• warn risa

    Tautan ke beberapa berkas yang terlampir di sini - untuk sementara - dinonaktifkan. Harap maklum.

  • Asih-Asah-Asuh

    hallo

    The meaningful life can result only from the experience of love and this implies commitment and dedication to another.

    We are each gifted with an enormous but unique potential. However, in our rendezvous with destiny, we have to take chances, run risks, get rejected and be hurt, be knock down and get back up on our feet.

    The only real failure is the one from which we learn nothing.

    Goodfinders are those who look for and find what is good in themselves, in others, and in all situations of life.

    Love person, use things! This is the truth that will set us free.

  • "Anda belum hidup sukses hari ini kecuali telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalas budi Anda." (John Bunyan)

  • Arsip

  • Kategori

  • Ublemkalen

    Juli 2008
    S S R K J S M
        Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Ublemeta

  • Ublemstat

    • 1,787,671 klik
  • Since 2009

    free counters

Makna Waktu

Kenyataan mengandung makna waktu. Manusia serba fana, berada dalam lingkup waktu, dan demikian pula segala yang ada. Segala sesuatu ada waktunya. Lebih kurang, beginilah waktu menjelma dalam seluruh aspek kenyataan:

Waktu agama. Waktu menjelma dalam kehidupan beragama. Adzan maghrib, bunyi lonceng gereja adalah pertanda waktu untuk beribadah. Masih banyakkah orangtua yang ngoprak-oprak anaknya untuk beribadah bersama?

Waktu ethis. Waktu juga menjelma dalam perbuatan ethis. Pertanyaan “Kapan kalian menikah?” biasa diajukan kepada sepasang manusia yang berpacaran. Bersama si bapak yang menegur sepasang remaja yang berpelukan di atas sepeda motor di tempat parkir dekat rumahnya (Surat Pembaca Kompas, 30/12/07), saya tersenyum kecut membaca jawaban si remaja putra atas teguran si bapak yang seolah kurang pekerjaan. Masih terngiang pula ‘prediksi’ saya saat bergaya futuris ketika mendampingi rekan-rekan muda saya: “Kita akan segera terenggut, terseret, tenggelam dalam arus deras budaya asing!” dan ketika keluar dari kelas saya melihat seorang siswi nyablek punggung seorang guru lelaki sambil mencibir: “Gak genah blas wong iki!”

Waktu yuridis. Waktu menjelma dalam aspek hukum. Masa berlakunya suatu perjanjian dibatasi waktu tertentu. Bahkan penetapan “… untuk batas waktu yang tidak ditentukan” pun termasuk di dalamnya. Nyerempet dikit, saya menyayangkan kenyataan bahwa di era reformasi pun hukum tak cukup ditegakkan oleh para penjaga adat bangsa yang konon adiluhur. Padahal, Ratu Sima pun sudah memberikan teladan: menghukum anggota keluarganya yang sengaja melanggar hukum karena merasa superior terhadap rakyat jelata.

Waktu aesthetis. Waktu menjelma dalam kenyataan keindahan. Kenangan indah akan masa lalu mudah muncul ketika kita mendengarkan musik ever green. Sebagai salah satu local genius bangsa kita, Borobudur masih menakjubkan kendati sering diiringi ‘tapi …’ Demikian pula batik, musik kroncong dan aneka seni budaya bangsa kita.

Waktu ekonomis. Waktu menjelma dalam kenyataan ekonomis. Bunga bank dihitung pertahun/ bulan/ hari. Dalam rentang waktu panjang, fluktuasi harga saham tetap bisa menenteramkan investor yang nggak jantungan.

Waktu sosial. Waktu juga menjelma dalam aspek kegiatan sosial. Berusaha selalu tepat waktu (in puncto) dalam memenuhi janji atau kewajiban akan membebaskan kita dari rasa bersalah atau wanprestatie. Terasa benar fatwa Immanuel Kant: “Kewajiban adalah ikatan yang membebaskan.”

Waktu simbolis. Waktu dinyatakan dalam ungkapan lampau (kelampauan, kemarin), kini (kekinian, sekarang), akan (keakanan, besok). Bagi pragmatis, dalam putaran roda waktu, yang abadi dan diabdi adalah present moment. Yang lalu sudah berlalu, yang akan datang belum jadi kenyataan.

Waktu historis. Jelas bahwa sejarah berlangsung dalam rentangan waktu. Tanggal 17 Agustus 1945 adalah saat terjadinya Proklamasi Kemerdekaan RI. Demikianlah sejarah diajarkan di sekolah. Melulu kronologis, sehingga jarang menghasilkan manfaat sebagaimana mestinya.

Waktu logis. Kegiatan penalaran membutuhkan waktu. Rentangannya tak sama bagi semua orang. Tak masuk akal bahwa jarak 100 meter dapat ditempuh pelari cepat di bawah 10 detik sebelum benar-benar sudah menjadi rekor dunia (dan yang bersih dari obat perangsang);

Waktu psikis. Waktu menjelma dalam jiwa manusia. Ketika meyaksikan konser Beyonce yang menggairahkan, waktu terasa sangat cepat berlalu. Bandingkan dengan mendengarkan khotbah yang berdurasi hanya sepersepuluh waktu konser Beyonce.

Waktu biotis. Kehidupan berlangsung dalam dimensi kewaktuan. Manusia lahir, mengalami masa kanak-kanak, masa remaja, masa muda, masa dewasa, masa tua dalam rentang waktu tertentu sebelum mati.

Waktu gerakan. Sebutir peluru yang meluncur dari laras senapan membutuhkan waktu untuk mencapai perhentian akhirnya. Entah tepat sasarannya atau meleset. Untuk melaksanakan konsolidasi sebuah organisasi terbukti dibutuhkan waktu yang panjaaaaang … Tercapai atau tidak blom ketahuan.

Waktu ruang. Manusia hidup dibatasi ruang dan waktu. Untuk berjalan dari satu sudut kamar ke sudut lain dibutuhkan waktu. Mumpung masih belum kebanjiran, warga kota besar berbondong-bondong menerobos hujan deras dan kemacetan lalu lintas, tak mau melewatkan pesta perayaan menyambut tahun baru. Sedangkan di banyak tempat lain ribuan orang terpaksa menggigil kedinginan dan kelaparan di tempat pengungsian yang ala kadarnya.

Waktu bilangan. Wasit tinju menghitung 1-2-3 … ketika salah seorang petinju terpukul jatuh. Hitungan sang wasit membutuhkan waktu, demikian pula petinju yang knocked down membutuhkan waktu untuk bisa bangkit lagi atau menyerah KO. Saat beramai-ramai membeo count-down di tengah malam tahun baru, barangkali kita justru mengabaikan Sang Waktu yang belum pernah berhenti mencoba membangkitkan kesadaran kita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: