bisikan Sang Empu? Ini dia: ‘… not the first but the best …’ Saya tak akan bilang lagi: ‘Ah, … teooori!’ sebab saya yakin bisikan itulah yang membuat Dempo tetap dan semakin tegar, melahirkan lagi ribuan cantrik yang semakin cemerlang.” ( Herry Tjahjono – Dempoer 1981 )

“Saya mempunyai kenangan manis cukup banyak mengenai Bapak/ Ibu Guru. Yang pertama, Bapak/ Ibu Guru di Dempo berkualitas, baik disiplin, mental dan intelek. Saya berkesimpulan – tentunya setelah lulus – bahwa sebenarnya siswa Dempo rasanya tidak perlu ikut kursus-kursus tambahan pelajaran di lembaga-lembaga bimbingan di luar sekolah.” ( Yuven Sugiarno – Dempoer 1985 )

“Menurut saya, inilah belajar. Bukan hanya soal bisa ilmu dalam arti pelajaran sekolah saja, tetapi juga bisa belajar hidup, bertahan hidup, tak hanyut oleh persaingan, tak menghamba pada ‘kepandaian’ sempit tanpa membina hati, belajar menerima keberhasilan dan kegagalan. Jadi rupanya bersekolah itu bukan soal menjadikan diri siap pakai, tetapi siap mandiri. Kalau siap pakai, tanpa membina diri menjadi lebih manusiawi, apa bedanya dengan robot pandai tak berhati?” ( Pater P. Teguh Kusbiantoro, O.Carm. – Dempoer 1986 )

“Dengan latar belakang kebutuhan sebagai anak muda yang sedang mencari identitas diri, saya kok merasa bahwa SMA Dempo memberikan kemungkinan dan ruang bagi saya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.” ( Pater Antonius Widyarsono, S.J. – Dempoer 1985 )

“Hari ini, St.Albertus, aku mau berterima kasih; darimu kutemukan Kehendak Allah atas diriku, kukenali jalan hidup yang mesti kulewati. Bagiku Dempo dan orang-orangnya adalah tangan-tangan Allah yang membina dan menolongku menjadi wanita – kristiani – dan yang mengantarku menjadi Karmelit.” ( Sr. Merry Teresa Sri Rejeki, H.Carm. – Dempoer 1985 )

“Semua hal yang telah aku dapatkan tidak terlepas dari didikan dan pengajaran dari Romo Siswanto, para guru maupun karyawan SMA Dempo lainnya. Romo Sis benar-benar menyayangi para muridnya, bahkan selepas dari Dempo pun perhatiannya tidak berkurang. Tidak segan-segan beliau membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh mantan anak didiknya.” ( Dr. Hendra Gunawan – Dempoer 1988 )

“Sewaktu saya belajar di SMA Dempo, bidang komputer, eksakta serta karya tulis ilmiah paling sering menyumbangkan trofi dan piala untuk sekolah. Akan tetapi saya melihat kebanyakan siswa Dempo kurang berani berbicara sehingga dalam lomba biasanya jatuh ketika mempresentasikan makalah/ hasil penelitiannya. Mungkin dengan penambahan jam pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum SMU 1994, kekurangan ini bisa diatasi. Dan alangkah baiknya bila di Dempo juga ada kelompok-kelompok minat di bidang sastra, sosiologi, budaya, ekonomi dan sebagainya, sehingga manakala ada lomba tak perlu lagi mengadakan penelitian mulai dari nol.” ( Romo F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr. – Dempoer 1994 )

“Prestasi yang pernah saya capai tidak terlepas dari gemblengan dan dukungan yang saya terima selama di SMA. Berkat tuntunan guru-gurulah saya bisa melewati EBTANAS dengan lancar, bahkan NEM saya di luar dugaan (64,10). Karena dukungan Romo dan para guru, saya bisa melewati seleksi Tim Olimpiade Fisika Indonesia 1995 sampai ke tingkat terakhir (nasional), dan akhirnya justru terpilih mewakili negara kita di even International Olympiad in Informatics VII di Belanda dan bisa meraih sebuah medali perak. Ceritanya cukup panjang dan seandainya waktu itu pihak sekolah tidak banyak terlibat, barangkali semuanya itu tidak pernah ada.” ( Wirawan Purwanto – Dempoer 1995 )

“Pesan saya bagi SMAK St.Albertus tidak lain dan tidak bukan adalah permintaan untuk pengembangan prestasi. Sangat sayang kalau SMA/ SMU yang kita cintai bersama harus tenggelam namanya di antara SMA-SMA lain. Kita harus membudidayakan kebiasaan menjadi pemenang, bukan terus-terusan jadi bebek. Dengan demikian diharapkan akan muncul bibit-bibit unggul berkualitas tinggi, yang akhirnya mampu mengangkat nama SMAK St.Albertus itu sendiri. Dari pengganti/ suksesor Romo E. Siswanto, saya harapkan kemampuan untuk meneruskan semua yang beliau perjuangkan selama puluhan tahun, dan kalau bisa meningkatkan terus yang sudah ada.” ( Franciscus B. ‘Krucil’ Handiono – Dempoer 1996 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: